banner

Petani Sayur Merugi

darikita 30 Juli 2015
MIRSHAL/RIAU POS/JP GROUP MELIMPAH: Harga tomat semakin menurun seiring dengan adanya panen raya. Harga yang murah menyebabkan petani merugi.
vertical banner
MIRSHAL/RIAU POS/JP GROUP  MELIMPAH: Harga tomat semakin menurun seiring dengan adanya panen raya. Harga yang murah menyebabkan petani merugi.
MIRSHAL/RIAU POS/JP GROUP
MELIMPAH: Harga tomat semakin menurun seiring dengan adanya panen raya. Harga yang murah menyebabkan petani merugi.
Harga Jual ke Pasar Terbilang Murah

darikita.com, LEMBANG – Sepanjang Juni-Juli 2015, para petani sayuran di Desa Cibodas Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat merugi lantaran nilai jual sayuran selama dua bulan tersebut murah. Hal ini karena pada Juni-Juli bersamaan dengan kebutuhan masyarakat menghadapi perayaan Idul Fitri dan juga kebutuhan masuknya anak ke sekolah.

Ketua Kelompok Mekar Tani Jaya Cibodas, Doyo Mulyo Iskandar menyatakan, selama dua bulan terakhir, harga-harga sayuran yang dijual dari para petani terbilang murah. Selain faktor, menghadapi Idul Fitri dan bersamaan masuk sekolah yang mengakibatkan ibu rumah tangga mengurangi aktivitas berbelanja. Hal lainnya yakni kurangnya keberpihakan pemerintah pusat dalam memperhatikan keberadaan petani sayuran.

”Memang dua bulan terakhir ini banyak momentum seperti Idul Fitri dan orang tua yang fokus pada sekolah anak, sehingga daya beli masyarakat kurang. Namun di sisi lain, produksi sayuran justru sedang melimpah. Tapi, yang paling mendasar faktor ketidakberpihakan pemerintah pusat kepada petani. Hal lainnya terkait kondisi ekonomi yang juga sedang ambruk berdampak pada nilai jual sayuran,” sesal Doyo saat dijumpai wartawan di kediamannya kemarin (28/7).

Doyo menyebutkan, sejumlah harga sayuran yang dikelola oleh para kelompok tani di wilayahnya semakin terpuruk. Ia menyebutkan, untuk harga sayuran sawi saat ini berkisar Rp1.000 disusul harga tomat Rp700 per kilogram, sayur bayam jepang Rp1.000, sayuran romen Rp1.000. ”Padahal sebelumnya untuk harga normal tomat saja mencapai Rp 3.500, dan harga sawi Rp3.000. Dengan nilai jual yang murah seperti saat ini, membuat para petani merugi. Jika dihitung untuk keseluruhan petani di wilayah Lembang bisa mencapai Rp100 miliar angka kerugiannya selama dua bulan terakhir ini. Lahan pertanian untuk di wilayah Lembang saja mencapai 800 hektare,” paparnya.

Dia menyebutkan, di wilayahnya produksi tomat bisa mencapai 50 ton per hari, sayuran romen mampu memproduksi 5 ton per hari hingga sayuran bunga kol 50 ton per hari.

Banyaknya hasil produksi sayuran di Desa Cibodas, lanjut dia, masih terselamatkan dengan memasok ke sejumlah pasar modern. Menurutnya, hasil pertanian sayuran yang dikelolanya hampir 70 persen dipasok ke setiap pasar modern. ”Untungnya kita dibantu oleh pasar modern untuk memasok hasil tanian kita,” ungkapnya.

Hal senada diungkapkan oleh seorang petani sayuran di Desa Cibodas, Apih Anut, 52. Menurutnya, harga sayuran yang nilainya semakin murah berdampak pada pendapatan para petani. ”Lihat saja harga tomat menjadi Rp 600-700, ini harga yang sangat murah. Kalau saya lihat ini akibat dari faktor ekonomi yang belum stabil sehingga daya beli masyarakat menurun,” terangnya.

Hasil tanian yang ia kelola, biasanya dikirim ke beberapa wilayah seperti Tangerang, Bekasi, Jakarta dan Bandung. Sejauh ini, produksi sayuran cukup banyak namun tidak diimbangi dengan harga yang sesuai dengan keinginan para petani. ”Kita harapkan harga bisa kembali normal seperti biasanya. Mudah-mudahan ekonomi kita juga bisa stabil, sehingga daya beli masyarakat bisa normal kembali,” pungkasnya. (drx/fik)

Untuk Anda
Terbaru