LOMBOK – Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla mengakui kerusakan pasca bencana gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada, Minggu (5/8) pukul 18.34 waktu Indonesia Tengah berhasil merusak hampir semua infrastruktur di disana.
Menurut Wapres JK, Presiden Joko Widodo akan melakukan kunjungan terlebih dahulu ke NTB dalam waktu cepat, dan setelah itu dirinya kembali turun untuk melakukan rehabilitasi pasca gempat tersebut.
”Tentu Presiden dulu yang biasanya kesana. Nanti Insya Allah pada saat rehabilitasi, yang paling penting saat ini tanggap darurat, habis itu rehabilitasi kemudian rekonstruksi. Kerena menurut Gubernur tadi pagi, di sekitar lombok utara itu 70 persen bangunan rusak,” kata Wapres JK kepada awak media, Senin (6/8).
Dikatakan orang nomor dua di bangsa ini, Pemerintah lewat Palang Merah Indonesia (PMI) sudah berada di Lombok sejak bencana gempa pertama beberapa waktu lalu. Bahkan, mereka saat ini lagi melakukan evakuasi korban-korban yang terkena dampak bencana gempa tersebut.
”PMI juga aktif di sana, banyak sekali menolong orang evakuasi, mendirikan pos-pos kesehatan PMI dan juga kita kirim. Saya berbicara dengan Pak Gubernur tadi siang, kebutuhan dasarnya antara lain air, jadi kita kirim tangki air ke sana,” akuinya.
”Ya kita kirim paket-paket, kita kirim paket-paket pertolongan ke sana,” tambahnya.
Tokoh Indonesia Timur itu juga mengakui, Pemerintah saat ini sedang menyiapkan berbagai langkah untuk melakukan rehabilitasi terhadap korban-korban bencana gempa, serta mengintruksikan BNPB dan TNI untuk tetap berada di sana.
”Kita semua mengucapkan bela sungkawa, simpati kepada korban bencana alam gempa di NTB, khususnya di Lombok Utara, semoga arwahnya diterim Allah SWT. Kemudian Pemerintah berjanji untuk segera merehabilitasi semua itu, tetapi terlebih dahulu ada tanggap darurat pertama, mungkin dua tiga minggu untuk kita semua BNPB itu juga TNI,” jelasnya.
Data sementara yang berhasil dihimpun Posko BNPB mencatat sebanyak 98 orang meninggal dunia, 236 orang luka-luka, ribuan rumah rusak dan pengungsi mencapai ribuan jiwa yang tersebar di berbagai lokasi.
”Diperkirakan jumlah korban dan kerusakan akibat dampak gempa akan terus bertambah. Mengingat belum semua daerah terdampak gempa dapat dijangkau petugas Tim SAR gabungan. Juga terdapat dugaan adanya korban yang tertimbun bangunan yang roboh belum dapat dievakuasi oleh petugas,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran persnya.
Dikatakan dia, Tim SAR Gabungan terus melakukan penyisiaran daerah-daerah terdampak gempa untuk melakukan evakuasi, penyelamatan dan pertolongan kepada korban. ”Pendataan masih terus dilakukan oleh aparat,” tambahnya.
Korban meninggal dunia paling banyak terdapat di Kabupaten Lombok Utara karena wilayah inilah yang parah terkena dampak gempa. Dari 98 orang meningggal dunia akibat gempa, terdapat di Kabupaten Lombok Utara 72 orang, Lombok Barat 16 orang, Kota Mataram 4 orang, Lombok Timur 2 orang, Lombok Tengah 2 orang, dan Kota Denpasar 2 orang.
”Sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa bangunan yang roboh. Semua korban meninggal dunia adalah warga negara Indonesia. Belum ada laporan wisatawan asing yang menjadi korban akibat gempa,” tambahnya.
Sementara itu korban yang tertimpa masjid roboh di Desa Lading-Lading Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara baru bisa dioptimalkan setelah datangnya alat berat sekira pukul 15.00 WIB, kemarin (6/8).
”Satu alat berat digunakan untuk menghancurkan atap dan dinding masjid yang menimpa korban,” sambung Sutopo.
Meski demikian, Sutopo belum dapat memprediksi berapa jumlah korban yang tertimpa puing-puing masjid. Korban saat itu sedang salat Isya berjamaah tiba-tiba diguncang gempa dengan kekuatan 7 SR sehingga bangunan masjid roboh dan langsung menimpa jamaah di bawahnya.
Begitupun dengan jumalh pengungsi BNPB belum bisa memastikan jumlahnya berapa. Mereka hanya memprakirakan mencapai ribuan pengungsi yang tersebar di berbagai lokasi.
Sejumlah bantuan yang datang pun belum dapat didistribusikan merata. Selain terbatasnya jumlah logistik yang ada, pengungsi juga tersebar di berbagai lokasi sehingga menyulitkan pembagian bantuan, khususnya di Kabupaten Lombok Utara.
Sementara itu evakuasi terdapat wisatawan yang ada di Gili Terawangan, Gili Air dan Meno masih dilakukan hingga tadi malam. Tidak ada data resmi berapa jumlah wisatawan, baik wisatawan asing maupun domestik yang berada di di Gili Terawangan, Gili Air dan Meno. ”Perkiraan awal terdapat sekitar 1.000 orang. Ternyata jumlahnya lebih banyak. Tim SAR gabungan yang dipimpin Basarnas telah berhasil mengevakuasi sebanyak 2.700 orang wisatawan asing dan domestik dari ketiga pulau tersebut pukul 15.00 WIB. Wisatawan dievakuasi ke Pelabuhan Bangsal Kabupaten Lombok Utara menggunakan 9 kapal,” ungkapnya. Hingga berita ini disusun, ribuan wisatawan dan karyawan hotel masih dalam proses evakuasi keluar dari ketiga pulau tersebut.
”Evakuasi wisatawan adalah inisiatif dari wisatawan. Mereka trauma dengan guncangan gempa 7 SR yang diikuti peringatan dini tsunami. Mereka juga khawatir adanya gempa susulan yang lebih besar diikuti tsunami karena banyak beredar informasi yang menyesatkan (hoax) bahwa akan terjadi gempa dengan kekuatan 7,5 SR yang diikuti tsunami di Lombok nanti malam (semalam, Red),”.
Hoax tersebut beredar luas di wilayah Lombok sehingga membuat warga dan wisatawan takut. ”Informasi tersebut tidak benar dan menyesatkan. Gempa tidak dapat diprediksi secara pasti, berapa magnitudenya, dimana, dan kapan secara pasti,” tandas Sutopo.
Gempa susulan dari gempa 7 SR pasti terjadi tetapi dengan intensitas yang lebih kecil. Hingga pukul 17.00 kemarin (6/8) telah terjadi gempa susulan sebanyak 176 kali gempa dengan intensitas kecil.
BNPB juga mengimbau masyarakat dan wisatawan yang saat ini ada di NTB dan Bali untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaannya. ”Jangan terpancing pada informasi-informasi yang menyesatkan,” pungkasnya mengingatkan. (rba/fin/ign)













