JAKARTA – Potensi masyarakat yang tidak memilih atau akrab disebut dengan golongan putih (golput) pada Pemilu 2019 diprediksi masih akan tinggi. Mereka yang tidak menggunakan haknya untuk memilih diprediksi akan didominasi oleh pemilih pemula.
Lanjut Emrus mengatakan, masyarakat yang golput akan didominasi oleh pemilihan calon legislatif. Baik tingkat kabupaten/kota, provinsi sampai DPR RI. Bukan tanpa alasan, malasnya masyarakat memiloh calon legislative dipengaruhi beberapa sebab.
”Salah satunya ketidakpercayaan para pemilih terhadap calon. Termasuk kinerja di parlemen juga banyak dipertanyakan,” tegas Emrus.
”Wacana pemilihan pileg tidak tampak ke permukaan. Sejumlah media baik nasional maupun lokal juga terfokus kepada pilpres. Sedangkan kampanye yang dilakukan oleh caleg hanya bersifat door to door. Jarang dari mereka yang menggunakan media massa seabgai alat kampanye,” terangnya.
”Untuk pemilih presiden, tingkat partsipasi publik masih tinggi. Mereka sudah menunjukkan perbedaan. Publik akan benondong-bondong menentukan suaranya, terang Emrus. Menurutnya, kedua capres baik Jokowi maupun prabowo sudah memiliki pemilih masing-masing. Terlebih, masing-masing memiliki ciri khas tersendiri,” imbuhnya kembali.
Emrus memprediksi, untuk tingkat golput pada pilpres hanya berkisar di bawah 20 persen dari total keseluruhan pemilih. Berbeda dengan pileg, menurut Emrus kepercayaan publik juga sudah tergerus. Terlebih mencuatnya sejumlah nama caleg yang pernah terjerat kasus korupsi.
”Hal ini dinilai mempunyai dampak kepada masyarakat. Mereka sudah antipasti kepada caleg sehingga enggan memilih,” tandasnya.
Terpisah, Pengamat Politik Ujang Komarudin mengatakan, mereka yang berpotensi golput adalah swing voters. Atau mereka yang belum menentukan pilihannya.
”Mereka bingung kepada caleg yang akan dipilih. Selain tidak mengenal dekat, banyak program yang tidak tersampaikan kepada pemilih,” terang Akademisi asal Universitas Al-Azhar Indonesia ini kepada Fajar Indonesia Network.
Berbeda dengan pilpres, dari 2014 lalu, Ujang menuturkan masyarakat sudah terpolarisasi dua kubu. Yakni jokowi dan prabowo. Dan kali ini rematch. ”Saat ini sudah terpolarisasi. Ada pemilih yang loyal kepada dua kubu. Sehingga angka golput untuk pilpres sangat kecil,” kata Ujang
Ujang memprediksi, angka golput untuk swing voters cukup tinggi. Bisa mencapai 30 persen. Atau tidak jauh berbeda dengan angka golput pada pemilu 2014.
Sebelumnya, Komisioner KPU Viryan Azis mengatakan, jika pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya dinilai tidak keren. Era saat ini sudah sangat terbuka. Sehingga tidak ada paksaan untuk memilih calon pemimpin. Berbeda dengan zaman orde baru.
”Golput itu hak, tapi sudah nggak keren. Kerennya itu golput di orde baru.Masyarakat rugi jika tak menggunakan hak pilih. Memilih kan lima tahun sekali. Golput rugi. Kalau kita tidak memilih, siapapun orannya akan terpilih, dan kita tidak ikut terlibat keterpilihan mereka,” tandasnya. (khf/fin)













