Mengenal Agus Susilohadi, Bapak dari 12.000 Guru Alumnus SM-3T
Bagi Agus Susilohadi, upaya mencerdaskan bangsa tak cukup dengan mengajar di sekolah saja. Harus diiringi dengan karakter kuat para guru, supaya kemudian menumbuhkan sikap teladan yang bisa dicontoh murid. SM-3T merupakan medium untuk mewujudkannya.
Silvya M. Utami, Jakarta.
’’MEMANG hasilnya tidak akan terasa sekarang. Tapi saya yakin, lima sampai sepuluh tahun lagi ada efeknya,’’ kata Agus kepada wartawan di kawasan Senayan, Jakarta, belum lama ini.
Program Sarjana Mendidik daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T) ditujukan untuk para Sarjana Pendidik yang belum bertugas sebagai guru. Mereka ditugaskan selama satu tahun di daerah 3T. SM-3T ini adalah Program Pengabdian para Sarjana Pendidikan (SPd) untuk berpartisipasi dalam percepatan pembangunan pendidikan di daerah yang tergolong 3T. Sekaligus sebagai penyiapan pendidikan profesional yang akan dilanjutkan dengan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Hingga kini, program SM-3T sudah berjalan selama lima tahun dan melahirkan sekitar 12.000 alumnus. Pemilihan daerahnya juga tidak acak. Melainkan berdasarkan proposal yang diajukan pemerintah daerah setempat.
Menurut Agus, pendidikan guru harus istimewa. Tidak bisa sekedar kuliah, lalu langsung mengajar. Pria yang menjabat sebagai Kepala Bagian Perencanaan Penganggaran di Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek-Dikti) ini bahkan menegaskan, calon guru harus ‘disimpan’ di asrama. Tidak bisa ditawar-tawar lagi. ’’Asrama itu untuk pendidikan profesi guru. Lalu setelah itu ada Ujikom kepribadian dan kecerdasan,’’ ungkapnya.
Di asrama, para guru belajar pendidikan karakter. Sekali-kali ada tes juga. Seperti, tes disiplin, kejujuran, dan sebagainya. Misalnya, menaruh uang di lantai asrama, apakah ada yang ambil atau tidak. Atau membiarkan lampu menyala di siang hari, apakah ada yang perduli untuk sekedar mematikannya atau tidak.
Hal itu perlu, tegas bapak satu anak ini, untuk membentuk guru yang berkarakter. Artinya, memenuhi empat syarat sebagai pendidik. Yakni dari segi profesional, kompetensi, kepribadian, dan sosial. Dua syarat pertama sudah bisa dipenuhi melalui pendidikan akademik di bangku perguruan tinggi. Sedangkan, dua poin terakhir harus dibentuk melalui beberapa program. Salah satunya SM-3T.
Agus menganalogikan, guru sekarang ibarat air keruh dalam jamban. Kotor, karena tidak diseleksi dengan baik. Buktinya, nilai Uji Kompetensi Guru (UKG) kemarin menunjukkan angka yang memprihatinkan. Rata-rata 42 dari skor 100. ’’Respek terhadap guru juga berkurang,’’ ujarnya. Mengetahui fakta tersebut, Agus meringis. Bayangan guru teladan di Indonesia seolah semakin jauh untuk bisa terwujud. Meski begitu, pria asal Klaten ini yakin, masih banyak guru teladan di luar sana.
Namun, menyambung dari analogi air keruh tadi, cara mengatasinya hanya ada dua. Cara pertama, menggunakan keran untuk mengeluarkan air keruhnya. Cara kedua, dengan terus mengalirkan air bersih. Kedua cara tersebut sudah dan sedang dilakukan di Indonesia.
SM-3T merupakan cara kedua. Sementara yang pertama, sudah dilakukan pemerintah. Di antaranya melalui Undang-Undang yang menyatakan setiap guru harus lulus S1. Kemudian, melalui berbagai macam pelatihan guru. Sementara SM-3T, cenderung untuk memenuhi poin kepribadian dan sosial.
Betapa tidak, setiap guru SM-3T disimpan di daerah yang tertinggal. ’’Naruh orang pinter di tempat yang nggak ada orang pinternya, otomatis (orang itu) tumbuh jadi tempat bertanya,’’ kata pria yang sudah jadi PNS sejak tahun 1993 ini.
Selain itu, guru-guru SM-3T dituntut untuk inovatif dan kreatif di tengah segala keterbatasan. Sebab, fasilitas dan alat peraga pendidikan di daerah 3T tidak selengkap di kota. Dan yang paling penting, saat ikut SM-3T, sang guru juga jadi terlatih menjadi pribadi penyayang, tangguh dan tidak cengeng.
Peran guru sebagai orangtua kedua, benar-benar terasa di daerah 3T. Seperti yang terlihat di salah satu daerah di Papua, di mana para siswanya jarang menggunakan alas kaki bahkan, untuk pergi ke sekolah sekalipun. Kaki siswa belepotan lumpur, dan mereka enggan mandi. Guru SM-3T di sana dengan sabar memandikan para siswa, tak peduli kaki mereka sangat kotor dan korengan. Guru sampai menjemput dari rumah dan mengantar ke sekolah. Sikap dan karakter seperti ini yang jarang ditemui di pribadi guru-guru sekarang.
’’Karakter bukan sesuatu yang bisa diajarkan. Tapi diteladankan. Tidak bisa dibikin-bikin. Haparannya, melalui SM-3T ini bisa terwujud,’’ ucap Agus.
Meski begitu, program ini bukan tanpa halangan. Agus sempat menerima penolakan dari sejumlah daerah. Salah satunya saat Kemenristek-Dikti mengirim beberapa guru dari Aceh (berjilbab) untuk ditugaskan di Larantuka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Larantuka dikenal sebagai Kota Reinha (Bahasa Portugis) yang artinya Kota Ratu atau Kota Maria. Semua umat Katolik di Larantuka dan sekitarnya merayakan Pekan Suci yang dikenal sebagai Semana Santa. Tak jarang umat Katolik dari luar negeri berkunjung ke sana untuk mengikuti tradisi tersebut.
Saat itu, cerita Agus, para guru diantar ke sana menggunakan truk. Berbondong-bondong turun dari truk, warga di Larantuka sontak kaget, karena semua berjilbab. Mereka menyangka ada semacam ‘penyerangan’ dari umat Islam. Imbasnya, kehadiran guru SM-3T itu ditolak oleh Pastor se-NTT.
Akhirnya, Agus dan tim dari Kemenristek-Dikti bertandang ke sana untuk meluruskan kesalahpahaman tersebut. Dia menjelaskan kepada para Pastor, Kepala Desa dan tokoh masyarakat setempat. Bahwa para guru hanya akan mengajar di sana demi pendidikan yang lebih baik. ’’Awalnya mereka (pastor) bilang, takut para guru bingung ibadah di mana, karena tidak ada masjid. Tapi akhirnya mereka bisa mengerti,’’ ucap pria yang mengagumi MH Ainun Najib ini.
Semua Agus lakukan semata-mata demi kelancaran SM-3T, percepatan pembangunan pendidikan, pembentukan guru berkarakter. Sebab, Agus menilai, guru yang baik adalah yang patut diteladani. ’’Karakter asli, bukan bikinan. Memang santun, alim dalam kesehariannya. Tidak berpura-pura,’’ kata dia. Oleh karena itu, untuk menjadi guru, tidak bisa instan. Harus melewati dua sampai tiga kali saringan.
Tak cukup hingga SM-3T, baru-baru ini Agus dan timnya di Kemenristek-Dikti mencanangkan program Menyapa Negeriku. Program ini melibatkan masyarakat umum dari berbagai latar belakang dan profesi, untuk berbagi ilmu di 11 daerah 3T pilihan selama lima hari. Di antaranya, Sumba Timur, Aceh Timur, Ende, Anambas, Berau, Sitaro, dan empat daerah di Provinsi Papua.
Sebanyak 44 orang dipilih untuk mengikuti program ini. Agus mengakui bahwa lima hari memang bukan apa-apa untuk menyelesaikan persoalan bangsa yang begitu rumit. ’’Tetapi harus saya akui, implikasinya luar biasa, paling tidak bagi saya sendiri,’’ tandasnya. (tam)













