”Kalau gerakan itu artinya jangan melemparkan tanggung jawab pendidikan ini hanya kepada institusi. Karena kalau Ki Hajar itu nasihatnya pendidikan itu ada tiga, ada di rumah, di sekolah, dan di masyarakat. Jangan hanya mengandalkan anak itu hanya dididik di sekolah,” ujarnya.
Maka dari itu, mewujudkan pendidikan karakter yang selama ini diusung oleh pemerintah pusat harus menjadi tanggung jawab bersama, mulai dari orang tua, guru, dan masyarakat.
”Itulah kenapa pendidikan seperti Magrib Mengaji dan lain-lain bagian dari pendidikan di masyarakat. Kemudian orang tua juga sediakan waktu yang berkualitas mendidik anak-anak. Minimal pendidikan karakter,” imbuhnya.
Sistem ini diyakininya akan mampu mendorong generasi muda untuk menyukseskan Indonesia Emas pada dekade mendatang. Dengan menyiapkan kualitas anak-anak muda yang kompetitif, ia percaya akan memberikan dampak luar biasa pada bonus demografi tahun 2045.
”Karena pada 2045 tahun emas Indonesia merdeka itu kita akan jadi rangking tiga terbaik dunia dengan syarat bonus demografi SDM Indonesianya kompetitif. Kompetitif datang dari pendidikan yang baik,” tandasnya. (fik)













