darikita.com, KOTA BEKASI – Dwi Rani Pertiwi Zarman, resmi terpilih menjadi Ketua Umum Gabungan Pengusaha (GP) Jamu periode 2015-2019. Pemilik merk Vermint, herbal alami yang berasal dari cacing tersebut, menggantikan posisi ketua sebelumnya, Charles Saerang pemilik jamu Nyonya Meneer.
Dwi bersama jajaran direksi, komisaris, pegawai hingga keluarga, belum lama ini mengadakan syukuran yang dilangsungkan di kantor distributor produk jamu dan herbal PT Sukses Abadi Raya, Jalan Pakis Raya, Blok BB 6 nomor 2, Pekayon Jaya, Bekasi Selata, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Dia mengatakan, tidak pernah bermimpi bisa terpilih menjadi Ketua Umum GP Jamu. Apalagi saingannya adalah, para pengusaha besar yang sudah lama berkecimpung dalam bisnis jamu di tanah air. “Alhamdulillah, saya diberi kepercayaan dari para senior untuk mengemban amanah ini. Saya akan jalankan amanah ini, sebaik mungkin,” katanya kepada KBE, saat ditemui usai acara syukuruan.
Di bawah kepemimpinananya, GP Jamu akan terus mensosialisasikan tradisi minum jamu setiap hari Jumat pagi. Sosialisasi akan dilakukan, di sejumlah kantor kementrian di Jakarta. “Setiap Jumat pukul 07.00 WIB, kami sosialisasikan minum jamu bersama, di kantor-kantor kementrian,” ujarnya.
Wanita yang pernah menjabat sebagai Ketua GP Jamu Jawa Barat ini mengatakan, tujuan hal tersebut adalah, agar seluruh lapisan masyarakat mau minum jamu. Selain itu, GP Jamu juga telah meminta kepada para pengusaha perhotelan, pengelola bandara, hingga pelabuhan, untuk wajib menyiapkan menu jamu di restoran ataupun kedai minuman.
Sejumlah target yang dicanangkan itu, lanjut Dwi, semata-mata untuk melindungi jamu yang merupakan minuman tradisional menyehatkan khas Indonesia. “Kita tidak mau, jamu diklaim Malaysia,” katanya.
Mengingat sebelumnya, Malaysia sempat mendaftarkan Temulawak sebagai minuman khas mereka. Namun beruntung, karena bahan-bahan Temulawak didapat dari Indonesia, bahkan belakangan UNESCO akhirnya menolak. “Harusnya pemerintah Indonesia yang mendaftarkan jamu. Pasti kita akan sangat menyesal, kalau jamu klaim negara lain,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dwi juga mengaku prihatin dengan maraknya sejumlah bahan makanan yang ternyata palsu. Seperti beras, telur, bahkan jamu. Dirinya meminta masyarakat berhati-hati, ketika membeli jamu dan herbal. Dia meminta masyarakat bisa menjadi konsumen yang cerdas, bila jamu atau herbal yang dibeli dicurigai palsu, masyarakat bisa mencari tahu di website resmi milik Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
“Buka website ‘pom.go.id’, kemudian cari merk obat tradisional, masukan nomor Pengawasan Obat dan Makanan Tradisional (POM TR) yang tertera di kemasan. Kalau disitu tidak muncul, atau yang muncul jamu merk lain, maka saya yakin jamu atau herbal itu palsu,” ungkapnya.
Dwi pun sangat mengapresiasi langkah Kementrian Kesehatan (Kemenkes) yang menyerahkan rekomendasi kepada GP Jamu, untuk penerbitan Surat Keputusan (SK) bagi jamu dan herbal atau obat-obatan tradisional. “Jadi sekarang Kemenkes keluarkan SK bagi jamu dan herbal, bila sudah ada rekomendasi dari kita. Ini juga bagian dari pengawasan kita, terhadap usaha dibawah GP Jamu,” terangnya.
Dia berharap, pemerintah bisa memperhatikan pengusaha kecil yang bergerak di bidang usaha jamu dan herbal. “Kami ingin ada penyuluhan rutin bagi pengusaha di bidang ini. Selain itu, pemerintah juga harus bisa memberikan pinjaman dengan bunga ringan. Usaha ini, selain menyehatkan masyarakat, juga bisa mengurangi angka pengangguran,” tutupnya. (dyt)













