banner

Minat Baca Minim

darikita 2 Juni 2015
PILIH-PILIH: Minimnya minat baca masyarakat salah satunya karena perkembangan teknologi yang pesat. Di samping kurang menariknya konsep perpustakaan
vertical banner
PILIH-PILIH: Minimnya minat baca masyarakat salah satunya karena perkembangan teknologi yang pesat. Di samping kurang menariknya konsep perpustakaan
PILIH-PILIH: Minimnya minat baca masyarakat salah satunya karena perkembangan teknologi yang pesat. Di samping kurang menariknya konsep perpustakaan
Ubah Konsep Kuno Perpustakaan

Darikita.com, SOREANG – Minat baca dinilai masih sangat rendah di kalangan anak, remaja, pelajar maupun mahasiswa di Kabupaten Bandung. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai faktor seperti berkembangnya teknologi informasi, seperti dunia maya (internet), pertelevisian dan hiburan-hiburan lainnya yang menyebabkan buku sebagai bahan bacaan menjadi kehilangan daya tarik.

’’Indonesia merupakan negara yang sudah melek huruf tinggi karena hanya sedikit warganya yang masih buta huruf. Namun ironisnya, minat baca warga juga rendah,’’ terang Anggota Komisi X DPR-RI Dadang Rusdiana (Darus), saat dihubungi SE (Grup BE) kemarin (31/5).

Darus juga mengemukakan bahwa selama ini belum ada kebijakan terintegrasi, antara Menteri Pendidikan Nasional dengan Badan Perpustakaan tentang kewajiban bagi sekolah memiliki perpustakaan yang representatif dengan tenaga pustakawan yang berkualifikasi. ’’Kunjungan perpustakaan belum menjadi kewajiban yang terintegrasi dengan mata pelajaran,’’ katanya.

Padahal, lanjut dia, seharusnya setiap mata pelajaran selain melalui kegiatan belajar mengajar di dalam kelas pemberian pekerjaan rumah (PR), harus ditetapkan pula berapa jam untuk kunjungan perpustakaan. ’’Jadi gemar membaca tidak bisa hanya dengan pendekatan kultural dalam bentuk gerakan masyarakat, tetapi harus diikuti pula dengan pendekatan struktural yaitu regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah,’’ jelas pria yang belakangan juga gencar mengkampanyekan gerakan gemar membaca itu.

Adanya inisiatif dari masyarakat dalam bentuk taman bacaan masyarakat menurut Darus, tidaklah cukup. Sebab, harus juga diimbangi dengan penyediaan perpustakaan desa dengan konsep yang lebih kreatif. Pasalnya, sementara ini perpustakaan memang tidak terlalu diminati karena dianggap tidak menarik bagi anak muda. ’’selama ini perpustakaan dicitrakan sebagai gedung berisi buku yang menjemukan dan tidak menarik bagi mereka,’’ terang dia.

Sehingga untuk menumbuhkan kembali minat baca, perlu dikembangkan perpustakaan kreatif. Yakni, perpustakaan dibuat dalam konsep yang lebih terbuka dan terintegrasi dengan aktivitas remaja lainnya. ’’Untuk menarik minat pembaca, tidak ada salahnya kalau perpustakaan dilengkapi banyak fasilitas seperti kafe, tempat kuliner, pertunjukan seni budaya dan sarana olahraga,’’ jelasnya.

Tidak dapat dipungkiri, penyebab lain dari rendahnya minat baca masyarakat juga terpengaruh dari perkembangan teknologi informasi seperti tingginya minat masyarakat terhadap menonton televisi. Dari hasil survey BPS menunjukan masyarakat Indonesia lebih suka menonton tv sebesar 90,27 persen, sedangkan hanya 18,94 persen yang suka membaca. Hal itu tentunya sangat tidak seimbang.
Akan tetapi, kita tidak juga hanya menyalahkan teknologi karena menurut Darus teknologi itu sifatnya netral, tergantung manusia dan pengendalian dari pemerintah. ’’Teknologi informasi tidak boleh dilarang, tetapi pemerintah dan orangtua harus mampu melakukan seleksi dan pembinaan,’’ ungkapnya.

Dia juga tidak menyarankan agar pemerintah membatasi usia pengguna gadget, karena yang terpenting dalam hal ini adalah pengendalian kontennya saja. ’’Nggak usah dibatasi di targetnya tapi pengaturan pengendalian konten saja,’’katanya.

Dia mengatakan bahwa pemberian gadget pada anak sudah masuk dalam wilayah otoritas orangtua. ’’Orangtua yang harus bisa lebih arif dalam memfasilitasi anak.Kan pemerintah tidak bisa masuk ke wilayah yang lebih pribadi, dimana pengawasan orangtua lebih dominan,’’ pungkasnya. (mg15/far)

Untuk Anda
Terbaru