
KHUSUK: Ribuan jamaah saat menggelar salat Istisqa di Lapangan Upakarti Kabupaten Bandung kemarin.
darikita.com, SOREANG – Pemerintah Kabupaten Bandung melaksanakan salat Istisqo kemarin (30/7). Dilakukan di Lapangan Upakarti, Soreang. Diikuti seribuan jamaah. Berasal dari PNS, pelajar, ormas, calon jemaah haji dan masyarakat sekitar.
Salat Istisqo diimami oleh Pimpinan Pondok Pesantren Al Burbah, KH Ahmad Busyiri. Ketua MUI Kabupaten Bandung KH Anwar Saifudin Kamil ditunjuk sebagai khatib. Dalam khutbahnya, dia menjelaskan, salat Istisqo adalah doa meminta pengampunan dosa. Sebab menurutnya, musim kemarau adalah ujian dan kehendak Allah SWT kepada manusia.
’’Allah hanya menunda turunnya hujan. Sedianya manusia merupakan mahluk yang tidak bebas dari dosa. Maka kita harus selalu memohon ampunan dosa,’’ jelas Anwar.
Bupati Bandung Dadang M. Naser menejalskan, informasi dari Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau masih akan terjadi hingga November mendatang. Menurutnya, meski dibuat hujan buatan cukup sulit karena tipe awan kering. ’’Tidak ada tanda-tanda hujan juga meski dipancing hujan buatan. Makanya hari ini (kemarin, red) kita berusaha meminta hujan melalui salat Istisqo,’’ ujar dia usai salat.
Dia mengimbau, kepada seluruh masyarakat di Kabupaten Bandung agar lebih menghemat air yang ketersediaannya mulai berkurang. Apalagi, saat ini ada pipa PDAM Tirta Raharja yang mengalami kebocoran dan menyebabkan pasokan air berkurang. ’’Makanya warga juga harus pintar-pintar menghemat air. Dalam kondisi ini juga ada pencurian air dari pipa PDAM. Pipanya ada yang dipatahkan tapi sekarang sedang diperbaiki,’’ terang dia.
Dadang berharap, warga yang masih memiliki air lebih bisa saling berbagi dengan warga yang sudah mengalami krisis air di rumahnya. ’’Hemat air di rumah tangga dan manfaatkan air bersih yang ada. Kalau di pabrik masih ada air bisa juga dibagikan ke warga,’’ ucap dia.
Selain itu, akibat hujan yang belum kunjung turun, menurut Dadang, ada ratusan hektare sawah mengalami kekeringan dan terancam puso. Padahal, saat ini tanaman padi tengah berbuah. Karena itu, upaya meminta hujan melalui salat Istisqo akan dilakukan di setiap kecamatan. (mg15/kha/hen)
Seharian kemarin (30/7), memang cuaca Bandung Raya terasa mendung. Tapi, hujan belum juga turun. Artinya, belum bisa menjawab kekeringan yang dialami warga.
Prakirawan Badan Meteorelogi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kota Bandung, Susiani kepada Bandung Ekspres mengatakan, potensi hujan untuk wilayah Bandung dan sekitarnya belum terlihat, makanya dari Bulan Juli hingga hari ini masih terasa panas.
”Memang sekarang lagi musim kemarau yang panjang. Untuk tiga hari ke depan pun, Kota Bandung hanya akan berawan saja,” pungkas Susi yang diwawancarai di kantor BMKG Bandung, Jalan Cemara, Nomor 66, Bandung.
Menurut dia, meskipun belum ada potensi untuk hujan, diprediksi gerimis kecil bisa saja terjadi. ”Udara saat ini masih panas. Jadi hujan sepertinya belum akan turun untuk saat ini. Gerimis kecil bisa saja terjadi ke depannya,” ucap Susi.
BMKG juga memprediksi hujan akan turun di Kota Bandung sekitar akhir September atau awal Oktober nanti. ”Bulan ini sih belum ada tanda-tandanya. Prakiraannya dari BMKG akhir September nanti sudah memasuki masa peralihan. Kemungkinan hujan di situ bisa terjadi,” bebernya.
Hujan buatan yang dicanangkan Pemprov Jawa Barat, jika dilakukan musim kemarau saat ini menurut BMKG juga belum bisa membuat hujan turun. ”Hujan buatan sebenarnya bukan membuat hujan. Tetapi kerjanya mematangkan awan-awan yang berpotensi hujan dengan menaburi garam. Jika tidak ada awan tersebut tentunya akan sia-sia,” ujar Susi.
Dia menambahkan, sekarang ini hujan buatan seperti itu tentunya tidak akan efektif. Mungkin nanti saat masa peralihan sekitar bulan September atau Oktober barulah bisa membuat hujan cepat turun. (mg15/kha/hen)












