banner

Seni Beluk Hampir Punah

darikita 18 Januari 2016
BERLATIH: Tiga warga saat memainkan alat musik Kesenia Beluk. Kini, pertunjukan tradisional ini sudah sangat dimainkan oleh para seniman Sunda lantaran dianggap ketinggalan zaman.
vertical banner
Warisan Budaya Jawa Barat yang Terlupakan

darikita.com, Provinsi Jawa Barat memiliki beragam warisan kesenian tradisional. Keberagaman warisan seni dan budaya ini seringkali terlupakan atau diabaikan oleh generasi muda karena dianggap suah kolot dan tak sesuai dengan zamannya. Salah satu kesenian tradisional asal Jabar yang hampir punah salah satunya pertunjukan Seni Beluk.

Kata Beluk berasal dari kata Ba dan Aluk. Ba artinya besar dan aluk artinya gorowok atau dalam bahasa Indonesia ”berteriak”. Dalam arti kata, bahwa Beluk itu adalah teriakan yang memberi tanda atau pemberitahuan kepada tetangga sekampung.

Beluk merupakan sajian sekar berirama bebas atau merdeka dengan ornamen surupan tinggi melengking. Seni Beluk berkaitan erat dengan seni sera khususnya sastera wawacan yang menggunakan pupuh (biasanya terdiri atas 17 pupuh Kinanti, Asmarandana, Dangdanggula, Sinom, Pangkur, Lambung, Ladrang, Gatru, Maskumambang, Gambuh, Gurisa, Balakbak, Pucung, dan 1ain-1ain).

Praktisi Seni dan Budayawan Sunda Wawan Wangsit mengatakan, pada mulanya Seni Beluk ini hanya sekadar hiburan semata dan sebagai sarana komunikasi. Lahirnya Seni Beluk ini dari masyarakat peladang ‘huma’ atau penjaga ladang atau huma saling berkomunikasi untuk menyatakan ada di dalam saung yang berjauhan, mereka saling berteriak dan bersahutan. Tapi dengan adanya, perkembangan dan kebutuhan masyarakat, maka beluk berfungsi menjadi seni yang bersifat religi.

’’Seni ini merupakan asli dari Jawa Barat, tepatnya di Kecamatan Ujung Berung. Di mana saat itu Ujung Berung masih ikut Kabupaten Bandung,’’ kata Wawan kepada Bandung Ekspres saat ditemui di Padepokan Mayang Sunda, Jalan Peta, Kecamatan Bojong Loa Kaler.

Menurutnya, komunikasi antar peladang yang berjauhan, baik saung maupun huma, dengan jalan berteriak bersahut-sahutan. Lama kelamaan teriakan ini menjadi bentuk kesenian. Irama yang dilantunkannya sangat tinggi melengking. Syair yang dibawakan diambil dari cerita wawacan yang biasanya bersifat religius.

’’Seni Beluk ini sempat hilang bak ditelan bumi, karena para pelaku seninya sudah lanjut usia, dan sepertinya tidak ada penerus yang mau meneruskan seni ini,’’ ungkap Wawan.

Wawan menjelaskan, seni Beluk merupakan sebuah tanggapan seni oral dengan pemain berjumlah sekitar 12-13 orang dengan pembagian peran yang berbeda-beda. Biasanya seni Beluk dipimpin oleh seorang dalang. Di mana dalang tersebut memiliki tugas membacakan kalimat yang ada dalam wawacan tersebut.

’’Biasanya wawacan tersebut ditulis dalam aksara Arab Pegon namun berbahasa Sunda,’’ jelasnya. Wawan menegaskan, saat ini daerah yang masih melestarikan Seni Beluk ada di daerah Kabupaten Sumedang, di mana ada beberapa tokoh seni sunda yang melestarikan seni ini di antaranya di Kampung Narongtong Cikeruh (Bah Abtori, Tamim, Pandi dan Narya), Kampung Santaka Cimanggung (Bah ahoy, Wapi, H. Anang dan Dana), Kampung Jayasari (Bah Ahri dan Ade), dan Kampung Cimasuk Rancakalong (Bah Darmita, Lasmena, Rusmana dan Tarman).

’’Sebagian tokoh Seni Beluk banyak yang sudah tidak ada (meninggal). Di samping jarang bahkan tidak adanya kader penerus,’’ tegasnya. (dn/fik)

Untuk Anda
Terbaru