Dosen STPB Temukan 280 Jenis Kebudayaan
Darikita.com – Siapa yang tidak takjub dengan keindahan Curug Malela yang berada di Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat. Curug tersebut digadang-gadang sebagai potret dari Air Terjun Niagara yang terletak di Amerika Serikat, tetapi dalam versi lebih kecil. Sekitar tahun 2014, curugitu booming dan mulai memenuhi dunia maya.
Di saat bersamaan, Beta Budisetyorini, salah seorang dosen Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB) melakukan penelitian sekitar Maret-Juli 2014 di Kabupaten Bandung Barat. Dalam penelitian tersebut, ditemukan kurang lebih 280 jenis kebudayaan. Menurutnya, penelitian tersebut berlatar belakang dari keinginannya senang dengan hal-hal yang baru. ”Ada banyak hal yang menakjubkan yang membuat saya kagum dan kaget dengan kebudayaan tersebut,” ucapnya kepada Bandung Ekspres, di STPB, Sabtu (20/2).
Penelitian yang libatkan 27 orang mahasiswa dibagi ke dalam tiga wilayah, yakni barat, utara, dan selatan. Pada bagian barat wilayah Bandung Barat, kebudayaan sangat diwarnai dengan adat Sunda atau yang dikenal sebagai Sunda wiwitan. Kebudayaan itu lebih terasa di Kecamatan Cipatat dan Cikalong Wetan.
Ritual adat Sunda di tempat itu sudah berlangsung sejak lama dan setiap bulannya kerap diperingati. Setiap ritualnya ternyata menyedot banyak perhatian masyarakat. Jika dibandingkan dengan kawasan utara, aura kebudayaan lebih terasa di barat. Apalagi di bagian barat terdapat sebuah situ purbakala sebagai jejak kehidupan. Bila ketemu jejak kehidupan, bakal terdapat pula kebudayaan.
’’Wilayah utara lebih banyak ditemukan tempat-pariwisata, bukan kebudayaan. Apalagi wilayah Lembang merupakan dataran tinggi yang memiliki ciri khas sejuk,” tukasnya.
Untuk kawasan selatan, kultur masyarakat sangat berkaitan dengan pertanian dan peternakan. Karena akses jalan yang masih cukup sulit, sehingga banyak pertanian dan peternakan yang masih menggunakan metode tradisional.
Dirinya juga mengungkap, banyak menemukan hal-hal mengejutkan selama lakukan penelitian. Bahkan, Beta mengklaim, tiga mahasiswanya ditaksir oleh leluhur atau makhluk halus. Kejadian itu ternyata membuatnya kaget dan setelah penelitian dia tidak lagi mendatangi tempat-tempat penelitiannya. ’’Itu semua membuat saya menjadi takut, untung saja tiga mahasiswa saya tidak dikejar mahluk halus,” ceritanya.
Hasil penelitian itu langsung diserahkan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bandung Barat. Hanya saja, hingga detik ini potensi kebudayaan tersebut masih belum dimanfaatkan dengan baik oleh dinas setempat.
Dirinya menandaskan, apabila kebudayaan tersebut dimanfaatkan dengan baik dan diperkenalkan ke khalayak, Bandung Barat akan menjadi rujukan pariwisata setelah Kota Bandung. Walaupun demikian, pihaknya masih mempunyai ikatan dengan dinas pariwisata untuk membuat desa pariwisata di Bandung Barat. (nit/vil)













