darikita.com, Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tangkuban Parahu ramai dikunjungi wisatawan asing dan lokal sepanjang liburan Natal. Tercatat, jumlah pengunjung mengalami kenaikan hingga 15 persen dibandingkan liburan Natal tahun lalu.
Angka kenaikan itu sendiri terjadi karena bersamaan dengan liburnya anak-anak sekolah. Sehingga banyak yang memanfaatkan untuk berlibur ke Tangkuban Parahu.
Direktur PT Graha Rani Putra Persada (GRPP) Putra Kaban menyatakan, ramainya pengunjung yang datang ke Tangkuban Parahu sudah terjadi satu pekan ini. Dia memprediksi puncak keramaian pengunjung akan terjadi pada liburan tahun baru pada 1 Januari 2016 mendatang.
”Liburan Natal tahun ini bersamaan dengan liburan anak sekolah. Ditambah lagi akan menghadapi liburan Tahun Baru. Sehingga keramaian pengunjung sudah terjadi satu pekan ini,” kata Kaban kepada wartawan ditemui di Lembang, kemarin (25/12).
Dia menyebutkan, di hari biasa saja ada sekitar 1.500 pengunjung per hari yang datang ke Tangkuban Parahu baik dari wisatawan asing maupun lokal. Objek wisata ini, kata dia, tidak hanya ramai pada momen hari besar tertentu saja, melainkan di hari-hari biasa kerap dikunjungi dari berbagai wilayah. Pengunjung yang mendominasi datang ke Tangkuban Parahu rata-rata dari daerah Jakarta, Bekasi, Subang, Purwakarta, Banten dan Palembang. Sementara, untuk wisatawan asing kebanyakan dari negara Malaysia dan Singapura.
”Puncaknya pada momen-momen tertentu seperti libur Lebaran, Natal dan Tahun Baru. Kalau wisatawan asing biasanya sebelum datang, suka menghubungi kami dulu. Sebab, mereka sudah mengetahui kalau ingin ke objek wisata ini selalu memesan terlebih dahulu,” ungkapnya.
Menghadapi lonjakan pengunjung pada liburan natal dan akhir tahun ini, kata dia, pihaknya sudah mempersiapkan tenaga karyawan yang ditempatkan di pintu masuk, penjaga loket, tim pengamanan serta juru parkir yang berada di atas dekat dengan kawah.
”Hal ini kami lakukan guna memberikan rasa aman dan nyaman kepada para pengunjung. Baik dari pintu masuk hingga tempat parkir di atas. Untuk lahan parkir saja bisa menampung tidak lebih dari 4 ribu kendaraan,” paparnya.
”Banyak juga pengunjung yang datang hanya berdiam paling lama 1 hingga 2 jam, lalu datang lagi kendaraan yang baru datang sehingga tempat parkir selalu mencukupi,” tambahnya.
Ditanya soal apa saja perbaikan di area Gunung Tangkuban Parahu, dia mengaku, perbaikan lebih diarahkan kepada infrastruktur jalan. Dirinya memandang, objek wisata Tangkubanparahu yang merupakan lahan konservasi tidak sembarangan melakukan pembangunan dan harus mendapat izin dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat.
”Wisata alam ini berbasis konservasi. Artinya kalau ada apa-apa harus seizin dari BKSDA. Berbeda dengan tempat wisata milik perorangan atau swasta lainnya. Yang sudah kita perbaiki seperti penataan kios pedagang di atas, penataan tempat parkir dan juga perbaikan jalan yang rusak,” pungkasnya. (drx/rie)













