Serangan hama tikus mengakibatkan hasil panen padi perdana di wilayah Mulyasari, Kecamatan Pataurman, Kota Banjar, turun. Mengawali masa panen harga gabah di tingkat petani berkisar Rp 4.300-Rp 4.400 per kilogram, jauh di bawah musim panen sebelumnya yang mencapai Rp 500.000 per kuintal.
Pantauan di Mulayasari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, Minggu 27 November 2016 persawahan yang dipanen belum begitu luas. Hamparan persawahan dengan tanaman padi sudah menguning. Beberapa petak di antaranya tanaman padi roboh akibat kena angin. Beberapa titik sisi saluran irigasi Doboku juga dimanfaatkan untuk menjemur gabah yang baru dipanen. Mereka juga menampi gabah untuk memisahkan bagah yang berisi beras dengan yang hampa.
“Sekarang hasil panen sedikit berkurang, kena serangan hama tikus. Kalau yang dekat kaki Gunung Sangkur juga ada yang diserang babi hutan. Kalau tidak kena serangan tikus bisa mendapat 10 kuintal gabah kering giling, sekarang hanya 8 kuintal,” ungkap Karyati. Di sela-sela menjemur gabah yang baru dipanen, dia mengungkapkan, serangan tikus tersebut berlangsung pada saat memasuki masa pembuahan atau ketika gabah masih muda. Karyati memperkirakan ganasnya serangn tikus tersebut berkenaan dengan faktor cuaca.
“Musim tanam sekarang relatif aman dari serangan wereng maupun penyakit blas, tetapi serangan tikus meningkat. Mungkin karena cuaca dingin, jadi tikus banyak beranak,” katanya.
Didampingi petani lain, Rosidin dan Popon, dia mengatakan masa panen persawahan di wilayah Mulyasari lebih ceat dibandingkan tempat lain. Hal itu disebabkan karena persawahan di kawasan tersebut termasuk tidak sulit mendapat air, karena mendapat pasokan dari irigasi Doboku.
Berkenaan dengan harga gabah, Karyati mengatakan saat ini jauh dibawah musim panen sebelumnya yang mencapai Rp 5.000-Rp 5.200 per kilogram. Diperkirakan, harga gabah di tingkat penati akan tuturn, bersamaan dengan masa panen. “Sekarang saja hanya Rp 4.300-Rp 4.400 per kilogram. Semakin banyak sawah yang panen, harga gabah pasti akan semakin turun. Semoga saja penurunannya tidak begitu banyak,” ujarnya.
Hal serupa juga dikemukakan Popon. Dia menambahkan sebagian gabah hasil panen bakal dijual, untuk modal mengggarap sewah. Sedangkan sebagian lagi disimpan untuk kebutuhan rumah tangga sendiri. “Kalau tidak jual gabah ya darimana dapat modal untuk menggarap lahan dan beli benih. Sebagian untuk konsumsi sendiri,” tuturnya.
Berbeda dengan petani di Mulyasari, sejumlah petani yang ada di sisi Rawa Onom, Kecamatan Purwaharja, tengah mengolah lahan, setelah sebelumnya terendam banjir. Saat ini saja, ada petani yang sudah dua kali gagal tanam, akibat terendam banjir. Hal itu disebabkan naiknya permukaan air Rawa Onom dan meluapnya Sungai Cipaten di tempat tersebut.***













