banner

Masjid Lautza II Jadi Pusat Belajar Warga Tionghoa

darikita 23 Juni 2015
BERBEDA: Seorang berpose di depan Masjid Lautse II, Jalan Tamblong. Masjid ini bergaya Tionghoa.
vertical banner
BERBEDA: Seorang berpose di depan Masjid Lautse II, Jalan Tamblong. Masjid ini bergaya Tionghoa.
BERBEDA: Seorang berpose di depan Masjid Lautse II, Jalan Tamblong. Masjid ini bergaya Tionghoa.

Darikita.com, MASJID merupakan salah satu tempat ibadah bagi umat muslim. Bangunan masjid memiliki khas atau konsep tersendiri. Kebanyakan masjid di Kota Bandung memiliki konsep Timur Tengah sesuai dengan ciri khas keislaman, tetapi tidak dengan masjid di salah satu sudut Kota bandung ini. Ya, Masjid Lautze II berada di Jalan Tamblong.

Bangunan ini memiliki khas tersendiri yaitu berarsitektur Tionghoa yang merupakan bukti eksistensi warga muslim Tionghoa di Kota Bandung ini. ”Masjid Lautze II menjadi pusat penyebaran informasi Islam khususnya bagi etnis Tionghoa,” ujar Jesslyn,28, humas Masjid Lautze II kepada Bandung Ekspres kemarin (22/6)

Pada 1997, masjid ini didirikan oleh seorang mualaf Tionghoa bernama Oei Tjeng Hien atau biasa disebut Haji Karim. Dia mendirikan Lautze II ini sebagai wadah informasi etnis Tionghoa. ”Pada saat itu, H Karim sudah wafat dan untuk menjalankan visi-misi yayasan masjid ini, H Ali Karim selaku anak anaknya meneruskan jalan ayahnya,” jelas Jesslyn.

Pembangunan masjid ini sudah mengalami renovasi pada tahun 2007. Warna yang didominasi warna merah dan diberikan polesan interior serta ekterior yang diukir dengan konsep ornamen Cina mempertegas bahwa masjid ini dibangun oleh orang Tionghoa. ”Tadinya masjid ini berbentuk ruko, kemudian yang direnovasi hanya kantor yayasannya saja dipindahkan ke lantai atas,” tambah dia.

Program kerja yang ada di masjid ini bukan hanya tempat untuk beribadah saja, melainkan tempat untuk sarana belajar dan mengajar. ”Di sini ada kursus Bahasa Mandarin, Bahasa Arab dan seni kaligrafi Tionghoa,” tuturnya

Dalam perkembangannya, Masjid Lautze II sendiri berbenah dan berupaya memberikan layanan publik yang maksimal bagi mereka yang membutuhkan informasi Islam dengan pendekatan budaya Tionghoa. Maka pada 2009, perbaikan manajemen organisasi masjid dilakukan dengan dibentuknya Dewan Keluarga Masjid (DKM) Lautze II, sekaligus menetapkan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) serta berbagai program kerja yang hendak dicapai.

Menurut Jesslyn, untuk mendukung itu semua, selang satu tahun kemudian, dibentuklah Lautze Management Centre (LMC). Sebuah wadah yang bergerak untuk mengorganisir setiap acara dan kegiatan yang diselenggarakan oleh masjid Lautze II Bandung.

Adapun, program kerja yang ditawarkan Masjid Lautze II Bandung, antara lain pendampingan muallaf yang dibimbing berdasarkan pendekatan psikologi dan kedekatan latar belakang budaya yang sama.

Seiring dengan semakin solidnya LMC, keberadaan Masjid Lautze II kini tidak hanya dapat ditemui di Kota Jakarta dan Bandung saja. Kota-kota lain seperti Cilacap, Cirebon, dan Yogyakarta, menambah deretan masjid Tionghoa di pulau Jawa.

”Namun karena tempatnya yang sebagian belum menetap, kami dari pihak Lautze Bandung sendiri belum bisa memastikan alamat pasti keberadaan masjid Lautze yang tersebar di setiap daerah tersebut,” papar anak bungsu dari dua bersaudara ini. (mgu-rez/fik)

Untuk Anda
Terbaru