
DUKA BERSAMA: Siswa dan guru SMAN 8 Kota Bandung salat Ghaib dan doa bersama di sekolah, Jalan Selontongan, Kota Bandung, Senin(14/9). Salat dan doa itu dilakukan untuk almarhum Adang Joppy Lili, guru Ekonomi yang meninggal dunia akibat crane jatuh di Mekah Jumat lalu (11/9).
darikita.com, BUAHBATU – Suasana duka kuat terasa di SMAN 8 Kota Bandung kemarin (14/9). Lantunan doa dan isak tangis terdengar menggema usai salat ghaib di lapangan sekolah. Hal itu terjadi saat ratusan siswa dan warga sekolah usai melaksanakan salat ghaib.
Ya, salat ghaib untuk Adang Joppy Lili, 58. Guru mereka. Adang diketahui menjadi satu dari dua orang calon jamaah haji (CJH) asal Bandung, menjadi korban tewas akibat crane terjatuh di Makkah Jumat sore (11/9).
Tampak guru dan murid menundukan kepala dan berdoa khusyuk mendoakan almarhum Adang. Memanjatkan kepada Allah SWT, agar amal dan ibadah guru mereka itu diterima. Adang dikenal sebagai guru ramah dan humoris.
Kepala Sekolah SMAN 8 Kota Bandung Suryana mengucapkan belasungkawa. Dia meyakini, Adang syahid. Sebab, meninggal ketika sedang melaksanakan ibadah di tanah suci. Meski sebenarnya cukup mengejutkan. Sebab, di hari yang sama dengan kejadian masih ada komunikasi. Namun, takdir berkata lain.
’’Semoga almarhum Adang mendapatkan tempat yang baik,” kata dia kepada wartawan, seraya menyampaikan, usai salat ghaib, warga sekolah menunaikan salat Istisqo karena musim kemarau berkepanjangan.
Suryana menjelaskan, almarhum Adang merupakan sosok humoris, kritis dan patut diteladani. Dia sudah mengajar di sekolah selama 17 tahun di sekolah. Sangat aktif menangani kedisiplinan. ’’Saat melaksanakan ibadah haji pun, kami rasakan beliau sangat ikhlas,’’ ungkap dia.
Resa Apriyansah,16, salah seorang anak didik Adang di sekolah menyebut, gurunya itu sangat akrab dengan murid. Kerap bercanda. Mau mengajarkan arti penting kedisiplinan lewat cara yang menyenangkan.
Sementara itu, Yani Excalanti, salah seorang karib Adang, yang juga guru SMAN 8 Kota Bandung tak kuasa membendung tangis kala mengenang persahabatannya. Dirinya, yang sama-sama mengajar pelajaran ekonomi di sekolah mengaku, sangat kehilangan sosok sejawatnya itu.
Yani mengingat, Adang sebagai orang yang sangat peduli kepada orang lain. Gaya bicaranya suka bebas. Tapi, sebenarnya orang baik. ’’Di sini kan ada empat guru ekonomi. Nah, saya sama Pak Adang sering jadi partner. Pokoknya, sekarang ini kehilangan partner becandalah,’’ ujar dia di SMAN 8 Bandung, Jalan Solontongan, Kota Bandung, Senin (14/9).
Karena itu, Yani tak menyangka Adang menjadi korban jatuhnya crane di Masjidil Haram. Tak ada firasat dirasakan olehnya. ’’Paling, dia terakhir nitipin jam ngajar anak-anak ke saya. Itu saja yang masih terngiang sampai sekarang,’’ ungkap dia.
Terpisah, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengucapkan turut berduka cita atas musibah jatuhnya crane di Makkah dan menimpa sejumlah CJH, termasuk asal Bandung. Atas peristiwa tersebut, Emil -sapaan akrab Ridwan Kamil- berharap pemerintah Saudi Arabia membersihkan sisa crane agar peristiwa serupa tidak terulang.
’’Saya turut berduka cita secara umum untuk musibahnya. Turut berduka cita untuk jamaah Indonesia. Khususnya jamaah asal Bandung yang salah satunya, PNS terbaik kami, Pak Adang Joppy, guru SMA 8,’’ ungkap dia di Balai Kota Jalan Wastukancana.
Emil mengaku, telah menyampaikan duka cita dengan datang langsung ke rumah keluarga korban. Bertemu dua anak Adang. Sedangkan istri Adang masih berada di Makkah.
Atas kejadian tersebut, dia berharap pemerintah Saudi Arabia bertanggung jawab dan mengambil tindakan. Karena pembangunan kontruksi ini membutuhkan radius keselamatan yang tinggi. Mengingat jamaah haji yang datang ke tanah suci sangat intens.
’’Sebagai wali kota yang pernah jadi arsitek, saya paham risiko potensi bahaya dari alat berat berdekatan dengan aktivitas manusia yang jumlahnya banyak,’’ terang dia.
Emil pun berharap pemerintah Saudi Arabia membersihkan sisa crane. Sebab, jika ada hujan badai lalu kena petir, sambungan skrup copot. Lalu rantai turun ke bawah. ’’Bisa kejadian lagi (musibah crane jatuh),’’ ucap dia. (fie/hen)













