Menurut Tim Psikologi Bandung Masagi Ifa M. Misbach, Bandung Masagi diibaratkan seperti pohon yang mana terdapat akar, batang, buah, ranting dan lingkar tahun. ”Masing-masing dari bagian pohon tersebut memiliki artinya masing-masing,” ujarnya.
Dia menjelaskan, akar dapat diartikan sebagai landasan nilai-nilai filosofi kearifan lokal. Naik pada batang diartikan sebagai tahapan proses perkembangan dari berbagai tahap. Mulai dari PAUD hingga SMA/sederajat. Lalu, ranting dianggap sebagai aspek-aspek pada program religi, kebudayaan, lingkungan sampai bela negara.
Namun, yang sering dilihat dari pendidikan adalah buah di mana merupakan hasil pendidikan karakter yang terlihat pada perilaku anak. Akan tetapi, yang terpenting yaitu lingkat tahun pada pohon. Pada lingkar pohon diartikan sebagai karakter-karakter baik yang akan melekat seiring pertumbuhan individu.
”Seiring waktu katakter yang menetap dalam hitungan waktu akan semakin berkembang dan bertambah kuat,” jelasnya.
Di tempat yang sama, Tim Psikologi Bandung Masagi, Permata Andhika Rahardja mengatakan, dari adanya pelatihan Bandung Masagi ini, masih ada harapan di dunia pendidikan. ”Ada banyak hal yang dilakukan bertahun-tahun terjadi pada dunia pendidikan dan kebiasaan itu cukup sulit untuk diubah,” ujarnya.
Lanjut dia, langkah ini perlu diapresiasi dengan cara para pelaku pendidikan ini mengubah dari kebiasaan prilaku mereka. Akan tetapi, dengan niat yang baik dan bisa diterima oleh orang banyak dianggap sebagai landasan untuk mengubahnya.
Ke depan, paska dari ToT ini semua pihak akan bertemu kembali dan mengkaji apa yang menjadi kekurangan dari kurikulum ini. ”Semua orang berperan dalam hal ini tentunya untuk mengubah pendidikan lebih baik,” pungkasnya. (nit/fik)













