
PEMBONGKARAN: Para pekerja membongkar barang di peti kemas. Melemahnya rupiah sangat berdampak negatif pada laju pertumbuhan perusahan importir. Pasalnya, importir harus membayar barang lebih mahal dari biasa.
darikita.com, JAKARTA–Ketua Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Rofiq Natahadibrata mengungkapkan, saat ini makin banyak importir yang merugi. Pasalnya, rupiah tidak juga beranjak dari level 14 ribu per dolar AS.
”Anggota kami itu banyak, dari laporan yang masuk ke saya, sudah banyak yang mengalami kerugian. Namun kami tetap berusaha bertahan,” kata Rofiq kepada JPNN (Grup Bandung Ekspres) kemarin (2/9).
Dikatakan, walaupun sebagai mportir yang banyak mengalami kerugian akibat pelemahan rupiah, secara pribadi Rofiq melihatnya sebagai hikmah khususnya untuk produk dan komoditi yang bisa dibuat dan diproduksi dalam negeri.
”Sebenarnya banyak produk dan komoditi yang bisa kita buat sendiri. Hanya saja kualitasnya masih kalah bersaing dengan produk impor. Nah ini jadi tantangan bagi kita, untuk meningkatkan kualitas produk dalam negeri agar bisa bersaing dengan barang impor. Sekaranglah saatnya untuk bangkit,” tandasnya.
Sementara itu, produsen kemasan plastik PT Berlina Tbk (BRNA) yang menggantungkan bahan baku impor merugi besar. Direktur Utama BRNA Lim Eng Khim mengatakan, pihaknya tidak mengira atau kaget nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) bakal anjlok hingga tembus Rp14.000/USD. ”Di luar dugaan, saya tidak tahu (kurs anjlok),” ujarnya belum lama ini.
Akibat anjloknya rupiah, Lim menyampaikan, perusahaan terkena dampak kerugian kurs sebesar Rp26 miliar. Sementara perseroan juga memiliki utang dalam dominasi USD senilai USD26 juta. Utang luar negeri emiten manufaktur kemasan dan wadah plastik tersebut berasal dari pinjaman kepada Bank Mandiri, Bank HSBC dan Bank OCBC dengan jangka waktu 2,5 tahun.
Dia berharap, nilai tukar rupiah tidak akan kembali melemah lebih dalam, sehingga kondisi akan memperbaiki kinerja perusahaan. Kendati demikian, dia mengaku, masih ada potensi rugi kurs terjadi lagi di semester II tahun ini.
”Ada potensi lost lagi, tapi semester II kami harap nilai tukar stabil di angka sekarang, harapannya akhir tahun di kisaran Rp13.700-Rp13.800/USD,” jelas Lim.
Menurutnya, dengan kisaran seperti itu akan berdampak bagus untuk Berlina. Pasalnya, perusahaan memiliki komposisi bahan baku yang berasal impor sebanyak 60 persen. ”Bahan baku 60 persen impor dari Singapura dan Thailand,” pungkasnya.
Sebagai tambahan, PT Berlina Tbk mencetak laba bersih pada Semester I/2015 sebesar Rp2,14 miliar atau Rp 3 per saham. Angka ini anjlok dibandingkan periode yang sama tahun 2014 sebesar Rp37,36 miliar atau Rp 54 per saham.
Anjloknya kinerja BRNA pada semester I/2015 seiring dengan penurunan penjualan perseroan sebesar 12,20 persen menjadi Rp638,58 miliar dari Rp646,47 miliar pada periode yang sama tahun 2014. (jpnn/sin/fik)













