banner

Alat Impor Kuasai Pasar

darikita 14 Juli 2015
ILUSTRASI BEA MASUK: Alat mesin pertanian (alsintan) asal luar negeri dengan bebas masuk karena rendahnya bea masuk ke Indonesia.
vertical banner
Industri Pertanian AMDK Prospektif

darikita.com, JAKARTA – Rendahnya bea masuk (BM) impor alat mesin pertanian (alsintan) mengakibatkan industri alsintan lokal sulit berkembang dan hanya menguasai 20 persen pasar. Karena itulah, pelaku industri alsintan terus menyusut dari ratusan pada 1980-an menjadi sekitar 30 saat ini.

ILUSTRASI BEA MASUK: Alat mesin pertanian (alsintan) asal luar negeri dengan bebas masuk karena rendahnya bea masuk ke Indonesia.
ILUSTRASI
BEA MASUK: Alat mesin pertanian (alsintan) asal luar negeri dengan bebas masuk karena rendahnya bea masuk ke Indonesia.

”Bea masuk impor alat mesin pertanian utuh hanya 5-7,5 persen, sementara untuk bahan baku atau komponen sekitar 10 persen. Itu jauh di bawah bea masuk yang diberlakukan di negara lain seperti Thailand dan Vietnam yang sampai 35 persen. Akibatnya, harga alsintan impor relatif lebih murah ketimbang produk lokal,” kata Sekretaris Alsintani (Asosiasi Perusahaan dan Alat Mesin Pertanian Indonesia) Kasim Bangun akhir pekan lalu (11/7).

Meski begitu, dia mengapresiasi upaya pemerintah yang akan mendirikan Alsintan Center di setiap provinsi dan kabupaten. Program Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tersebut sudah lama ditunggu para pelaku industri alsintan. ”Alsintan Center sangat dibutuhkan dan bermanfaat untuk mempromosikan sekaligus menyosialisasikan penggunaan peralatan dan mesin pertanian produksi dalam negeri,” ungkapnya.

Saat ini baru ada dua Alsintan Center, yaitu di Sumbar dan Kalbar. Yang terbaru, Kemenperin membangun Alsintan Center di Makassar pada Kamis (9/7). Dia berharap keberadaan Alsintan Center di Makassar dapat mendukung capaian swasembada pangan nasional. ”Kami berharap pemerintah bisa terus menambah jumlah Alsintan Center karena ini terbukti bermanfaat bagi petani,” tutur dia.

Kepala Balai Besar Industri Hasil Perkebunan Kemenperin Willem P. Riwu menjelaskan, Alsintan Center akan dibangun secara luas untuk mendukung upaya swasembada pangan di tanah air.

Alsintan Center itu tidak saja berisi bengkel dan workshop untuk perakitan dan perbaikan alsintan. Namun, ada pula sarana pendidikan dan pelatihan SDM bidang mekanisasi pertanian, termasuk perakitan, perbengkelan, dan kewirausahaan.

Sementara itu, industri air minum dalam kemasan (AMDK) juga tidak kalah dengan industri alsintan. Pelaku bisnis tersebut juga agresif menyuntikkan modal.

Menperin Saleh Hasan menyatakan, kondisi tersebut membuktikan bahwa pasar dalam negeri terus tumbuh dan menyuburkan bisnis itu. ”Jumlah penduduk yang besar dan kebutuhan akan produk berkualitas menjadi magnet bagi industri ini untuk meningkatkan produksi dan investasi,” kata dia saat mengunjungi kantor pusat PT Oasis Waters International, Jumat sore (10/7).

Perusahaan AMDK itu, imbuh Menperin, bakal menambah investasi hingga total menjadi Rp 1,4 triliun. Perinciannya, investasi sepanjang periode 2011-2015 sebesar Rp 1,1 triliun dan pada 2016 siap digelontorkan lagi Rp 300 miliar. ”Kita lihat bahwa pertumbuhan ekonomi global sementara ini masih lemah. Di satu sisi, kita melihat yang dilakukan Oasis dengan melebarkan investasinya adalah wujud optimisme pelaku industri,” tuturnya. (wir/c22/14/agm/rie)

Untuk Anda
Terbaru