banner

Amankan Air Tanah, Sebelum Membangun Bandung Teknopolis

darikita 8 September 2015
vertical banner
Summarecon-bandung-ekspres-660x330 (1)
SUHENDRIK/BANDUNG EKSPRES PAPARAN: Dirut Summarecon Adrianto P. Adhi (kiri) dan Direktur Eksekutif Summarecon Bandung Hindarko Hasan menjelaskan tentang rencana pembangunan Summarecon Bandung di Savoy Homan.

SUMUR BANDUNG – Kawasan Gedebage masuk dataran rendah Kota Bandung. Memerlukan penanganan khusus dari segi drainase atau penampungan air. Kawasan yang kerap digenangi banjir itu, disebut bakal menjadi pusat Pemerintahan baru Kota Bandung versi teknopolis.

SUHENDRIK/BANDUNG EKSPRES  KAJI BANGUNAN: Meski pun memproyeksikan keuntungan namun Summarecon memastikan tetap memerhatikan aturan pembangunan dari pemerintah.
SUHENDRIK/BANDUNG EKSPRES
KAJI BANGUNAN: Meski pun memproyeksikan keuntungan namun Summarecon memastikan tetap memerhatikan aturan pembangunan dari pemerintah.

Namun, sebelum pembangunan dilakukan, baiknya pemerintah melakukan kajian untuk penanganan banjir terlebih dahulu. Hal tersebut diungkapkan Pengamat tata kota dari Institut Tekologi Bandung (ITB) Denny Zulkaidi.

Menurut dia, kawasan Bandung Utara ketika hujan selalu menyumbang air sebanyak 175 meter kubik/ detik ke kawasan Bandung Timur. Karena itu, memerlukan penanganan khusus. Kajian tentang kondisi tersebut sudah dilakukannya sejak 2005 lalu. Saat ini, Denny memprediksi air yang akan mengalir ke kawasan tersebut sebanyak 190 meter kubik/detik.

Pasalnya, pembangunan di kawasan utara sudah berkembang dan mengurangi intensitas resapan air. Hal tersebut otomatis membuat air tidak terkurangi dan langsung terbuang ke kawasan Bandung Timur.

’’Kalau sekarang mungkin sudah lebih, karena kawasan terbangunnya di kawasan Bandung Utara sudah banyak,’’ jelas dia kepada Bandung Ekspres Senin (7/9).

Selain itu, kata dia, kondisi tanah Gedebage tak terlalu bagus untuk dibangun kawasan permukiman. Pria yang mengikuti studi pengkajian kawasan Gedebage dari tahun 2005 ini menjelaskan, Gedebage merupakan daerah tempat bermuaranya air sungai, sehingga kawasan tersebut rawan banjir. Oleh sebab itu, perlu adanya pengkajian pengamanan debit air yang akan tertampung di kawasan tersebut.

’’Pertama itu, persoalannya kajian untuk amankan air dengan benar. Jangan salah hitung. Kemudian, dari segi konstruksi dan jenis tanah. Itu juga perlu konstruksi yang tepat. Kemudian, nanti mengenai jalur konstruksinya, apa mau pakai Jalur Soekarno Hatta itu kanbikin macet,’’ ungkap dia.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung yang akan membangun Bandung Teknopolis, merupakan kawasan industri berbasis teknologi tinggi. Bandung Teknopolis direncanakan berdiri di atas lahan seluar 800 hektare. Dia juga pesimistis Pemkot Bandung dan perusahaan lain dapat membangun itu di lahan tersebut.

Sejumlah perusahaan properti telah mengantongi izin untuk mengembangkan kawasan tersebut, di antaranya adalah PT Summarecon. Pengembang tersebut berencana membangun kompleks perumahan di atas lahan seluas 300 hektare di Gedebage. Lahan milik Summarecon adalah yang terbesar di kawasan tersebut. Selain Summarecon dan Pemkot Bandung, di lahan tersebut terdapat stakeholder lainnya, seperti PT Adipura.

Studi terakhir yang dilakukan oleh Pemkot Bandung terhadap kawasan Gede Bage dilakukan pada 2006. Pengkajian itu mengenai dampak lingkungan hidup, lingkungan sosial, dan cara menanggulangi dampak pembangunan di sana.

’’Ya saya harap sih pemkot dan pengembang perlu koordinasi dengan baik mengenai pembangunan yang akan di lakukan di sana. Jangan sendiri-sediri ngabangun,’’ ungkap dia.

Di tempat terpisah, Direktur Utama PT Summarecon Adrianto P. Adhi memastikan, sebagai pengembang yang bekerja sama dengan Pemkot Bandung akan mengikuti aturan yang berlaku sebelum memulai pembangunan. Artinya, seluruh regulasi, baik perizinan, rencana detail tata ruang maupun yang lain harus diselesaikan lebih dulu. ’’Ini sudah jadi komitmen kami,” tegas dia dalam pertemuan dengan media di Savoy Homan Hotel.

Meskipun memang, kata dia, merupakan suatu kebohongan bila sebagai investor, Summarecon tidak memperhitungkan aspek keuntungan saat menggarap proyek di Gedebage. Karena itu, pihaknya pun akan mengikuti aturan struktur pembangunan yang telah digariskan oleh para insinyur di Summarecon, saat akan membangun suatu kawasan. ’’Sebab, kami tidak maun-main dengan kualitas,” ucap dia.

Direktur Eksekutif Summarecon Bandung Hindarko Hasan menjelaskan, sebenarnya sejak tahun 1994, Pemkot bandung sudah menetapkan Gedebage sebagai pusat pengembangan kota baru. Artinya, pemkot pada masa itu sudah jeli. Terus berlanjut konsepnya sampai dengan kepemimpinan Wali Kota Ridwan Kamil. Dengan begitu, tidak tiba-tiba fungsi lahan Gedebage berubah dari sawah jadi bangunan. Lalu kemudian, diberi nama Teknopolis oleh wali kota saat ini agar lebih bersahabat. ’’Gedebage itu cantik duluan. Lalu kita kepincut,” kata pria berkaca mata ini.

Di samping itu, mengacu pada izin yang telah diberikan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Summarecon akan membangun akses jalan dari pintu tol ke Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Sepanjang 2,2 kilometer. Rencananya akan dibangun akhir September ini. Proyek itu tetap dikerjakan, jadi atau tidaknya GBLA menjadi venue untuk PON XIX/2016 Jabar. ’’Jalan itu dibangun bukan eksklusif untuk kami. Kemudian, sudah dapat izin dari Pak Gubernur (Aher),’’ ungkap dia. (fie/hen)

Untuk Anda
Terbaru