banner

Ayo Sekolah!

darikita 27 Juli 2015
Ravi/darikita.com
Dua orang anak pada salah satu SD di Cicalengka sedang menyiapkan buku tanda mulainya pelajaran. Hari ini (27/7), serentak sekolah memulai kegiatan belajr-mengajar.
vertical banner
Ravi/darikita.com  Dua orang anak pada salah satu SD di Cicalengka sedang menyiapkan buku tanda mulainya pelajaran. Hari ini (27/7), serentak sekolah memulai kegiatan belajr-mengajar.
Ravi/darikita.com
Dua orang anak pada salah satu SD di Cicalengka sedang menyiapkan buku tanda mulainya pelajaran. Hari ini (27/7), serentak sekolah memulai kegiatan belajr-mengajar.

darikita.com, Tepat pada senin (27/7)`anak-anak sekolahan kembali beraktifitas. Dari tingkat SD, SMP hingga SMA. Ditambah dengan kedatangan siswa baru yang tentu saja membuat sekolah kembali harus melakukan penyesuaian. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) begitulah namanya.

Ada rasa senang, sedikit tegang hingga rasa segan menghampiri. Banyak kejadian MPLS yang bisa dikatakan negatif. Tidak terlalu buruk memang, tapi cara para senior memperlakukan junior kadang terlihat diluar batas wajar dan memilukan. Lupakan sejenak cerita lama tentang ospek yang menakutkan.

Masuk sekolah itu mendapat teman baru, seragam baru, guru baru dan tentu lebih lengkap bila adanya bangku baru yang masih dihinggapi bau-bau khas kayu yang masih segar. Pengenalan sekolah dan ekstrakulikuler menjadi sasaran utama. Tak lupa makanan piramid atau bacang, ‘kursi goyang’ sebagai alas duduk, permen kaki merah dan lain sebagainya.

Semua memiliki tujuan sama, agar semua siswa baru beradaptasi. Namun pada ajaran baru yang sekarang ini, pemerintah gencar-gencarnya mengawasi MPLS yang berlangsung.

“Kita memantau dari dinas hari pertama itu seperti apa kalau ada hal-hal seperti itu (negatif) kita turun tangan menertibkan,” papar Kepala Disdik Elih Sudiapermana seperti yang dikutip dari tribunnews.com.

Menurutnya guru dan kepala sekolah harus lebih aktif lagi dalam menyelenggarakan MPLS. “Guru dan kepala sekolah harus lebih aktif sebagai pembina yang selama ini membiarkan acaranya oleh anak-anak (siswa senior),” Jelas Elih

Ia pun berharap agar para sekolah untuk lebih memberikan sesuatu yang postif, seperti Pengajian. Pihaknya pun telah memberikan surat edaran kepada tiap sekolah agar tidak melakukan tindakan negatif selama MPLS. “Iya pokoknya jangan sampai (kekerasan), kan sudah tidak musim lah seperti itu, karena ada efek negatif lah, terus jangan sampai ada penugasan-penugasan nu ngalieurkeun (yang membingungkan) dan gak jelas arahnya,” ujarnya.

Pendidikan adalah suatu yang hakiki. Kadang banyak orang memandang dari tingkat pendidikan dan keahliannya. Sekilas, artikel ini membuat kita sedikit menoleh sedikit ke arah sekolah. Semoga. Walau pendidikan bisa didapat dimana saja, namun sekolah termasuk pilar kuat terbentuknya pendidikan, tentunya selain pengalaman.

Sekali lagi, Selamat bersekolah bagi yang sekolah dan selamat menuju ke sekolah bagi yang tidak. Jangan lupa, “Pendidikan adalah hak segala bangsa”. Ayo Sekolah! (Ravi/dk)

Untuk Anda
Terbaru