banner

Bis untuk Tamu Sudah Dilapisi Anti Peluru

darikita 18 November 2015
RADAR TIMIKA BERKUNJUNG: Saleh Husin (kanan), Sudirman Said (kedua kanan), dan Sofyan Djalil (kiri) menyimak penjelasan karyawan PT Freeport Indonesia
vertical banner

Melihat Lebih Dekat Kawasan PT Freeport Indonesia (1)

darikita.com, PT Freeport Indonesia (PTFI) saat ini tengah menjadi sorotan media akibat dugaan salah satu oknum petinggi DPR RI meminta jatah saham dari PTFI sebesar 46 persen. Isu yang mulai didengungkan oleh Menteri ESDM, Soedirman Said kian mengejutkan ketika transkip pembicaraan antara SN dan Presdir PTFI, Maroef Syamsoedin mulai beredar di media sosial.

Misba Latuapo, Mimika.

BERBICARA mengenai Freeport, sebagian besar pasti akan bertanya, seperti apa area perusahaan tambang berbendera Amerika tersebut? Ya, PT Freeport Indonesia berada di Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua. Aktivitas penambangan Freeport berada di ketinggial 4200 permukaan laut dengan kawasan produksi berada di area terbuka (Grasberg) dan tambang bawah tanah (Underground).

Ke Grasberg ada dua jalur yang bisa dilalui, yakni menggunakan jalan darat yang cukup berliku dan melalui tramp di mile 74. Saat ini sebagian besar aktivitas penambangan masih berpusat di area Grasberg. Total karyawan Freeport Indonesia mencapai 30.004 orang dengan komposisi 21.462 orang atau 72 persen non Papua, 7.772 orang atau 26 persen asli Papua, serta 770 orang atau dua persen tenaga asing.

Sebagian besar karyawan PT Freeport Indonesia mendiami kawasan Tembagapura (kawasan pegunungan) tepatnya di mile 66 dan Kota Kuala Kencana (Dataran rendah) atau sering disebut Kota di Dalam Hutan. Sedangkan, keluarga karyawan non staf tinggal di Kota Timika. Para pekerja hanya menempati mes-mes yang disediakan Freeport di Mile 72.

Kawasan Tembagapura berjarak 110 kilometer dari dataran rendah Kota Timika. Sedangkan, Kota Kuala Kencana berjarak sekitar 18 kilometer dari Kota Timika. Di jalan tambang Freeport menuju Tembagapura, ada satu terowongan di mile 58. Terowongan dengan jarak 1.050 meter itu diberi nama Trowongan Hanake. Sementara untuk menuju area Grasberg, akan melintasi trowongan dengan jarak 950 meter.

Terowongan dikenal dengan nama Trowongan Zakam. Suhu dingin di kawasan Tembagapura sendiri berkisar antara 21-22 derajat. Sedangkan di Grasberg, ketika bulan Januari tiba bisa -0 derajat. Terkadang di bulan-bulan tertentu salju juga turun di Grasberg. Tapi rata-rata suhu di kawasan yang dekat dengan pibcak cartenz itu sekitar 15 derajat.

Kawasan PT Freeport Indonesia dikatakan sebagai Objek Vital Nasional (Ovitnas), sehingga tidak semua warga Mimika maupun dari luar Mimika bisa leluasa masuk ke area PT Freeport. Di mile 28, tepatnya sebelah kiri Bandara Mozes Kilangin, terdapat satu pos Security. Kawasan PT Freeport Indonesia juga dijaga ketat oleh aparat TNI dan Polri yang disebut Satgas.

Anggota yang tergabung dalam Satgas, merupakan gabungan dari beberapa Polda di Indonesia. Untuk masuk ke jalan yang bisa menghubungi area pelabuhan PTFreeport Indonesia di Amamapare, Distrik Mimika Timur. Kota Kuala Kencana dan Tembagapura, pengunjung non karyawan PT Freeport Indonesia maupun kontraktor dan privatisasi harus mengantongi izin. Sementara kanryawan Freeport, harus check in menggunakan kartu yang sudah tertera nomor ID masing-masing.

Pengunjung non karyawan harus menyertakan kartu visitor yang juga tertera nomor ID. Para tamu juga mendapat pemeriksaan. Tidak hanya di mile 28, di pintu masuk Kota Kuala Kencana, tepatnya sekitar 100 meter dari Polsek Kuala Kencana, pengunjung juga harus melapor di pos yang setiap harinya dijaga oleh sekitar 5-6 security PT Freeport Indonesia. Ketika masuk ke area Freeport, aturan harus dipatuhi.

Kendaraan melintas di kawasan tersebut kecepatannya di bawah pengawasan security. Seperti saat Radar Timika (Grup Bandung Ekspres) mengunjungi PT Freeport Indonesia untuk meliput perayaan 17 Agustus 2015 di Tembagapura di Mile 66 dan Pengibaran Bendera Merah Putih di Tambang Bawah Tanah dengan kedalaman 1,6 kilometer dari permukaan tanah. Untuk menuju Tembagapura, bisa melalui akses jalan darat dan udara. Para tamu yang diundang Freeport menggunakan bis khusus berwarna biru yang sudah disediakan oleh PTFI.

Pasca penembakan dan teror yang terjadi di PT Freeport Indonesia tahun 2009 hingga 2011, semua bis untuk karyawan dan para tamu sudah dilapisi anti peluru. Bis untuk para tamu biasanya standby di depan Hotel Rimba Papua(RPH). Sedangkan, bis untuk mengangkut karyawan yang tingga di Kota Timika setiap harinya nangkring di Terminal Gorong-gorong.

Di Terminal ini, tidak semua warga bisa masuk. Security PTFI juga melakukan penjagaan di area tersebut. Sementara untuk jalur udara ada 4 helikopter yang disediakan PT Freeport Indonesia di Bandara Internasional Mozes Kilangin. Bandara tersebut adalah milik PT Freeport Indonesia. Saat ini juga digunakan oleh dua Maskapai penerbangan komersil, yakni Garudan Indonesia dan Srwijaya Air.

Sebelum masuk area Freeport (keuali Kuala Kencana), para tamu harus mendapat sosialisasi mengenai safety di PT Freeport Indonesia. Mulai dari mengenakan helem, kacamata dan sepatu yang bagian depannya terdapat besi. Rompi yang dikenakan oleh para tamu juga berbeda dengan karyawan PT Freeport Indonesia pada umumnya. Ketika sudah berada di Tembagapura pun, para tamu harus mendapat arahan dari tim Freport mengenai standar keselamatan. Karena di area tambang terdapat banyak alat-alat berat, maka harus mengikuti aturan yang dibuat Freeport.

Seperti yang disaksikan wartawan, di area Freeport, karyawan maupun para tamu tidak leluasa melakukan apapun yang diinginkan. Semua harus mengikuti prosedur. Misalnya, ketika berada di mile 66 Tembagapura, Anda tidak akan bisa menumpangi bis sendirian untuk menuju mile 74 maupun area grasbers. Untuk mengunjungi area tertentu harus mendapat pentunjuk dari Freeport.

Mengenai fasilitas yang berada di area tambang, bagi para tamu yang baru berkunjung, Anda akan tercengang dan tidak bisa membayangkan, seperti apa Negeri di Atas Awan itu dibangun. Dan bagaimana seluruh material diangkut dengan kondisi jalan sedemikian miring yang sisi kiri dan kanan terdapat jurang yang cukup terjal. Bayangkan saja, di Kawasan Tembagapura, seluruh fasilitas terpenuhi. Perumahan yang memadai untuk staf, barak-barak untuk karyawan non staf, area belanja, fitness, restoran, tempat nongkorong, rumah sakit, masjid, gereja, sport hall, semuanya tersedia dan sekolah bertaraf internasional.

Material dan seluruh kebutuhan para pekerja diangkut menggunakan mobil khsusus dengan kapasitas besar. Tembagapura didesain sedemikian rupa hingga kota yang berada di atas awas terlihat seperti berada di bawah lembah perbukitan. Di kawasan tersebut, lalulintas kendaraan sangat teratur dan semua menggunakan nomor lambung.

Jika mengendarai kendaraan khusus di area Freeport tidak sesuai dengan standar kecepatan yang ditetapkan, maka warning pun bisa dikeluarkan. Data yang diterima dari PT Freeport Indonesia meyebutkan, ada sekitar 30 ribu karyawan yang bekerja di kawasan tersebut. Para pekerja sebagian besar tinggal di Kota Timika.

Untuk bekerja ada jadwal yang sudah diatur. Ada istilah 6-2, 5-2,5-3 dan lainnya bagi yang off kerja. Itu artinya, para pekerja akan berada di kawasan tambang sekitar enam hari dan lima hari. Mereka baru akan kumpul dengan keluarga ketika waktu off tiba, yakni dua-tiga hari.

Setelah itu, mereka akan naik kembali ke kawasan Tembagapura untuk melakukan aktivitas kerjanya. Untuk istirahat, karyawan diberikan waktu cuti enam bulan sekali. Para karyawan difasilitasi dengan pesawat airfast non komersil. Tidak hanya karyawan yang terdaftar, anak isteri, orang tua dan mertua bagi yang sudah menikahpun mendapatkan fasilitas penerbangan gratis, termasuk pelayanan kesehatan dan pendidikan.

Sedangkan, di Kuala Kencana, juga terdapat kolam renang, dua lapangan sepak bola, area belanja dan bermain untuk para pengunjung. (*/tam)

Untuk Anda
Terbaru