Perjuangan Anak-anak Gili Re Menyeberangi Laut ke Sekolah
darikita.com, Kondisi murid SDN 5 Satap Pemongkong, Kecamatan Jerowaru, Lotim yang berasal dari Gili Re, Desa Pare Mas harus bertaruh nyawa demi menimba ilmu. Mereka harus menyeberangi lautan untuk menuju sekolahnya.
—————————
JALALUDIN–LOMBOK TIMUR
—————————
Gili Re Desa Pare salah satu pulau-pulau kecil di Kecamatan Jerowaru Lombok Timur. Dibanding gili-gili yang lain, di gili ini tidak banyak fasilitas publik yang dibangun pemerintah seperti sekolah. Anak-anak setempat bersekolah di SDN 5 Satap Pemongkong di pulau lain Gili Beleq. Jarak antara Gili Re dengan Gili Beleq sekitar 280 meter.
Antara kedua pulau kecil ini,tidak ada jembatan yang menghubungkannya. Sehari-hari warga menggunakan perahu kecil sebagai sarana transportasi. Tetapi tidak sedikit warga yang memilih menyeberang dengan berenang atau berjalan meski sebagian badannya direndam air laut.
Inilah yang dilakukan puluhan murid SD dan SMP sekolah ini terpaksa setiap hari basah kuyup karena menyeberang menuju sekolahnya. ’’Kami sudah bosan menyekolahkan anak-anak kami karena kondisinya seperti ini,” kata Ridwan, salah satu warga GIli Re.
Tidak jarang anak-anak mereka terpaksa tidak sekolah manakala musim badai, sehingga terpaksa mengganggu belajar mereka.
Jika terpaksa diantar menggunakan perahu, maka terkendala saat akan pulang nantinya. Murid-murid ini tidak ada yang menjemput, lantaran aktivitas para orang tua yang harus meninggalkan rumah guna melaut, ke pasar atau berbagai aktivitas lainnya. ’’Sehingga terpaksa anak-anak terkadang pulang hingga sore lantaran tidak ada yang menjemput,’’ ungkapnya.
Kadus Gili Re Abdurrahman mengatakan, anak-anak asal Gili tersebut terpaksa menyeberangi laut lantaran tidak adanya perahu atau sampan untuk dipergunakan para pelajar ini menuju sekolahnya. ’’Sudah berkali-kali pemerintah menjanjikan untuk membangun jembatan atau menyediakan sarana guna memudahkan anak-anak ke sekolah. Akan tetapi nyatanya sampai dengan saat ini tidak terealisir,’’ katanya.
Tentu saja hal ini membuat warga setempat kesal hingga beberapa waktu lalu sempat dilakukan aksi mogok. Anak-anak mereka tidak diperkenankan ke sekolah selama 15 hari. ’’Sebagai aksi protes atas janji-janji pemerintah yang tidak kunjung trealisir, jadi kami sudah bosan menyekolahkan anak-anak kami hingga sering terjadi kecelakaan dan merenggut anak-anak kami,’’ jelasnya.
Warga itu bersekapakat untuk memberhentikan anak-anak mereka dari sekolah mereka, lantaran tidak adanya perhatian dari pemerintah. Warga khawatir anak-anak mereka akan menjadi korban.
Sepengetahuannya sudah ada tiga anak-anak mereka yang telah menjadi korban lantaran hanyut, perahu terbalik akibat badai. ’’Bayangkan, telah beberapa anak kami menjadi korban, akan tetapi sama sekali tidak ada perhatian dari pemerintah ataupun lembaga pendidikan bahkan dari sekolahnya,’’ ungkapnya.
Anak-anak ini juga sering mengeluhkan buku-buku mereka rusak dengan cepat karena sering terendam air laut. Bagi warga yang sebagian besar hidup dibawah garis kemiskinan, membelikan anak-anaknya buku dirasakan berat karena tidak memiliki uang. ’’Ini kebetulan airnya surut dan juga cuaca bersahabat, anak-anak bisa jalan di air tanpa membuka celana atau baju. Bayangkan jika air pasang dan terjadi badai, pasti akan basah kuyup dan sepatu, tas serta buku-buku anak-anak akan menjadi rusak akibat terendam air laut,’’ jelasnya lebih lanjut.
Beberapa waktu lalu, Ketua DPRD Lotim H Khairul Rizal telah berkunjung ke Gili Re. Warga menyampaikan aspirasi untuk dapat diperjuangkan dalam pengadaan jembatan yang menghubungkan Gili Re dengan Gili Beleq, tempat sekolah anak-anak mereka. Minimal dapat diupayakan pengadaan perahu. ’’Namun demikian, sebenarnya kami lebih memilih pembangunan jembatan, baik dengan menggunakan kayu, busa atau bila memungkinkan yang permanen, sehingga anak-anak akan aman saat pergi dan palang sekolah,’’ harapnya.
Halidi guru SDN Satap 5 Pemongkong, mengatakan jika pihaknya juga berharap adanya fasilitas yang disiapkan bagi anak didiknya sehingga tidak terkendala saat pergi bersekolah. Dia mengusulkan agar dibangun jembatan yang menghubungkan kedua pulau ini. ’’Kalau perahu, saya rasa akan menjadi kendala nantinya, sebab akan susah dalam pengelolaan oleh pihak yang diberikan amanah. Sehingga lebih baik dibangunkan jembatan saja,’’ katanya.
Dikatakan sebanyak 39 orang murid yang terdiri dari 23 SD dan 16 SMP terpaksa harus basah kuyup setiap datang ke sekolah, lantaran berendam saat menyeberangi laut untuk ke sekolah. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi kondisi anak dalam belajar dan bahkan mungkin akan mengganggu kesehatan mereka. (*)













