”Melalui Puskesos , PMKS yang terjaring kita bina sendiri,” kata Irma.
Mekanisme tersebut, terang Irma, bukan tidak mungkin akan menyelesaikan masalah PMKS di Kota Bandung. Sebab, saat ini, hasil razia sebatas disinggahkan di rumah singgah selama 3 hari. Setelah itu, dipulangkan ke keluarganya, selanjutnya, Dinsos tak mampu mengontrol lagi. Paling banter, ketemu saat mereka kembali terjaring. Artinya, setelah dipulangkan, mereka kembali turun ke jalanan.
Tetapi, dengan program penindakan yang sedang digalakan, yaitu minimal dengan razia tiga kali dalam seminggu, yang tadinya dua kali seminggu. Sedikit banyak, membuat tidak nyaman PMKS.
.Cara lain, meminimalisasi PMKS di jalanan, sambung Irma, jangan pernah memberi mereka apapun apalagi uang. Untuk itu, dalam membantu program pemerintah, maka berdonasilah ke lembaga resmi, jangan dijalanan. Apalagi di bulan puasa.
”Itu dilakukan akan meruksak program pemerintah daerah yang sedang dijalankan,” tandas Irma.
Berdasarkan fakta lapangan, PMKS saat operasi di dua titik di Bandung. Dalam satu jam saja, mereka bisa mengais rezeki Rp 30 – 40 ribu. ”Caranya dengan berbagai trik bermodal duluan lalu minta dikasihani. Ini fenomena baru hadirnya PMKS baru di kota-kota besar,” kata Irma.
Strategi para PMKS itu, dalam sehari bisa raih pendapatan hingga Rp 400 ribu. Untuk itu, strategi Dinsos, melawan PMKS, secepat mungkin merespon laporan warga, mengimbau hindari rasa iba melalui pemberian, meningkatkan jadwal penjangkauan dan Dinsos menerima laporan warga kapan saja yang langsung ditindaklanjuti tim rompi merah. (edy/fik)













