banner

DBD Rambah Daerah Dataran Tinggi

darikita 23 Januari 2016
ASAP: Fogging menjadi salah satu cara mencegah datangnya penyakit demam berdasarh dengue. Di Karawang, kasus DBD terus meningkat dan terbanyak selama lima tahun terakhir.
vertical banner
Terbanyak Lima Tahun Terakhir

darikita.com, Selama kurun satu bulan terakhir, penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Karawang terus meningkat. Daerah dataran tinggi Karawang menjadi penyumbang terbanyak pasien DBD. Salah satunya Kecamatan Tegalwaru. UPTD Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Tegalwaru sudah menangani sedikitnya 62 pasien DBD.

Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, angka DBD terus semakin parah. Tahun 2015, angka DBD dinilai paling besar. Dalam waktu satu bulan terakhir, UPTD Puskesmas Kecamatan Tegalwaru telah menangani 62 pasien DBD yang tersebar di seluruh desa.

’’Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini merupakan yang paling banyak,” ungkap petugas Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) UPTD Puskesmas Tegalwaru, Ahmad Bunaji.

Kecamatan Tegalwaru berada di ketinggian 700 mdpl sampai 1200 mdpl. Sehingga daerah dengan bukit dan pegunungan jenis hutan ini menjadi salah satu lokasi penularan DBD terbesar saat ini. ’’Kalau dulu, hanya 3 sampai 4 pasien yang diduga mengalami DBD. Kemungkinan nyamuk tersebut bertelur di air-air seperti potongan bambu, soalnya ada beberapa daerah yang mengandalkan bambu sebagai mata pencahariannya,” terangnya.

Dia mengatakan, jumlah warga yang positif terjangkit DBD sebanyak 11 orang dan 51 lainnya dinyatakan suspect. ’’Masalahnya kita periksa di sini trombosit darahnya rendah, kemudian ketika rujuk ke rumah sakit itu kembali normal. Rata-rata yang kita periksa jumlah trombosit mencapai 20 ribu sampai 50 ribu. Padahal normalnya 150 ribu sampai 200 ribu trombosit,” ungkapnya.

Secara teori, diyakini bahwa nyamuk aedes aeygpti tidak berkembang di daerah dataran tinggi. Namun teori itu terpatahkan setelah mulai ditemukan penularan di kawasan pegunungan tersebut. Pasalnya hal tersebut terjadi di seluruh wilayah, diantaranya Desa Cigunungsari 12 orang, Cipurwasari 12 orang, Cintawargi 7 orang, Kutamaneh 4 orang, kutalanggeng 8 orang, Cintalanggeng 4 orang, Mekarbuana 5 orang, Cintalaksana 2 orang, dan terakhir Desa Wargasetra 8 orang. ’’Rata-rata mereka berumur 4 sampai 10 tahun, hanya ada 4 orang yang menyerang dewasa,” ujarnya.

Selama dua pekan terakhir, pihaknya telah melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui Fogging (pengasapan), penyuluhan dan pemberian abatisasi. ’’Fogging, penyuluhan dan abatisasi kita lakukan diseluruh desa. Besok juga kita akan lakukan, sistem fogging ini kita lakukan dengan jarak 100 meter dari rumah terkena DBD,” ucap petugas Promkes (Promosi Kesehatan), UPTD Puskesmas Tegalwaru, Asep Kusmayadi.

Menurut Asep, langkah-langkah PSN ini terkendala dengan kebiasaan masyarakat, sehingga pihaknya terus berupaya dengan pemberantasan melalui sistem sosialisasi. Kita upayakan dengan jemput bola, sekaligus dengan pemerintah dan tokoh desa. ’’Bahkan demi antisipasi, setiap ada kejadian panas dingin yang parah masyarakat harus segera periksa ke Puskesmas,’’ ungkapnya.

Humas RSUD Karawang Ruhimin menyebutkan pasien DBD dalam minggu ke 3 bulan Januari ini tercatat 20 pasien. Dia menyebutkan, hampir 60 persen pasien yang ditanganinya berasal dari Kecamatan Tegalwaru yang merupakan dataran tinggi. (ask/din/vil)

Untuk Anda
Terbaru