banner

Di Balik GO-JEK, Ada Nadiem Makarim

darikita 11 Agustus 2015
FADEL SENNA/AFP PHOTO REAKSI CEPAT: Para pengemudi GO-JEK berpose belum lama ini. GO-JEK menjadi salah satu moda transportasi dalam negeri yang kurang ditanggapi baik kompetitor.
vertical banner
FADEL SENNA/AFP PHOTO REAKSI CEPAT: Para pengemudi GO-JEK berpose belum lama ini. GO-JEK menjadi salah satu moda transportasi dalam negeri yang kurang ditanggapi baik kompetitor.
FADEL SENNA/AFP PHOTO
REAKSI CEPAT: Para pengemudi GO-JEK berpose belum lama ini. GO-JEK menjadi salah satu moda transportasi dalam negeri yang kurang ditanggapi baik kompetitor.
Atasi Kompetitor dengan Berani dan Tulus
darikita.com, Anda yang tinggal di Jabodetabek, Surabaya, Bali, dan Bandung tentu tidak asing lagi dengan GO-JEK. Di balik sukses itu, ada sosok Nadiem Makarim, CEO sekaligus founder yang memprakarsai lahirnya GO-JEK.
FADEL SENNA/AFP PHOTO REAKSI CEPAT: Para pengemudi GO-JEK berpose belum lama ini. GO-JEK menjadi salah satu moda transportasi dalam negeri yang kurang ditanggapi baik kompetitor.
FADEL SENNA/AFP PHOTO
REAKSI CEPAT: Para pengemudi GO-JEK berpose belum lama ini. GO-JEK menjadi salah satu moda transportasi dalam negeri yang kurang ditanggapi baik kompetitor.

MUNGKIN belum banyak yang mengenal nama pria lulusan Harvard Business School tersebut. Namun, kini siapa saja mengenal perusahaan jasa antar jemput ojek fenomenal miliknya.

Fenomenal? Betapa tidak, sejak di-launching Januari awal tahun ini, kini bisnis ojek miliknya mempunyai lebih dari 2 juta downloader yang mengunduh melalui platform digital. Jumlah itu juga dipastikan makin bertambah, mengingat tingginya minat masyarakat terhadap layanan antimacet tersebut.

”Asal ada loyalitas konsumen, kami akan jaya,” ujarnya saat menjadi pembicara di Ideafest 2015 di Jakarta Convention Center pada Sabtu (8/8).

Tentu, Nadiem membangun bisnisnya bukan hanya sehari semalam. Jatuh bangun telah dilaluinya. Sepak terjang pria kelahiran 4 Juli, 31 tahun lalu, itu di bidang social entrepreneurship bukanlah isapan jempol semata.

Sebelum melahirkan GO-JEK, dia pernah menjadi cofounder dan managing editor Zalora Indonesia. Namun, berbekal niat dan pengetahuannya yang cukup di bidang IT, Nadiem memutuskan untuk membuat perusahaan sendiri dengan nama GO-JEK.

”Tujuan saya bikin GO-JEK sebetulnya sederhana saja. Selain membantu ojek konvensional, saya ingin menyejahterakan seluruh provider di Indonesia. Saya ingin bisa membantu siapa pun, baik mitra bisnis maupun konsumen,” tutur dia disambut tepuk tangan oleh audiens yang hadir.

Tujuan mulia tersebut akhirnya membuahkan hasil. Kini perusahaan layanan jasa ojek miliknya itu telah memiliki lebih dari 20 ribu pengemudi ojek yang tersebar di kota-kota besar.

Dia menyebutkan, dalam mengembangkan bisnis miliknya, ada empat pilar yang harus dibangun dengan kukuh. Yakni, internal perusahaan GO-JEK, user, driver, dan merchant penyedia layanan GO-JEK. ”Jika satu di antara empat pilar itu retak, the whole thing going to break,” tegasnya.

Nadiem menjelaskan, kukuhnya empat pilar tersebut menentukan nasib bisnis pada masa mendatang. Selain itu, kepercayaan dari konsumen akan terus dibangun. Tidak mudah memang. Mengingat, banyak intimidasi dari berbagai oknum yang kini mulai diterima para pengemudi ojek.

Namun, dia tetap yakin bahwa tujuan mulianya bakal membuahkan hasil. ”Kami mau rangkul mereka (ojek konvensional), tapi memang takes time,” ungkapnya.

Di wilayah Jabodetabek, kini banyak bermunculan layanan ojek yang bisa dibilang mirip seperti GO-JEK. Tapi, niat mulia Nadiem untuk memberikan layanan terbaik bagi masyarakat tidak pernah surut. ”Resep saya meng-handle kompetitor ada dua. Yaitu, hadapi dengan keberanian dan hati yang tulus. Sederhana saja,” terang dia.

Tapi toh kenyataan di lapangan penolakan pada Go-jek kian gencar terjadi di sejumlah wilayah. Sejumlah tukang ojek pangkalan merasa tersaingi dengan adanya pengemudi ojek via aplikasi android itu.

Beberapa di antaranya sampai memampang spanduk penolakan di wilayah Kalibata City, Jakarta Selatan, Selasa (7/7). Sebuah spanduk berukuran 1×2 meter terpampang di sebuah pagar di dekat wilayah Kalibata City. Sebuah spanduk dengan tulisan ”GoJek/Grab Bike Dilarang Masuk Di Kawasan Kalibata City”.

Sejumlah pengendara Go-Jek juga mendapat perlawanan di wilayah Kampus UI Depok. Bahkan pengendara moda transportasi motor via aplikasi andorid itu dibegal dan dilarang beroperasi di wilayah Kampus UI.

Sementara itu, meski banyak pihak menuding bahwa jasa pemesanan ojek online Go-Jek dan Grab Bike merupakan perusahaan gelap. Sebaliknya, Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama tetap mendukung keberadaan perusahaan tersebut.

Sebelumnya, dukungan pria yang akrab disapa Ahok ini telah ditentang Organisasi Angkutan Darat (Organda). Sebab, bagaimana pun kendaraan roda dua (motor) tidak disebutkan dalam Undang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UULLAJ) dapat dijadikan sebagai moda trasportasi massal (angkutan umum).

Saat itu karena dukungannya terhadap keberadaan Go-Jek Ahok mengimbau agar tukang ojek konvensional bergabung dengan perusahaan yang identik dengan warna hijau itu. Namun, dengan sikap tersebut Ketua DPD Organda DKI Shafruhan Sinuringan justru menilai Ahok sebagai Gubernur telah menabrak Undang-undang.

Ketua Komisi V DPR Michael Wattimena mengakui dinamika hadirnya piranti lunak seperti Go-jek, GrabTaxi dan GrabBike memberikan dampak kepada transportasi yang telah memiliki regulasi seperti angkutan umum yang ada saat ini.

Kendati demikian, dia mengatakan piranti lunak transportasi tersebut masih belum memerlukan regulasi dalam penggunaan aplikasi-aplikasi itu. ”Hingga saat ini fasilitas itu masih memberikan kemudahan bagi masyarakat. Belum muncul keresahan yang sifatnya musuh bersama,” ucap Michael di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (7/7) lalu.

Sebelumnya, Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) Ellen SW Tangkudung mengatakan Go-jek, GrabTaxi, dan GrabBike dapat membahayakan keberadaan angkutan umum konvensional di Jakarta dan beberapa kota lain. Bahaya dapat muncul jika tidak ada pengaturan untuk penggunaan aplikasi-aplikasi macam itu oleh Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat. ”Kalau ada indikasi keresahan dalam menjaga keamanan dan kenyamanan pemakai, maka itu akan diproteksi,” tuturnya.

”Dengan adanya ini, akhirnya (angkutan konvensional) jadi terkoreksi. Daripada nunggu lama, mendingan hubungi sebentar dan ojek datang,” ucap Politikus Partai Demokrat ini.

Untuk diketahui, GrabTaxi merupakan sebuah aplikasi peranti lunak yang berasal dari Malaysia. Aplikasi tersebut bekerja sama dengan perusahaan taksi yang sudah ada di Indonesia, dan berperan menghubungkan pengguna dengan perusahaan terkait.

Sementara itu, Go-jek merupakan aplikasi asli buatan anak Indonesia yang bergerak di bidang perhubungan antara pengguna jasa dengan para tukang ojek yang tergabung di dalamnya. Aplikasi Gojek yang tersedia untuk pengguna smartphone telah diluncurkan sejak Januari 2015. (dee/c14/tia/bbs/rie)

Untuk Anda
Terbaru