banner

Dua Anggota Santoso Ditangkap

darikita 19 April 2016
MOTIVASI: Kapolri Badrodin Haiti menemui personel Operasi Tinombala atau operasi pengejaran Santoso Cs di Poso, Jumat (15/4)
vertical banner

darikita.com, SUMUR BANDUNG – Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengkalaim telah berhasil menangkap dua terduga anggota teroris Santoso di wilayah hutan pegunungan Poso Lore Timur atau Lembah Napu. Mereka ditangkap ketika mereka tengah turun gunung hendak mencari bahan makanan ke perkampungan.

Dua anak buah Santoso tersebut, yakni Ibadurohman alias Ibad alias Amru dan Mochamad Sonhaji Sulaiman alias Sul alias Faqih. Keduanya terbilang masih muda. Ibad yang merupakan warga asal Banyumas, Jawa Tengah, lahir pada 1995. Sedangkan Sul, lahir tahun 1997.

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan, penangkapan kedua terduga teroris ini diwarnai kontak tembak antara Densus 88 dengan kelompok tersebut. ’’Anggota kami berhasil menangkap mereka ketika turun gunung karena akan mencari makanan di sekitar perkampungan,’’ kata Badrodin kepada wartawan di Hotel Arya Duta, Jalan Sumatera, Kota Bandung kemarin (18/4).

Badrodin mengungkapkan, pada saat kontak senjata antara petugas dengan para teroris tersebut, diperkirakan ada anggota teroris yang terkena (tembak). Namun setelah kita sisir tidak ditemukan hingga saat ini petugas masih melakukan pengejaran. Jaringan teroris Santoso alias Abu Wardah kini telah terbagi menjadi tiga hingga empat kelompok. Posisi tersebut telah dipersempit oleh petugas gabungan yang melakukan pengejaran terhadap mereka.

’’Mereka terbagi menjadi beberapa kelompok, itu strategi mereka. Namun mereka sudah semakin terjepit,’’ ungkapnya.

Lebih lanjut Badrodin menegaskan, operasi Tinombala 2016 efektif hingga bulan Mei ini. Dalam operasi tersebut, petugas gabungan akan terus melakukan pengepungan terhadap jaringan teroris ini. Mereka akan mengalami kesulitan dalam hal bahan makanan, sehingga salah satu indikasinya turun ke kampung. Diperkirakan jumlahnya kini semakin sedikit sekitar tinggal 27 orang dari 29.

’’Saat ini, selain kesulitan makanan mereka juga sudah terjepit. Karena petugas gabungan terus melakukan pengejaran dan mempersempit ruang gerak mereka,’’ pungkasnya.

Sementara itu, di tempat berbeda Kapolda Sulteng, Brigjen Rudy Sufahriadi mengatakan, dua orang yang diamankan terakhir oleh petugas, diharap bisa menguak keberadaan Santoso dan informasi-informasi penting lainnya.

Meski sudah diamankan sejak Kamis lalu, namun polisi belum bisa menggali informasi mendalam dari kedua orang tersebut. Pihak kepolisian, masih melakukan pemulihan terhadap kondisi kedua anggota Santoso, yang diperkirakan mengalami kekurangan gizi. ”Mereka masih kita recovery (pemulihan) dulu. Nanti kalau sudah pulih benar, baru kita lakukan pemeriksaan,” terang Rudy.

Memang saat diamankan petugas di wilayah Padalembara, Poso Pesisir Selatan, kedua pelaku dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, karena kelaparan. Disinggung terkait, ditemukannya dua anggota Santoso tersebut, di luar fokus pencarian aparat gabungan saat ini di wilayah Napu, Rudy mengakui memang, anggota kelompok Santoso ini memang memecah menjadi beberapa kelompok kecil. ”Karena terpecah, tetap kita cari dan dalami di mana saja kelompok-kelompok ini berada,” sebut Rudy.

Petugas kata dia, sudah memetakan area-area pelarian kelompok Santoso. Namun demikian, dengan alasan teknis pencarian di lapangan, dirinya tidak akan membeberkan hal tersebut kepada media. ”Yang jelas kita tetap berharap Santoso segera didapat,” tegasnya.

Jika pun Operasi Tinombala yang bakal segera berakhir beberapa hari lagi ini, tidak kunjung berhasil menangkap Santoso, Polda Sulteng, kata dia, tetap bakal melakukan pengejaran. ”Yang jelas kita sudah berusaha, walaupun jumlah kita sekitar tiga ribu personel, namun wilayah luas, tetap jumlah tersebut tidak kelihatan. Kalaupun operasi tidak diperpanjang, tetap kami akan cari (Santoso),” terangnya.

Lebih jauh disampaikan Kapolda, dari hasil evaluasi Kapolri saat berkunjung ke daerah operasi tersebut, kegiatan ini sudah berjalan efektif. Kapolri juga telah memberikan apresiasi kepada seluruh pasukan yang bertugas di lapangan. ”Namun beliau tetap meminta agar operasi ini bisa lebih berhasil,” pungkas mantan Kapolres Poso ini.

Untuk diketahui, selama digelarnya Operasi Tinombala sejak 9 Januari 2016, pasukan gabungan TNI/Polri sudah melumpuhkan sedikitnya 14 orang anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Pimpinan Santoso alias Abu Wardah. Dengan rincian, 10 meninggal dunia dan 4 orang ditangkap hidup-hidup. Hingga kini tersisa 27 orang DPO yang diburu aparat. Yang terdiri dari 24 laki-laki dan 3 perempuan, istri dari Santoso, Basri dan Ali Kalora.

Terpisah, Pakar Kebijakan Publik Yulianto kadji mengapresiasi gerak cepat kepolisian mengantisipasi masuknya kelompok teroris santoso ke Gorontalo. Karena itu langkah tersebut patut didukung seluruh rakyat Gorontalo.

”Terorisme, gerakan separatisme, dan radikalisme sebagai musuh bersama negara, bangsa dan rakyat Indonesia. Oleh karena itu rakyat harus mendukung sepenuhnya polisi yang begitu sigap dan cepat mengantisipasi masuknya gerakan terorisme, khususnya yang dipimpin Santoso di wilayah perbatasan Sulteng-Gorontalo,” kata Yulianto Kadji.

Lebih lanjut Yulianto Kadji mengatakan, gembong teroris Santoso dan pengikutnya harus dihentikan. Sebab, pergerakannya sengaja merongrong persatuan dan kesatauan bangsa serta menebar ancaman terhadap kehidupan kemanusiaan. Karena itu saatnya seluruh komponen masyarakat, pemerintah daerah, tokoh masyarakat dan agama, tokoh adat bersatu dalam perspektif yang antisipatif. ”Tentunya bersama polisi untuk sedini mungkin melakukan pencegahan dan menjaga sepenuhnya stabilitas daerah,” urai Yulianto Kadji. (dn/jpg/fik)

Untuk Anda
Terbaru