JAKARTA – Mantan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan (Aher) disebut sebagai sosok yang pas sebagai Calon Presiden (Capres) pada Pilpres 2019 dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Menurut pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing, Aher merupakan sosok yang layak sebagai Capres di Pilpres 2019. Hal itu terlihat dengan kesukaan warga Jabar kepada Aher saat memimpin Jabar selama dua periode.
”Alasan pertama itu adalah kesuksesannya menjadi Gubernur dua periode di Jabar,” kata Emrus saat dihubungi Fajar Indonesia Network lewat telpon, kemarin (18/5).
Lanjut Emrus, Aher juga menjadi salah satu Gubernur tersukses di Indonesia dengan bukti membangun kemanusiaan, keamanan dan kenyamanan warga Jabar serta pembangunan infrastruktur yang merata di Jabar. Selain itu, keterpilihannya untuk kedua kali menjadi bukti bahwa rakyat Jabar sangat mencintai sosok Ahek sebagai pemimpin.
”Dia mampu meraih suara terbanyak, kemudian di periode kedua dia menang secara mudah. Artinya, rakyat memberikan kepercayaan kepada dia dalam kepemimpinannya, dia juga memiliki keunggulan dalam memimpin dan kemudian kita melihat bahwa selama dua periode, dia berhasil bangun jabar dengan baik dari segi infrastruktur, keamanan dan kenyamanan warga secara umum,” ucapnya.
Dikatakan Emrus, jumlah daftar pemilih tetap (DPT) Jabar menjadi salah satu alasan kuat Aher didorong sebagai Cawapres oleh PKS dan partai koalisi lainnya. Lanjut Emrus, keberhasilan Aher dalam memimpin Jabar selama 10 tahun itu diterima oleh seluruh masyarakat Jabar.
”Aher ini sosok yang baik dan diberikan kepercayaan dari rakyat. Kalau kita lihat dengan kalkulasi rakyat jabar yang suka dengan Aher, saya pikir bisa mendongkrak suara Aher di di Pilpres nanti sebagai Cawapres, karena kita tahu masyarakat Jabar ini masyarakat humanis,” ujarnya.
Pengamat asal Sumatera Utara ini juga meyakini, bila pasanga Prabowo Subianto dan Ahmad Heryawan dipaketkan pada Pilpres nanti, maka peluang mengalahkan Joko Widodo sangatlah besar.
”Jika Aher dipasangkan dengan Prabowo, saya pikir ini satu pasangan yang ideal dan bisa berpeluang memenangkan Pilpres akan datang. Karena saya yakin, PKS akan mengusung kadernya yang berprestasi, bukan kader lain,” akuinya.
Lebih lanjut Emrus Sihombing mengatakan isu pasangan Capres dan cawapres dari Jawa-Luar Jawa bukanlah satu-satunya faktor kemenangan di Pilpres 2019 nanti. Isu pasangan Jawa dan luar Jawa saat ini sedang dimainkan oleh beberapa Partai Politik pendukung petahana Joko Widodo dalam mencari sosok Cawapres yang tepat. Buat Emrus, faktor ini sangatlah menarik, tetapi peluang menang sangatlah kecil bila dihadapkan dengan pasangan Capres-Cawapres yang memiliki program kerja yang bagus.
”Secara realitas politik, saya pikir itu salah satu faktor yang berpengaruh tapi itu bukan satu-satunya. Jadi jangan berpikir Jawa dan luar Jawa pasti menang, itu belum tentu, itu baru variabel satu kemenangan, karena terus terang saya berpendapat faktor kemenangan Paslon itu tidaklah Jawa dan luar Jawa. Misalkan, SBY-Budiono saya kira memenangkan juga iyakan, saya pikir itu pandangan opini yang memang ada kepentingan politik dibalik itu kan untuk jawa luar jawa,” kata Emrus.
Buat Emrus, isu yang dimainkan oleh beberapa partai politik soal Jawa-luar Jawa tak begitu berpengaruh buat meraup suara dari kantong-kantong tersebut, tetapi program-program unggulan yang bisa meraih simpati dari masyarakat untuk dipilih.
”Saya berpendapat tidaklah jawa-luar jawa, tetapi sejauh mana program-program yang ditawarkan ke bangsa dan negara. Mau itu jawa-luar Jawa atau Jawa saja, atau bahkan Sumatera saja. Yang penting itu adalah program bagus yang ditawarkan ke rakyat untuk meningkatkan kesejahteraan dan kenyamanan rakyat,” jelasnya.
Selain itu, rekam jejak para Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden juga menjadi catatan utama bagi rakyat, hingga ukuran Jawa-luar Jawa itu tak begitu kuat untuk Pilpres 2019 nanti.
”Yang kedua adalah bahwa harus melihat rekam jejak calon yang sangat bersih, ini yang paling utama. Tapi kalau Jawa-luar Jawa hanya faktor pendukung yang kurang signifikan untuk mengetahui kemenangan Pilpres akan datang,” tutupnya. (RBA/FIN/ign)













