darikita.com, Penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi ancaman besar bagi warga Kota Bogor. Terlebih, pada musim penghujan. Ancaman itu semakin diperburuk dengan status endemis DBD di enam kecamatan atau seluruh wilayah Kota Hujan.
Artinya, penyakit DBD secara menetap berada dalam lingkungan masyarakat tersebut. Dengan demikian, penyakit DBD lebih mudah muncul kembali. “Wilayah di Kota Bogor hampir semuanya endemis, namun paling tinggi pada wilayah Bogor Utara dan Bogor Barat,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor dr. Rubaeah, kemarin.
Dia tak menampik bila saat ini terjadi peningkatan pasien DBD yang signifikan di RSUD Kota Bogor. Namun, dibandingkan dengan tahun lalu, jumlah pasien yang terkena DBD tahun ini lebih sedikit. “Sebenarnya kasus DBD di Januari 2016 menurun, namun karena sekarang masyarakat sudah tahu ada RSUD di Kota Bogor, jadi, banyak yang dilarikan ke RSUD. Apalagi, pasien-pasien yang menggunakan BPJS,” terangnya.
Hingga kini, Dinkes masih akan memastikan pasien-pasien yang ada di RSUD, positif atau suspect. Berdasarkan data sementara, pada Januari 2016 terjadi 200 kasus DBD. ’’Januari tahun ini ada 200 kasus, tahun lalu 300 kasus,” imbuhnya.
Dinkes juga, kata dia, sudah turun ke rumah sakit-rumah sakit untuk memastikan jumlah pasien yang positif dan suspect. “Karena sekarang DBD sudah menyerang dari bayi hingga lanjut usia (lansia). Beda dengan dulu, kalau dulu kebanyakan usia subur,” jelasnya.
Beberapa upaya pun sudah dilakukan untuk menurunkan kasus DBD di Kota Bogor. Di antaranya melakukan penyuluhan ke masyarakat melalui puskesmas dan melalui media radio swasta yang ada di kota hujan. Dinkes juga sudah melakukan imbauan ke rumah sakit yang ada di Kota Bogor. ’’Walikota juga sudah memiliki kebijakan bahwa tahun 2016 Kota Bogor adalah kota bebersih dan mengimbau agar Jumat bersih dan Minggu bersih diaktifkan kembali,” cetusnya.
Sementara, jumlah korban tewas akibat DBD masih simpang siur. Berdasarkan data Dinkes Kota Bogor hanya satu orang yang meninggal. Yakni atas nama Eti, 23, warga Kelurahan Cibogor Kecamatan Bogor Tengah.
Meningkatnya jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD) selama sepuluh hari terakhir tidak membuat Bank Darah PMI Kota Bogor khawatir. Stok darah Kota Hujan masih aman. “Persediaan atau pemasukan darah di bank darah PMI, rata-rata per hari sekitar 200 kantung. Sampai saat ini, stok darah kita masih aman,” ujar Kepala Bagian Administrasi Bank Darah PMI Ade Suarna.
Pada musim DBD, biasanya jenis trombocyt concentrad (TC) paling banyak dibutuhkan. Dari data yang dimiliki permintaan paling banyak datang dari RSUD Kota Bogor, RS PMI dan sisanya dari rumah sakit Kabupaten Bogor.
“Dalam sehari kita mobile, untuk mengambil darah di dua tempat. Seperti di perusahaan, perumahan dan rumah ibadah,” terangnya.
Banyaknya permintaan darah hampir selaras dengan darah yang masuk. Menurut dia, banyak kegiatan sosial berupa donor darah yang cukup membantu stok darah. “Alhamdulillah masih banyak yang datang donor. Dalam sehari sekitar 40 pendonor yang datang,” ucapnya.
Untuk fase krisis stok darah di bank darah PMI, hanya terjadi ketika saat bulan Ramadan hingga Lebaran. “Kalau bulan puasa sedikit yang donor. Paling kalau ada yang membutuhkan, pakai darah pengganti yang dibawa oleh keluarganya sendiri,” tukasnya. (cr2/han/vil)













