banner

Enam KK Terpaksa Ngungsi ke Masjid

darikita 13 Desember 2015
FAJRI ACHMAD NF / BANDUNG EKSPRES TETAP SEKOLAH: Anak-anak bersiap pergi sekolah setelah menembus banjir di Kampung Cieunteung, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, kemarin (11/12). Hingga hari ketiga, ketinggian air bervariasi dari 80 hingga 120 cm.
vertical banner

darikita.com, Banjir yang melanda Kampung Cieunteung Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah hingga kini belum juga surut. Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, enam kepala keluarga (KK) saat ini memutuskan untuk mengungsi di masjid. Sementara lainnya, bertahan di rumahnya.

Berdasarkan informasi, ketinggian banjir di Cieunteung mencapai tidak lebih dari 80 sentimeter pada Jumat (11/12) sore. Tercatat, enam KK yang mengungsi tersebut di antaranya keluarga Sudia, 65; Dadang, 42; Iman, 31, Anah, 52; Acih, 54; dan Ramdan, 26. Total 20 orang mengungsi di masjid tersebut.

Di antara para pengungsi itu, terdapat anak-anak. Salah satunya Siti Fatimah. Bocah berusia satu tahun tersebut dilahirkan di pengungsian GOR Kelurahan Baleendah karena alasan yang sama, banjir Cieunteung.

”Kami sudah hubungi pihak kelurahan. Untuk sementara Gor tersebut belum bisa dipakai. Aula kelurahan bisa dipakai tapi cukup untuk 10 keluarga,” kata Sudia di tempat pengungsian, kemarin (11/12).

Dia mengatakan, alasan mengungsi tersebut sebenarnya tidak logis. Sebab, harus mengalah karena dipakai KPU untuk logistik Pilkada.

”Untuk transportasi warga pun menggunakan perahu atau berjalan kaki menerjang banjir,” ungkapnya.

Sementara itu, Kapolsek Baleendah, Kompol Suhari mengatakan, pihaknya terus bersiaga dalam menghadapi banjir seiring dengan mulai seringnya hujan besar turun di Kabupaten Bandung. Petugas pun disiagakan di Taman Kota Baleendah.

”Kita buat pos di taman kota juga tenda pengungsian, nanti akan dibantu personel Polres Bandung dan Polda Jawa Barat,” katanya.

Suhari menjelaskan, petugas di posko banjir akan membantu evakuasi warga yang akan mengungsi ke lokasi-lokasi pengungsian. Pihaknya menyiapkan rakit dan tiga kendaraan untuk membantu porses evakuasi jika diperlukan.

”Warga memang sudah terbiasa dengan banjir, tapi tetap kita imbau untuk segera mengevakuasi diri. Terutama keluarga yang mmpunyai anak kecil,” tuturnya.

Untuk pngungsian, kata dia, pihaknya berkoordinasi dengan Lurah Baleendah. ”Ada tujuh titik pengungsian, tiga di antaranya GOR Inkanas, Gor KNPI dan Aula Kelurahan,” jelasnya.

Ketua RW 20 kampung Cieunteung Jaja mengatakan, banjir mulai menggenangi wilayahnya sejak pemungutan suara Pilkada Kabupaten Bandung, Rabu (9/12) lalu. Saat itu, ketinggian air sudah mencapai 80 sentimeter.

”Memasuki Desember ini hujan intensitas hujan makin tinggi. Cieunteung terendam banjir. Ketinggian banjir pada sore pun sudah hampir satu meter dan kemungkinan terus naik karena hujan masih turun,” kata Jaja via telepon, kemarin.

Jaja mengungkapkan, meski air sudah menggenangi pemukiman warga, tapi warga masih bertahan di rumah masing-masing. Rata-rata warga bertahan di lantai dua rumahnya sambil mengamankan beberapa barang milik mereka.

”Ada lima keluarga yang mengungsi ke lantai dua masjid di wilayah Cieunteung. Sebab, rumahnya sudah terendam,” ungkapnya.

Sementara itu, Diyah Wahyuningsih warga Jalan Mamayuda mengatakan, dirinya merasa gelisah karena hujan terus menerus di daerahnya sejak siang. Banjir pun sudah menggenangi separuh di wilayah Jalan Mamayuda.

”Kalau bagian dalam dekat Sungai Citarum, ketinggian air sudah satu meter. Kami khawatir kalau ketinggian air terus naik, karena air sangat deras naik ke pemukiman warga,” katanya.

Kondisi banjir, kata dia, juga sudah sangat parah di area jalan. Hal ini terjadi karena saluran drainase sangat buruk. ”Banyak yang mampet, makanya jadi banjir,” ungkapnya. (yul/rie)

Untuk Anda
Terbaru