banner

Hujan Guyur Sumatera dan Kalimantan

darikita 29 Oktober 2015
DERAS: Hujan yang mulai mengguyur Kota Pekanbaru membuat kabut asap sudah semakin menipis, Rabu (28/10). Hujan merata di seluruh wilayah Pekanbaru, termasuk di Jalan Kaharuddin Nasution, Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Bukit Raya.
vertical banner
Hotspot Turun Tajam

darikita.com,– Penantian panjang masyarakat Sumatera dan Kalimantan akhirnya tercapai. Setelah tiga bulan terus berharap disambangi hujan, akhirnya doa itu terkabul. Selama dua hari berturut-turut sebagian wilayah di Sumatera dan kalimantan diguyur hujan lebat.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan, hujan buatan yang dilakukan dengan menebarkan garam ke dalam awan-awan potensial akhirnya membuahkan hasil. Zat higroskopik garam sukses mempercepat proses pertumbuhan butir-butir hujan di dalam awan, sehingga mempercepat hujan. ’’Ini kombinasi dari hujan buatan dan hujan alami,” katanya di Jakarta, kemarin.

Kabar bahagia itu datang mulai Selasa (27/10) dan berlanjut hingga kemarin. Hujan terpantau turun dengan intensitas ringan-sedang-lebat di Riau (Kabupaten Pelalawan, Kampar, Rokan Hulu, Siak, Tembilahan, dan Dumai), Jambi (Kota Jambi, Kuala Tungkal, Berbak, Telanai, dan Tanjung Jabung Timur), Kalimantan Selatan (Kabupaten Tanah Bumbu, Banjar, dan Kotabaru), Kalimantan Tengah (Palangkaraya) dan Kalimantan Timur (Kota Samarinda dan Berau).

Dampaknya pun langsung terasa. Berdasarkan pantauan satelit Terra Aqua kemarin, titik panas atau hotspot di Sumatera dan Kalimantan merosot drastis. Wilayah Sumatera, hanya 9 titik panas yang terdeteksi setelah sebelumnya mencapai angka ratusan. Sama halnya dengan Kalimantan, hanya 282 titik yang tersebar di Kalimantan Tengah 169, Kalimantan Timur 86 dan Kalimantan Selatan 27, setelah mencapai angka ribuan.

Turunnya angka hotspot tentu berkorelasi dengan kepekatan asap dan jarak pandang di sana. Dari data BNPB, jarak pandang dilaporkan terus membaik sepanjang hari. Jarak pandang di Pekanbaru misalnya, setelah menyentuh angka dibawah 500 Meter (m), kemarin sudah kembali berada di angka 1.200 meter. Begitupun dengan Jambi 1.700 m dan Palembang 2.000 m, meski kondisi masih berasap.

Sementara itu, di Kalimantan, jarak pandang di Pontianak mencapai 10.000 m, Palangkaraya 600 m, dan Banjarmasin 8.000 m. ’’Hujan menyebabkan kepekatan asap berkurang, udara segar, dan jarak pandang menjauh. Indeks kualitas udara juga membaik,” ungkapnya. Hal itu, lanjut dia dari catatan indeks standar pencemaran udara (ISPU). Jika sebelumnya Riau, Jambi, dan Palangkaraya selalu level Berbahaya. Kemarin sore, kualitas udara telah membaik. Di Pekanbaru 184 ugr/m3 tidak sehat, Jambi 252 sangat tidak sehat, Pontianak 44 baik, Banjarbaru 33 baik, Samarinda 30 baik, dan Palangkaraya 416 berbahaya.

Harapan hujan akan terus membasahi tanah Sumatera dan Kalimantan minggu ini begitu besar. Menurutnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika telah memprediksi akan banyak hujan di Sumatera dan Kalimantan seminggu ke depan. ’’Awan tersedia cukup banyak sehingga hujan buatan akan diintensifikan,” ungkap Sutopo.

Meski kondisi asap berangsur membaik, namun dinilai cukup terlambat bagi para penderita infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) akut. Sudah 19 orang, mulai dari dewasa hingga balita, yang dilaporkan meninggal akibat kondisi udara yang memburuk beberapa waktu lalu.

Jumlah tersebut dibeberkan oleh Menteri Sosial Khofifah Indar Parawangsa kemarin. Dia menyebut, jumlah korban meninggal tersebar di beberapa wilayah, 5 di Kalimantan Tengah, 5 di Sumatera Selatan, 5 di Riau, 1 di Jambi dan 3 di Kalimantan Selatan.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo, hari ini (29/10), dijadwalkan telah tiba kembali di tanah air dari lawatannya ke Amerika Serikat. Tidak ke Jakarta, presiden direncanakan akan langsung menuju Palembang, Sumatera Selatan, untuk memantau penanganan bencana asap.

Presiden telah memutuskan untuk mempercepat kunjungan di AS. Masih banyaknya keluhan masyarakat terkait bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang sampai ke Jokowi, menjadi alasan dipotongnya masa kunjungan, yang dimulai sejak 25 Oktober lalu. Presiden membatalkan rencana kunjungan ke sejumlah titik di West Coast atau kawasan Pantai Barat AS. (mia/dyn/lus/wan/vil)

Untuk Anda
Terbaru