banner

Ijazah Lulusan Akan Sama dengan Siswa Formal

darikita 6 November 2018
vertical banner

DINAS Pendidikan Jawa Barat terus berusaha mendorong Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk terus naik. Salah satunya dengan meluncurkan Sekolah Jabar Juara yang akan diluncurkan pada November ini.

Salah satu pendorong kenapa Sekolah Jabar Juara diluncurkan ditopang dari tingginya pelajar SMP yang tidak melanjutkan pendidikan. Tercatat hingga 24 persen siswa yang tidak melanjutkan ke SMA.

Besarnya angka tersebut dipicu oleh beberapa faktor. Pertama, alasan ekonomi karena harus membantu orangtua menjadi paling tinggi. Faktor kedua, dipicu minimnya infrastruktur.

Untuk diketahui, angka kelulusan Sekolah Dasar hingga saat ini sangat besar. Nyatanya, ketika siswa itu lulus, infrastruktur tidak mendukung. Berdasarkan data Dinas Pendidikan Jawa Barat 2015/2016, jumlah sekolah SD negeri mencapai 18.266 unit. Jumlah itu ditambah dengan swasta dengan 1.649 unit.

Di bagian lain, berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Sekolah Dasar (SD) Provinsi Jawa Barat 2016/2017 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diketahui jumlah SD 19.793 dengan siswa baru 745.164 dan 4.516.574 yang bersekolah. Sedangkan jumlah KS dan guru diketahui hanya 213.794 dengan total lulusan SD mencapai 799.818 per tahun.

Sedangkan, jumlah gedung SMP yang dilansir Dinas Pendidikan Jawa Barat mencapai 1.954 unit SMP Negeri dan 2.913 SMP Swasta.

Sedangkan, Data Pokok Pen­didikan (Dapodik) Sekolah Menengah Pertama Jawa Ba­rat 2016/2017 versi Kemen­terian Pendidikan dan Kebu­dayaan diketahui jumlah sekolah mencapai 4.878 unit dengan 607.099 siswa baru tiap tahunnya. Dengan data yang sama, jumlah siswa ter­catat 1.801.954 dengan kelu­lusan mencapai 585.506 per­tahunnya.

Lantas berapa angka siswa yang berpatisipasi dalam Se­kolah Terbuka? Angka diakui oleh Camat Lengkong Kota Bandung Tubagus Agus Muly­adi, memang sumir. Yang diketahui dan sudah mela­njutkan di Sekolah Terbuka saja hanya 29 orang di 2018. Terbagi atas SMA dan SMK.

”Yang sulit adalah membujuk mereka untuk mau berseko­lah,” kata Agus kepada Jabar Ekspres, belum lama ini.

Salah satu camat terbaik di Kota Bandung itu mengatakan, siswa yang masuk di Sekolah Terbuka sebenarnya serba dipermudah. Mereka tidak harus datang setiap hari se­perti halnya siswa regular. Pembelajaran cukup Sabtu dan Minggu, tak pakai seragam.

”Tidak bisa hadir bisa lewat online. Mengacu pada pada modul yang juga disesuaikan dari Dinas Pendidikan Pro­vinsi Jawa Barat dan sekolah induk,” kata pria yang akrab disapa Tebe tersebut.

Dia mengatakan, siswa yang belajar di Sekolah Terbuka tersebut sebenarnya sangat beruntung. Sebab, ijazah lu­lusannya akan sama dengan siswa yang sekolah regular. Khusus di Lengkong, lulusan SMA akan lulus dari SMAN 8. Untuk SMK akan dapat ija­zah dari SMKN 3.

”Ribuan siswa regular yang ingin sekolah di kedua seko­lah itu. Sulit masuk ke situ. Istimewanya, lulusan sekolah terbuka di Lengkong akan mendapatkan ijazah SMAN 8 atau SMKN 3,” tuturnya.

Namun begitu, nyatanya tidak mampu mendongkrak akan kontribusi. Bagi Tebe, 29 orang itu relatif kecil dan yakin angka tersebut lebih besar jika digali lebih dalam. Sebab, yang tidak sekolah karena tidak punya biaya masih banyak. Begitu pun mereka yang perlu waktu khu­sus karena kebutuhan khusus (misal atlet).

”Kembali lagi ke persoalan mental dari si siswa. Mau tidak melanjutkan sekolah. Menurut saya, seharusnya ketika diberi kemudahan seperti ini, me­reka sebaiknya ikut berpartisi­pasi. Sebab, ini untuk masa depan mereka,” urai Tebe.

Hal serupa juga ditekankan oleh Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Pendidikan Laya­nan Khusus (PK-PLK) Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat DR Dadang Rachman Munan­dar, M.Pd. Menurut dia, data dari Kecamatan Lengkong menjadi salah satu sampel kontribusi pihak kecamatan pada program Sekolah Jabar Juara. Sayangnya, data peserta belum begitu menggembirakan.

”Mungkin karena keterba­tasan SDM, mereka akhirnya jadi sulit mencari peserta. Meski, mereka umumnya sudah melibatkan Karang Taruna sebagai penggerak kepemudaaan,” tutur Dadang.

Pada dasarnya, kata Dadang, Sekolah Jabar Juara adalah inovasi layanan pendidikan menengah di Jawa Barat. Se­kolah Jabar Juara memberikan peluang luas kepada seluruh masyarakat dalam mengakses layanan pendidikan. Tanpa terhalang faktor ekonomi, geo­grafis, sosial, budaya atau fak­tor lain. Melalui layanan pen­didikan ramah, murah, mudah, bermutu, dan berdaya saing. Relevan dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat.

”Sekolah Jabar Juara dapat diwujudkan melalui kolabo­rasi antartingkatan pemerin­tahan, antarwilayah, dan an­tarpelaku pembangunan untuk memanfaatkan potensi dan peluang serta menjawab per­masalahan dan tantangan pembangunan,” paparnya.

Dadang menjabarkan, indi­kator Sekolah Jabar Juara ada­lah sekolah untuk anak berke­butuhan khusus, terpencil, terbelakang, masyarakat adat, bermasalah dengan hukum, kesulitan ekonomi, anak dip­ekerjakan, di daerah konflik, terdampak bencana alam. Termasuk anak yang mempu­nyai keterbatasan waktu ka­rena kebutuhan (atlet).

”Nah, ke depan, data utama yang dijadikan acuan adalah data pokok pendidikan (Da­podik). Data tersebut kemu­dian dikroscek oleh pihak ke­camatan untuk dicocokan. Dengan begitu, APK tersebut tidak hanya naik secara jumla tapi bisa dipertanggungjawab­kan secara data,” tandasnya.

Yang tidak kalah penting, kata dia, gencar sosialisasi. Kepesertaan di Sekolah Jabar Juara tidak mungkin hanya sekali gertak. Sebab, keinginan dari peserta untuk ikut sekolah kadang tidak sejalan dengan keinginan dari orangtua atau pun pihak perusahaan di ma­na siswa itu bekerja.

”Makanya dalam launching nanti, pihak swasta pun akan dilibatkan dalam MoU Seko­lah Jabar Juara,” tegasnya. (rie)

Untuk Anda
Terbaru