
darikita.com, JAKARTA – Hibah mobil listrik dari BUMN ke sejumlah perguruan tinggi dipermasalahkan Kejaksaan Agung. Hal itu membuat kalangan rektorat berhati-hati dalam menerima bantuan pendanaan riset, khususnya yang berasal dari BUMN.
Ketua Umum Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Herry Suhardiyanto mengatakan, rektor belum membahas masa depan pendanaan riset dari pihak luar, termasuk BUMN. Dia mengatakan, belum ada keputusan, apakah perguruan tinggi tertutup 100 persen dari kucuran sumbangan dana riset pihak luar. Sebab, selama ini Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi justru mendorong kerja sama riset antara perguruan tinggi negeri dan pihak ketiga.
’’Dari kerja sama ini, perguruan tinggi diharapkan mendapatkan kompensasi pendanaan. Dengan begitu, urusan pendanaan tidak semata dibebankan oleh kampus kepada mahasiswa,’’ sebutnya.
Kebimbangan MRPTNI juga dirasakan Universitas Brawijaya. Dekan Fakultas Teknik Dr Ir Pitojo Tri Juwono MT mengungkapkan, tim mobil listrik FT UB kini tidak berani utak-atik bantuan mobil listrik dari Pertamina. Sebab, selain ada masalah dengan baterai sehingga tidak bisa dioperasikan, Kejagung memperkarakan proyek mobil listrik yang disponsori BUMN. Karena itu, para mahasiswa tidak berani memanfaatkannya. ’’Kegiatan riset kami menjadi terhambat. Saya harap masalah ini segera selesai agar gairah riset kembali bangkit. Sebab, moblis bisa digunakan lagi untuk penelitian,’’ harapnya.
Pitojo juga mengatakan, sikap kampus UB kooperatif atas proses hukum mobil listrik. Setidaknya, sudah dua kali Kejagung memanggil pimpinan UB untuk dimintai keterangan terkait dengan moblis. Yang terbaru, minggu lalu Rektor UB Prof Dr Ir M. Bisri MS dipanggil Kejagung. Kemudian Bisri melimpahkannya kepada Wakil Dekan III FT UB Dr Slamet Wahyudi ST MT. ’’Pak Slamet menceritakan kondisi moblis yang sebenarnya. Jika ditarik, kami juga mempersilakan. Karena memang diberi, ketika akan diminta, ya monggo,’’ beber dia.
Berbeda dengan kampus tetangganya, Politeknik Negeri Malang tidak mau pusing dengan urusan mobil listrik di Kejagung. Bahkan, mereka bakal meluncurkan mobil listrik tahap ketiga. Rencananya, mobil listrik itu di-launching pada 17 Agustus mendatang. ’’Polinema mengeluarkan dana sekitar Rp 100 juta untuk penelitian mobil listrik generasi ketiga ini,’’ jelas Direktur Polinema Ir Tundung Subali Patma MT beberapa waktu lalu.
Seperti Polinema, Rektor ITS Prof Ir Joni Hermana MSc ES juga menegaskan, kasus mobil listrik Kejagung tidak memengaruhi kegiatan tim mobil listrik ITS. Sebab, ITS sudah bekerja sama dengan banyak pihak. Sekarang, misalnya, tim mobil listrik ITS membuat prototipe motor tenaga listrik bekerja sama dengan pihak swasta, PT Garansindo Inter Global. Rencananya, prototipe motor listrik itu dipamerkan Agustus ini.
Tapi, Joni tidak memungkiri, mobil listrik yang dipermasalahkan Kejagung membuatnya berhati-hati dalam memilih rekanan. Khususnya, bila yang memberikannya adalah BUMN. ’’Karena berurusan dengan APBN atau uang rakyat. Kalau dengan swasta, sepertinya lebih bersih,’’ ujarnya.
Selain itu, Joni akan menghindari kerja sama yang bersifat insidental. Contohnya, pengadaan mobil listrik dalam KTT APEC. Memang itu mendadak dan menimbulkan kesan pesanan. Joni akan lebih berfokus pada kerja sama yang sifatnya terencana. Misalnya, yang digagas Kemendikbud pada 2012. Saat itu ada lima PTN, termasuk ITS, yang dipanggil presiden untuk mengembangkan mobil listrik nasional.
Nah, untuk program dari pemerintah yang terencana seperti itu, Joni akan tetap welcome. Pada prinsipnya, visi PTN adalah mengembangkan riset, teknologi, dan sains. Visi tersebut harus terus dijalankan dengan lebih berhati-hati memilih rekanan. ’’Kami lebih tertarik bekerja sama dengan industri swasta, bisa dalam bidang maritim, energi, otomotif, dan lainnya,’’ paparnya.
Joni juga mengungkapkan, mobil listrik yang sebelumnya dipamerkan dalam KTT APEC di Bali pada 2013 dan kini sebagian disita Kejagung itu memang akan dihibahkan ke ITS. Namun, hingga sekarang ITS belum menerima mobil tersebut.
Namun, untuk riset dan pengembangan mobil sumbangan PT Pertamina senilai Rp 2 miliar yang dikirim pada awal tahun ini, Joni mengaku masih berlangsung. Tapi, untuk lebih detailnya, Joni mengarahkan Jawa Pos agar menanyakan langsung kepada Ketua Tim Mobil Listrik ITS Muhammad Nur Yuniarto. Sayangnya, ketika dihubungi, Nur Yuniarto yang biasanya akrab dengan media itu menolak berkomentar mengenai semua hal yang berhubungan dengan mobil listrik. (wan/ika/ina/c7/kim/vil)













