banner

Listrik Kita Lebih Murah dari Malaysia

darikita 22 Februari 2019
DOK/PLN DISTIBUSI JABAR FOR JABAR EKSPRES TANPA PEMADAMAN: Tim Pekerjaan dalam Keadaan Bertegangan Menengah (PDKB-TM) saat melakukan pemeliharaan jaringan listrik tegangan menengah di wilayah Situraja Area Sumedang, kemarin (15/8). PDKB-TM menjaga PLN agar tidak mengalami kerugian dan pelayanan.
vertical banner

JAKARTA– Sektor industri di Indonesia menjadi lumbung pendapatan bagi penerimaan negara dari penjualan listrik.Secara riil, realisasi penjualan tenaga listrik yang terjadi dalam lima tahun terakhir terutama yang didongkrak dari sektor Industri.

Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral Ego Syahrial merinci, kenaikan penjualan listrik sepanjang lima tahun terakhir. Pada tahun 2015, penjualan tenaga listrik sudah mencapai 213,46 Terra Watt Hour (TWh). Penjualan ini bertambah setahun kemudian di tahun 2016 menjadi 221,07 TWh atau tumbuh 3,56 persen. Kemudian terus menembus angka 232,43 TWh atau naik 5,14 persen pada tahun 2018.

“Secara realitanya, penjualan listrik dari PLN mengalami kenaikan terutama dalam dua hingga tiga tahun terakhir. Artinya selain listrik rumah tangga, kebutuhan listrik untuk sektor industri sedemikian besarnya,” jelas Ego.

“Tahun ini saja, Kami (Pemerintah) memproyeksikan sesuai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan terjadi kenaikan sebesar 6,40% atau menembus angka 247,3 TWh,” ungkap Ego.

Atas faktor konsumsi listrik yang besar, harga listrik du Indonesia masih tergolong menjadi salah satu negara dengan tarif paling kompetitif di wilayah Asia Tenggara. Data Januari 2019, tarif listrik industri besar di Indonesia, rata-rata sebesar USD 7,47 sen perkilo Watt hour (kWh). Tarif ini jauh lebih murah ketimbang Singapura USD 13,15 sen per kWh, Filipina USD 11,19 sen per kWh, Thailand USD 8,07 sen per kWh serta Malaysia 7,61 sen per KWh.

“Tarif listrik Indonesia bagi industri besar paling murah di kawasan ASEAN ,” jelasnya

Ego juga menyebut, sektor industri yang paling banyak menopang penjualan listrik adalah pertambangan dan manufaktur. “Memang kebu­tuhan listrik yang besar datang dari industri selain rumah tangga, seperti industri hili­risasi pertambangan maupun listrik yang membutuhkan listrik yang besar,” urainya.

Total konsumsi listrik sektor industri sepanjang tahun 2018 mencapai 76,345 TWh atau tumbuh 32,85 persen dari tahun sebelumnya, yaitu 71,72 TWh. Pertumbuhan ini dida­pat dari 87.829 pelanggan terdiri dari pelanggan pra­bayar (23.602) dan pasca­bayar (64.227). “Dari tahun ke tahun penjualan listrik didominasi oleh sektor indu­stri yang jumlah pelanggannya sekitar 69.000 atau naik 10.000 dari tahun 2016 ke tahun 2017.

Direktur Perencanaan Kor­porat PLN, Syofvi Felienty Roekman mengatakan, penam­bahan ini juga ditopang se­telah beroperasinya pembang­kit listrik stasiun Jawa 7 Unit 1 dan Cilacap Unit 1 dengan total kepasitas 2300 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Tanjung Priok, Grati dan Muara Karang.

“Ditambah lagi, ada pembangkit yang mengguna­kan Energi Baru Terbarukan (EBT) dengan total kapasitas 780 MW,” tandasnya. (fin/tgr)

Untuk Anda
Terbaru