JAKARTA– Sektor industri di Indonesia menjadi lumbung pendapatan bagi penerimaan negara dari penjualan listrik.Secara riil, realisasi penjualan tenaga listrik yang terjadi dalam lima tahun terakhir terutama yang didongkrak dari sektor Industri.
Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral Ego Syahrial merinci, kenaikan penjualan listrik sepanjang lima tahun terakhir. Pada tahun 2015, penjualan tenaga listrik sudah mencapai 213,46 Terra Watt Hour (TWh). Penjualan ini bertambah setahun kemudian di tahun 2016 menjadi 221,07 TWh atau tumbuh 3,56 persen. Kemudian terus menembus angka 232,43 TWh atau naik 5,14 persen pada tahun 2018.
“Secara realitanya, penjualan listrik dari PLN mengalami kenaikan terutama dalam dua hingga tiga tahun terakhir. Artinya selain listrik rumah tangga, kebutuhan listrik untuk sektor industri sedemikian besarnya,” jelas Ego.
“Tahun ini saja, Kami (Pemerintah) memproyeksikan sesuai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan terjadi kenaikan sebesar 6,40% atau menembus angka 247,3 TWh,” ungkap Ego.
“Tarif listrik Indonesia bagi industri besar paling murah di kawasan ASEAN ,” jelasnya
Ego juga menyebut, sektor industri yang paling banyak menopang penjualan listrik adalah pertambangan dan manufaktur. “Memang kebutuhan listrik yang besar datang dari industri selain rumah tangga, seperti industri hilirisasi pertambangan maupun listrik yang membutuhkan listrik yang besar,” urainya.
Total konsumsi listrik sektor industri sepanjang tahun 2018 mencapai 76,345 TWh atau tumbuh 32,85 persen dari tahun sebelumnya, yaitu 71,72 TWh. Pertumbuhan ini didapat dari 87.829 pelanggan terdiri dari pelanggan prabayar (23.602) dan pascabayar (64.227). “Dari tahun ke tahun penjualan listrik didominasi oleh sektor industri yang jumlah pelanggannya sekitar 69.000 atau naik 10.000 dari tahun 2016 ke tahun 2017.
Direktur Perencanaan Korporat PLN, Syofvi Felienty Roekman mengatakan, penambahan ini juga ditopang setelah beroperasinya pembangkit listrik stasiun Jawa 7 Unit 1 dan Cilacap Unit 1 dengan total kepasitas 2300 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Tanjung Priok, Grati dan Muara Karang.
“Ditambah lagi, ada pembangkit yang menggunakan Energi Baru Terbarukan (EBT) dengan total kapasitas 780 MW,” tandasnya. (fin/tgr)













