banner

Melawan Nyeri di Tubuh Penderita Kanker dengan Samarium Karya Batan

darikita 19 Februari 2019
KEMASAN SAMARIUM: Agus Hariyanto dan Widyastuti menunjukkan contoh kontainer dan kemasan samarium di kompleks Batan, Tangerang Selatan, baru-baru ini. (FOTO: M. HILMI SETIAWAN/JAWAPOS)
vertical banner

Diinjeksi samarium tak membuat pasien kanker jadi lemas dan mengantuk sehingga bisa beraktivitas normal. Sayang belum tersebar merata ke seluruh kota di tanah air

M. HILMI SETIAWANJakarta

TAK ada lagi efek lemas dan kantuk. Nyeri di tulang perlahan-lahan juga menghilang. Dua suntikan berjarak tiga bulan itu benar-benar membuat kondisi badan Evie Diancha Ebling terasa enak.

”Seperti mendapatkan tenaga baru,” kata perempuan 37 tahun itu saat dihubungi, baru-baru ini.

Evie adalah penderita kanker payudara. Dua suntikan yang dia dapat pada April dan Juli 2017 itu adalah injeksi Samarium-153 EDTMP (etilen diamin tetra metil fosfonat). Produk radiofarmaka hasil kerja sama Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) dan Kimia Farma tersebut berguna untuk terapi paliatif penderita kanker.

Nyeri di sekujur tubuh adalah bagian dari palagan seorang penderita kanker payudara seperti Evie. Sejak pertama didiagnosis kanker pada 2014, perempuan asal Palembang, Sumatera Selatan, itu mengaku kerap merasakannya di bagian leher, tulang pinggang, rusuk, bahu, sampai ke tulang kepala. Sebab, sel kankernya sudah menyebar ke tulang. ”Seperti ditusuk-tusuk,” ungkapnya.

Untuk mengurangi rasa sakit itu, dia menggunakan pereda nyeri resep dokter yang mengandung morfin. Tapi, efeknya, dia ketagihan. Hingga tidak bisa beraktivitas.

Bawaannya ngantuk terus. Sampai akhirnya, terapi pereda nyeri dengan obat yang mengandung morfin tersebut dihentikan.

Perempuan 37 tahun itu ke­mudian dianjurkan dokternya untuk menggunakan terapi dengan samarium untuk meng­gantikan morfin. Evie tak langs­ung menerima. Dia mencari informasi dulu dari beberapa literatur. Sebelum akhirnya bersedia menggunakannya.

Widyastuti, peneliti Batan yang terlibat dalam riset samarium sejak awal, menerangkan, pe­nelitian samarium awalnya merupakan proyek dari Badan Atom Dunia (International Atomic Energy Agency) pada 1996-1997. Ketua tim peneli­tian samarium itu adalah Prof Swasono R. Tamat.

Pada 1997, lanjut perem­puan 60 tahun tersebut, pe­nelitian selesai. ”Di tahun itu juga dikirim ke RS dr Sardjito, Jogjakarta,” jelas Widyastuti saat ditemui di Pusat Tekno­logi Radioisotop dan Radio­farmaka (PTTR), kompleks Batan, Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan, Jumat pekan lalu (8/2).

Seiring berkembangnya re­gulasi perizinan di dunia medis, pada 2008 ada kewa­jiban mendaftarkan lagi samarium ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Izin edar samarium Batan akhirnya keluar pada 2016.

Setahun berselang, karya Batan itu diedarkan ke sejum­lah rumah sakit di Jakarta, Bandung, dan Semarang. Belum di semua kota di tanah air memang. Karena itu, pasien seperti Evie yang berasal dari Palembang harus terbang dulu ke Jakarta.

Menurut Kepala Bidang Teknologi Radiofarmasi, Pu­sat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka Batan Agus Hariyanto, keputusan pasien kanker menggunakan sama­rium atau tidak ada di tangan dokter yang menangani. Umumnya, pengguna adalah pasien kanker yang sudah stadium IV.

”Biasanya mereka pakai mor­fin dahulu. Baru kalau sudah nyerah, pakai samarium.”

Terapi samarium, kata Evie, lebih untuk menghilangkan rasa nyeri. Efek membunuh sel kankernya sedikit. Sementara itu, untuk kemoterapi, efek mem­bunuh sel kankernya cukup kuat. Sedangkan efek menghi­langkan rasa nyerinya sangat kecil. Sehingga kedua terapi tersebut saling melengkapi.

Nah, karena merasa tulang­nya sudah tidak nyeri, dia agak meremehkan sel kanker di dalam tubuh. Ternyata, pada Oktober 2018, dia kembali merasakan nyeri pada tulang. Tepatnya di bagian kaki. ”Kaki saya ngilu lagi. Jalan pincang-pincang,” kenangnya.

Setelah diperiksa, ada sel kan­ker baru yang ditemukan di tulang pangkal paha dan pinggul. Evie pun menjalani terapi sam­arium yang ketiga seusai mele­wati serangkaian pemeriksaan.

Injeksi samarium yang ke­tiga itu dilakukannya pada Jumat pekan lalu di RSCM. Dia ditangani dr Alvita Dewi Siswoyo SpKN MKes. Saat itu Evie mendapat dosis Sama­rium (Sm-153) EDTMP (etilen diamin tetra metil fosfonat) dengan takaran 50 mCi.

Pembuatan samarium bia­sanya dimulai pada Jumat sore. Diawali dengan proses radiasi serbuk samarium yang ditempatkan di sebuah ba­tangan besi. Demi keamanan, batangan besi itu dicor. (*)

Untuk Anda
Terbaru