banner

Memilih Jadi Relawan sebagai Bentuk Syukur

darikita 25 Juli 2015
vertical banner

darikita.com, GADIS kelahiran Bandung, 18 April, 24 tahun silam ini memiliki banyak pengalaman sebagai relawan, khususnya menyangkut isu gender, perempuan, anak muda, dan kesehatan reproduksi. Berinteraksi, belajar, bersyukur, berbagi, berbahagia, adalah lima kata kunci yang menggambarkan arti relawan di mata Nike.

NIKE-NADIA-bandung-ekspres-241x300
SYANNE/BANDUNG EKSPRES/JOB BERJIWA SOSIAL: Nike Nadia, mahasiswi Universitas Padjadjaran yang memutuskan untuk menjadi relawan sepanjang hidupnya

Dia memilih pekerjaan yang secara materiil tidak ada jaminannya. Bahkan, kedua orangtuanya sempat ragu akan keputusan dia. Namun, dia meyakinkan kedua orangtuanya bahwa dengan jadi relawan, dia kemudian merasahappy dan merasa punya purpose dalam hidup.

Perkenalannya pada dunia relawan bermula saat masuk kuliah. Saat itu, dia diajak oleh temannya. Dengan membantu mengumpulkan petisi untuk kegiatan The Billionhungry Project yang digagas oleh Food and Agriculture Organization (FAO) PBB Indonesia. ’’Teman saya yang menjadi inspirasi untuk lebih berani eksplor gabung di kegiatan semacam itu lagi,’’ akunya kepada Bandung Ekspres beberapa waktu lalu.

Sejak SMA, dia sudah memiliki ketertarikan dengan kegiatan-kegiatan seperti itu. Namun, tidak memiliki jaringan yang luas untuk bergabung. Ketika akhirnya punya kesempatan jadivolunteer, dia memanfaatkannya semaksimal mungkin.

Sebelumnya dia pernah mengikuti lomba film dokumenter tentang isu kekerasan perempuan. Hingga mendapat kesempatan riset kecil ke LBH yang bekerja khusus advokasi isu kekerasan. Dari sanalah dia memutuskan kuliah di fakultas hukum.

”Aku pribadi juga sangat tertarik dengan isu perempuan serta gender dan karena aku kuliah hukum, cita-citaku adalah bekerja di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) atau NGO (Non Govt Organization),’’ kata perempuan berambut panjang ini.

Sebenarnya, kata Nike, sebelumnya dia pernah sebulan kerja jadi pegawai kantoran. Tapi kemudian, Nike merasa kosong dan tidak punya tujuan. Sehingga, ketika tahu ada lowonganvolunteer di Komnas Perempuan, Nike langsung take a leap of faith. ’’Berbekal tabungan yang pas-pasan, aku akhirnya memilih untuk fokus buat jadi full time volunteer,” jawabnya melalui email.

Orang tuanya sendiri ikut mendukung kegiatan relawan ketika masih kuliah. Namun, orang tuanya mulai ragu dengan keputusan dia ketika lulus kuliah. Sebab, Nike semakin bertekad memutuskan jadi full time volunteer. Pada akhirnya yang bisa dia lakukan hanya berjanji pada kedua orang tuanya bahwa dia akan bertanggungjawab terhadap pilihannya. Meski jadi relawan, dia tetap akan memenuhi kebutuhan pribadinya sendiri dan tidak meminta uang dari orang tua lagi.

Nike mengaku, menjadi relawan tidak memakan waktu sepanjang minggu. Kegiatan yang dia lakukan cukup dinamis. Maka, di sela-sela itu dia mengambil peluang sebagai pekerja lepas. Biasanya pekerjaan yang diambil adalah menulis atau pekerjaan yang masih ada hubungannya dengan isu dimana dia jadi relawan.

Dengan pilihannya sekarang, anak pertama dari 4 bersaudara ini masih aktif sebagai relawan di beberapa kegiatan. Di antaranya, sebagai petugas unit pengaduan dan rujukan Komnas Perempuan, relawan untuk analisis kajian media dengan isu kekerasan seksual di Komnas Perempuan.

Ketika disinggung mengenai waktu bermainnya yang sedikit karena berbagai kegiatan relawan, dia justru merasa senang. Sebab, menjadi relawan adalah bagian dari bermain dan refreshing. Walaupun sesekali dia bisa juga nongkrong seperti kebanyakan anak muda. Di sanalah dia mendapat teman baru, obrolan baru, pengalaman baru, serta pengetahuan baru.

Nike mengatakan, kebanyakan kegiatan relawan yang diinisiasi anak muda atau pelakunya anak muda itu menyenangkan. ’’Aku rasa teman-teman muda sekarang dengan bantuan sosial media lebih mudah untuk gabung dan mengakses kegiatan kerelawanan. Jadi tidak perlu serta merta menunggu kuliah atau lulus SMA untuk aktif kayak aku dulu. Soalnya kegiatan kerelawanan kan tidak harus dalam proyek-proyek besar aja,’’ ujarnya.

Menurut dia, hal simpel seperti bersama teman-teman sekelas gotong royong mengumpulkan buku lama untuk adik-adik yang membutuhkan juga bagian dari ‘terjun’ untuk do something good. Atas kerja kerasnya yang tanpa pamrih, lulusan Universitas Padjadjaran Bandung ini juga sudah menyabet beberapa penghargaan. Salah satunya Jawa Pos For Her as Youth Volunteer 2015.

Nike juga aktif mengikuti berbagai lomba dan kompetisi. Di antaranya, Runner Up Cosmogirl! of The Year 2012, Cita Cinta Change-lebration 2013, featured on Girlfriend! Magazine for SelfRespect Campaign, Cewequat of The Month 2014, Pemenang Utama Blogger Competition Women In You by The Flavor Bliss. Kemudian, Finalis Campaign Kuatnya Kelembutan Sunsilk Unilever 2014, dan Finalis International Competition Global Dialogues 2015 yang diadakan di Kenya dan Guatemala. Namun dibalik keberhasilannya berbagai lomba, dia memiliki sisi lemah sebagai perempuan. Untuk pekerjaannya saat ini, dia sering menjadi tempat curahan hati kisah pilu para korban kekerasan.

”Paling menyentuh perasaan sih pastinya ketika aku jadi petugas di Unit Pengaduan Rujukan Komnas Perempuan, ya. Soalnya kami ujung tombak dari pengaduan penyintas kekerasan berbasis gender. Artinya kami adalah orang pertama yang terpapar dengan cerita-cerita kekerasan,’’ kata perempuan yang ingin meneruskan studi S2 di bidang kajian gender di Universitas Indonesia ini.

Nike mengaku, terharu tapi tidak sampai menangis. Namun, dia lebih sedih lagi terhadap teman-teman yang menjadi korban, tapi memilih bangkit dan berhenti diam. ’’Karena itu benar-benar butuh keberanian dan kekuatan yang besar,” ujar gadis pecinta dimsum ini.

Pandangannya terhadap relawan pun mengalami perubahan. Sebelum mengenal kegiatan tersebut, dia menangkap arti relawan adalah orang yang terlibat dan membantu orang lain yang membutuhkan. Namun, saat relawan sudah menjadi bagian dari dirinya, relawan berarti orang yang benar-benar mendedikasikan diri untuk hal-hal simpel. Tapi, relawan juga melakukannya untuk kebutuhan jiwanya sendiri.

Nike setuju pada ungkapan ‘kerja kemanusiaan adalah kerja untuk jiwa’. Dia percaya semua manusia pada dasarnya ada urgensi untuk melakukan sesuatu untuk sesamanya. Dorongan tersebut bisa terwujud dengan jadi relawan. Sebab, Nike menilai, menjadi relawan merupakan salah satu bentuk rasa syukur. Tapi, Nike mengaku, tidak menempatkan diri sebagai ‘penyelamat’ atau orang yang menopang dan menolong orang lain dengan pekerjaan. Justru dia menjadi relawan karena butuh.

’’Untuk aku merasa semangat, aku butuh untuk melakukan sesuatu yang ada gunanya buat yang lain. Aku pribadi percaya setiap manusia unik dan punya subjektivitasnya pribadi. Ada yang merasa semangat dan bahagia kalau bisa travelling, bisa nulis satu novel, atau kalau bisa nongkrong seharian sama teman-teman,’’ katanya. (mgm-anne/tam)

Untuk Anda
Terbaru