
BUAHBATU – Masih maraknya berbagai jenis tari tarian dewasa yang diperagakan oleh anak-anak TK/Paud saat ini dinilai pelaku seni sebagai bentuk tindakan kurang baik untuk dijadikan ajang tontonan untuk umum.
Instruktur seni tari khusus anak Asep Syaiful Yusuf, SSn mengatakan, saat ini banyak seni tari yang sudah melenceng dari usia anak-anak TK/Paud. Sebab, beberapa jenis tariannya cenderung seronok.
”Banyak tarian-tarian yang sebetulnya untuk dewasa malah diajarkan kepada anak-anak usia TK/Paud,” jelas Yusuf ketika ditemui pada pelatihan seni tari khusus untuk anak usia TK/Paud di Sekolah Tinggi Agama Islam Muhadiyah Jalan Banteng kemarin (27/8).
Menurutnya, kondisi ini tidak bisa disalahkan pada anaknya. Sebab kalau dilihat pada pentas seni acara Agustusan banyak tari-tarian modern dan dangdut banyak diperagakan oleh anak-anak.
”Ini jangan dibiarkan, karena secara tidak langsung anak-anak sikap dan mentalnya akan terganggu oleh gerakan-gerakan tarian yang sebetulnya tidak layak diperagakan oleh anak-anak apalagi di usia TK/Paud,” ucap Yusuf.
Dia menilai, kondisi ini terjadi karena mereka yang mengajarkan seni tari kurang pemahaman akan seni tari dan tidak memiliki pengetahuan akan dampaknya. ”Seharusnya para orang tua atau guru-guru melarang kalau ada anak yang ingin memperagakan tari tarian dewasa,” kata dia
Untuk itu melalui pelatihan untuk para Guru-guru TK/Paud ini dirinya ingin menularkan mengenai tata cara konsep pengembangan seni tari untuk sejak usia dini. ”Kita berikan pelatihan dengan gerakan-gerakan mudah dan sederhana sehingaga akan dipahami oleh anak-anak usia TK/Paud tanpa keluar dari pakemnya itu sendiri,” kata dia lagi.
Lebih lanjut dirnya mengatakan, pada akhir tahun pelajaran di sekolah TK/Paud sudah menjadi suatu kewajiban diadakan pagelaran seni dengan tujuan mengasah kreativitas anak. Akan tetapi sangat disayangkan pembelajaran seni tari pada anak tanpa didukung oleh konsep yang tepat.
Dirinya mencontohkan, untuk gerakan-gerakan tari daerah khusus untuk anak harus simpel dan tidak rumit kecuali untuk tari daerah tertentu.
”Jadi prinsipnya metodenya harus simpel dan diajarkan tari gerakan tarian sederhana seperti tari piring, tari Tor-tor dan lainnya,” tuturnya.
Pada perkembangannya sendiri, beberapa daerah di Jawa Barat sudah lumayan maju. Tapi, perkembangan seni tari untuk anak TK dan PAUD di Kota Bandung sendiri masih kurang.
”Selain mendatangkan pelatih langsung ke sekolah-sekolah biasanya untuk tingkat TK/Paud sendiri para guru sering mengajarkan tari tarian ke anak-anak secara langsung namun lebih cenderung kepada tari-tari modern,” kata instruktur tari tradisional anak yang telah mendapatkan berbagai penghargaan di tingkat nasional tersebut.
Di tempat sama ketua Prodi TK/Paud STAI Muhamadiyah Nurlaela Hamida mengatakan, memberikan secara gratis pengetahuan dan pemahaman mengenai metode tari tarian khusus untuk anak-anak yang berbasis pada kesenian tarian daerah.
Selain itu, kegiatan ini juga diikuti oleh berbagai kalangan tenaga pengajar untuk tingkat TK/Paud dengan diikuti oleh 107 guru-guru dari berbagai daerah di kota Bandung.
Untuk itu, sebagai tindak lanjut pada pelatihan ini STAI Muhamadiyah ke depan akan melanjutkan pelatihan ini dalam bentuk kursus bagi guru-guru Paud dan TK.
”Alhamdulillah responnya sangat positif dan banyak guru-guru paud mennyakan kepad ainstruktur mengenai jenis-jenis tarian daerah lainnya,” pungkas Nurlaela. (yan/rie)













