banner

Partai-partai Akan Prioritaskan Kader Saat Pilpres 2019

admin darikita 12 Juni 2018
vertical banner

darikita.com – Jakarta – Partai-partai saat ini tengah mempersiapkan kadernya untuk bisa maju dalam perhelatan pilpres.

Meski begitu, sejumlah nama non kader diluar partai pun, saat ini tengah melakukan manuver agar bisa masuk dalam bursa capres.

Emrus Sihombing, Pengamat Politik Universitas Pelita Harapan (UPH), menilai dari situasi politik saat ini, nampaknya tidak terhindarkan adanya tiga poros.

Hal ini karena komunikasi politik yang mereka bangun antarpartai belum mengkristal ke dua poros, poros 1 atau dua.

“Bahkan partai-partai yang saat ini sudah menunjukan indikasi berada di posisi dua poros itu, tidak ada jaminan mereka akan tetap berada di poros itu. Bisa sangat cair. Sangat cair,” jelasnya, selasa (12/6).

Karena apa, prinsip dasarnya adalah, mereka akan mau menyatu ke salah kalao kepentingan politik mereka terakomodasi.

“Sepanjang kepentingan politik mereka belum terakomodasi saya pikir mereka akan membuat poros baru,” paparnya.

Kenapa demikian, karena dalam pencalonan Presiden 2019 ini, sebenarnya tidak pas dipakai istilah koalisi. Yang lebih pas dipakai istilah kerja sama politik.

“Kalo koalisi atas dasar idiologi dan sudah dibangun sejak lama misalnya lima tahun lalu, atau bahkan 10 tahun lalu. Tetapi membentuk poros ini sangat dinamis dan bisa last minute. Karena itulah sangat pragmatis, lebih cocok sebagai kerja sama politik,” terangnya.

Terkait dengan itu, tampaknya tiga poros akan terjadi.

Poros baru ini cenderung akan dinakhodai oleh partai Demokrat, baru kemudian besar kemungkinan merapat PAN.

“Karena PAN rekan lama Demokrat, saat Hatta Ketum. Dan kemudian ada relasi kekeluargan antara PAN dan Demokrat. Kemudian besar kemungkinan akan menyatu PKB. PKB blm definitif mengusung calon. Cak imin bisa saja maju, dari segi eletabilitas perlu dipoles. Dari Demokrat, kelihatah dari hasil survei, AHY sangat layak ditempatkan di posisi cawapres,” paparnya.

Ini saya kira perlu dipertimbangkan akan sangat merebut suara milenial.

“Capresnya? Sangat dinamis, bisa saja dipasangkan dengan Jokowi untuk pasangan ke depan. Tapi akan sangat tergantung komunikasi politik antarakedua tokoh ini maupun partai pengusung,” jelasnya.

Calon-Calon alternatif, ada TGB, Gatot Nurmantyo, Rizal Ramli, Habib Rizieq, kelompok Islam. Tokoh2 yang bukan dari Partai?

“Banyak tokoh-tokoh, ruang publik tidak hanya Jokowi dan Prabowo. Tapi dari sekian banyak calon, nantinya akan mengkristal. Karena mau tidak mau akan memusat ke salah satu poros. Tapi bukan berarti tidak berpeluang. Karena dinamika politik sangat cair,” paparnya.

Misalnya TGB, berprestasi, dia berhasil 2 periode, dia santri dan sangat dekat dengan kelompok muslim, ini akan dipertimbangan untuk posisi cawapres. AHY demokrat.

“Capres belum mendapat respon publik. Demokrat sudah punya. AHY mampu meraup suara kaum milenial. Kemudian didorong untuk Jokowi. Kekuatannya semakin terlihat. Saya pikir Partai Demokrat juga 2 periode berkuasa, jadi saya pikir tidak mungkin demokrat hilang begitu saja. Jadi masih banyak simpatisan dan yang militan dengan demokrat masih ada. Jadi kalu digabung akan luar biasa,” ungkapnya.

Pertanyaannya kemudian, partai-partai pendukung lain dapat apa. Biasanya negosiasi politik. Dalam konsep konseptual gotong royong, kursi mentri. Bersama-sama membangun.

Elektabilitasnya luar biasa, misalnyaa di atas 50 persen partai akan mendekati. Tapi elektabilitas di bawah, saya kira sangat logis partai yidak mendukung merek.

“Partai kan ingin berkuasa, masa mendukung calon yang elektabilitasnya rendah. Itu saja. Untuk Gatot Nurmantyo, sangat rendah,” jelasnya.

Sementara penentuan sebagai calon, (pemilu) ini kan gawenya partai. Partai yang central menentukan. Calon-calon rendah, masa iya dipaksakan.

“Sebetulnya yang lebih aman yang elektabilitas 70 persen. Jokowi sendiri belum aman karena belum sampe 50 persen. Banyak swing votter. Jokowi sangat pantas menggandeng Cawapres yang bisa ikut mendongkrak elektabilitasnya,”terangnya.

Dua hal yang harus dilakukan Jokowi: memacu pembangunan, berpasangan dengan cawapres.

“Ya AHY. AHY mencoba berkomunikasi dengan Pak Jokowi,” pungkasnya. (*)

Untuk Anda
Terbaru