banner

Pembangunan di Daerah Sulit Berkembang, Inovasi Sering Terhambat Regulasi

darikita 26 Agustus 2016
GROUND BREAKING: Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono didampingi Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, dan Wali Kota Bandung menuangkan mortar busa saat dilangsungkannya groundbreaking pembangunan fly over Jalan Jakarta, Kota Bandung, Jumat (10/6).
vertical banner

SUMUR BANDUNG – Pembangunan di daerah sering kali terhambat regulasi. Hal ini mengakibatkan realisasi pembangunan menjadi tertunda. Untuk itu, pembangunan di setiap daerah bisa berkembang jangan dibatasi oleh regulasi.

”Banyak masukan ke kami (pemkot), termasuk dari saya, inovasi-inovasi di daerah itu banyak yang tidak bisa bergerak. Karena kadang-kadang nggak ada cantolan peraturannya,” kata wali kota yang akrab disapa Emil ini kepada wartawan saat ditemui kemarin (24/8).

Emil memaparkian, selama ini inovasi di daerah muncul setelah ada payung hukumnya. Akan tetapi, cara berpikir seperti itu sudah keliru. Menurutnya, inovasi seperti cable caryang tadinya tinggal tunjuk langsung dengan izin usaha transportasi tertunda. Akan tetapi, adanya aturan mengamanatkan hal tersebut perlu lewat sistem lelang.

”Seharusnya berinovasi dulu baru aturan menyesuaikan. Kalau harus peraturan dulu biasanya inovasi-inovasi jadi banyak yang tidak berkembang,” paparnya.

Emil membeberkan bahwa salah satu bukti inovasi dapat bergerak cepat dengan dukungan aturan yang tidak menghambat seperti saat pelaksanaan acara HUT KAA tahun 2015 lalu. Emil menyebut saat ini ada 60 proyek yang harus selesai dalam waktu 60 hari. Namun proyek tersebut dapat selesai tepat waktu dengan adanya Perpres.

”Waktu KAA dikasih waktu 60 hari harus ngerjain 60 proyek. Terdiri dari 60 kegiatan setengahnya event setengahnya proyek, infrastruktur, trotoar. Itu kalau pakai peraturan normal itu satu setengah tahun lho, tapi beres 60 hari. Kenapa? Saya dilindungi Perpres. Pak wali boleh penunjukan langsung selama penunjukan dilengkapi oleh kejaksaan, kepolisian, BPKP. ’Tah eta bisa’ (Nah itu bisa). Jadi artinya membangun satu setengah tahun bisa dengan dua bulan,” paparnya.

Berkaca dari pengalaman tersebut, Emil menilai bahwa yang menbuat daerah sulit berinovasi yakni karena peraturannya sendiri yang menghambat.

Untuk Anda
Terbaru