darikita.com, MENGUTIP slogan 4 sehat 5 sempurna, akan memiliki makna lebih, ketika seiring sejalan dengan visi Dinas Pemuda dan Olah Raga Kota Bandung, yang kini gencar memasyarakatkan 4 sehat, 5 juara.
Kolaborasi kalimat itu, kata Ketua Komisi D DPRD Kota Bandung Achmad Nugraha, semakin utuh manakala teraplikasi dalam raihan prestasi olah raga. Sebab, sudah pasti sehat menjadi modal dasar dalam aktivitas olah raga. ’’Kalau sehat pasti juara,” tukas politikus PDI Perjuangan ini, di sela peluncuran logo baru Dinas Pemuda dan Olah Raga Kota Bandung, kemarin.
Dia menjelaskan, atlet dan pemuda yang sehat akan lebih enerjik. Dan itu diperlihatkan oleh kinerja KONI Kota Bandung, dalam membingkai para atletnya guna meraih prestasi olah raga setinggi-tingginya. ”Tidak kurang dari 40 persen, atlet asli orang Bandung terhimpun dalam jajaran atlet yang akan berlaga di arena PON Jawa Barat ke-XIX,” ujar Amet- sapaan akrabnya.
Berdasarkan referensi itu pul, DPRD Kota Bandung mendorong anggaran pendidikan pemuda dan olahraga serta kesehatan lebih diarahkan pada perbaikan infrastruktur, gedung, sekolah, sarana olahraga serta peningkatan status beberapa rumah sakit daerah.
DPRD Kota Bandung, melalui persetujuannya mengumumkan kenaikan anggaran kesehatan dan pendidikan dalam APBD 2016. Di APBD 2016, alokasi untuk kedua sektor tersebut naik. Itu terlihat berdasarkan persentase terhadap jumlah total anggaran.
Anggaran kesehatan dalam APBD 2016 naik menjadi 15 persen. Ini bukti pemerintah kota Bandung, memenuhi amanah UU No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Termasuk di dalamnya alokasi bantuan persediaan stok (baperstok) sebesar Rp 10 miliar.
Sedangkan di sektor pendidikan, meskipun persentasenya terhadap total anggaran menjadi 20 persen, besaran itu tetap memenuhi amanah UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Namun demikian, sebagai kebutuhan dasar, alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk sektor pendidikan dan kesehatan tetap menjadi sorotan masyarakat. Sebab, dalam amanatnya DPRD Kota Bandung, mengusung kedua sektor itu menjadi urusan wajib yang tak bisa ditawar-tawar lagi.
Kenapa membuka persoalan ini serta dalam kesempatan yang berbahagia di lingkungan komunitas pelajar, pemuda dan insan olah raga. Dalam pandangan Amet, di Kota Bandung ini, tidak ada yang tidak diberikan pelayanan. Tidak ada lagi keluhan pendidikan dan kesehatan. Maka, masyarakat olah raga pun akan dengan mudah mendapat layanan pendidikan dan kesehatan. ”Masyarakat olah raga yang sehat dan berwawasan tinggi, tidak mustahil meraih prestasi olah raga yang tinggi,” tegas Amet.
Dikesempatan sama, Ketua KONI Kota Bandung Aan Johana menyatakan, dalam mencetak atlet muda bermental juara, pihaknya memiliki tahapan rencana strategis dalam menuju Bandung Juara.
Berbagai kegiatan, urai Aan, seperti even sepak bola yang memperebutkan piala Wali Kota, menjaring menggali sampai dengan mempersembahkan prestasi hingga memberikan insentif khusus kepada insan olahraga berprestasi terus digalakan.
Sebuah kebanggaan bagi kami (KONI), 40 persen, atau tidak kurang dari 400 atlet PON Jawa Barat, berasal dari Kota Bandung. ”Para atlet ini, akan mengikuti 46 cabang olah raga, ” ucap Aan.
Meski tidak dipungkiri, sahut Aan, ini tantangan yang tidak ringan. Namun, berkat dukungan anggaran yang dikucurkan Pemkot Bandung, melalui persetujuan DPRD, kegitan dan pembinaan berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Motifasi yang tinggi sangat kental di benak para atlet asal Bandung, utamanya dalam mewujudkan Jabar Kahiji. Hal itu, bukan tidak mungkin sumbangsih Kota Bandung, seperti pada PON Riau, terulang kembali. ”Dari 107 emas raihan tim PON Jabar, 42 emas disumbangkan para atket Kota Bandung. Untuk PON Jabar tahun depan, minimal menyamai. KONI tetap mengandalkan cabang renang, atletik, dan panahan. Tanpa mengesampingkan kualitas atlet yang tersebar di cabang olahraga lain,” pungkas Aan.(edy/Adv)













