banner

Pemkot Surabaya Angkat 1.000 Ton Lumpur

darikita 1 Maret 2016
Ahmad Khusaini/Jawapos PEMBENAHAN KOTA: Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini meresmikan eks lokalisasi Dolly sebagai kawasan wisata beberapa waktu lalu.
vertical banner

Meski Masuk Kewenangan BBWS Brantas

darikita.com, Banjir di kawasan Surabaya Barat masih membayangi. Pemkot pun berusaha menormalisasi saluran air di perkampungan dan saluran utama. Salah satunya Kali Makmur yang membelah Surabaya Barat dan bermuara di Kali Surabaya.

Berdasar data di Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga, dan Pematusan (DPUBMP) Surabaya, pengerukan Kali Makmur itu dilakukan hampir setiap hari. Pada Januari lalu, tidak kurang dari 151 rit endapan lumpur diangkat dari kali tersebut. Satu rit atau pengangkutan dengan dump truck itu berkapasitas sekitar 7 ton. Jadi, dalam sebulan, setidaknya 1.000 ton endapan lumpur diangkat dari sungai tersebut.

Di kawasan Surabaya Barat, hanya Kali Makmur yang menjadi tumpuan untuk pembuangan air berlimpah. Termasuk dari perumahan elite yang tersebar di kawasan Wiyung. Itu pula yang terjadi pada saat hujan deras Rabu lalu dan menenggelamkan beberapa titik di perumahan elite serta perkampungan warga.

Kepala Bidang Pematusan DPUBMP Syamsul Hariadi menuturkan, sejumlah saluran utama memang perlu dikeruk. Termasuk yang menjadi atensi pemkot adalah Kali Makmur. ”Semua saluran kami normalisasi secara berkala,” ungkap dia.

Kali Makmur sebenarnya berada di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. Tapi, pemkot tidak mau tinggal diam lantaran sungai tersebut sudah cukup lama tidak dikeruk. Ada pendangkalan yang cukup dalam di sungai itu.

Lebih lanjut, Syamsul menuturkan bahwa pemkot memiliki sekitar 500 orang satuan tugas (satgas) yang tersebar di lima wilayah. Mereka mengeruk secara manual dengan cangkul sampai masuk ke dalam saluran yang tertutup. Ada pula 42 ekskavator berbagai ukuran yang membantu pengerukan di saluran terbuka.

Hasil pengerukan berupa endapan lumpur itu diangkut truk ke tempat-tempat pembuangan. Misalnya, di lahan bekas tanah kas desa di Tambak Wedi dan hutan kota Balas Klumprik. ”Kami juga dibantu 58 dump truck untuk pengangkutan endapan,” ujar Syamsul.

Bukan hanya normalisasi saluran yang sedang diupayakan pemkot. Mereka juga akan membuat percepatan dengan memanfaatkan pompa air. Pemkot berencana menanam rumah pompa di saluran Kali Makmur. Lokasi persisnya di muara Kali Kendal yang mengarah ke Kali Makmur di Wiyung.

Kepala Rayon Wiyung DPUBMP Syahrial Wahyudin mengungkapkan, posisi Kali Kendal sangat penting dalam sistem drainase di kawasan Wiyung. Sungai itu menjadi penghantar utama arus air yang cukup deras dari perumahan elite di sekitarnya. ”Tapi, aliran dari Kali Kendal ke Kali Makmur itu tidak bisa maksimal. Jadi, perlu ada rumah pompa,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, penambahan rumah pompa tersebut sudah disampaikan kepada pemkot untuk dibicarakan lebih lanjut. Dari kabar terbaru yang dia terima, usul itu mendapat respons bagus. ”Sekarang sedang dihitung kebutuhan rumah pompanya. Butuh berapa pompa banjir dan ukurannya berapa,” ujar Syahrial.

Penyediaan rumah pompa itu menjadi solusi jangka panjang. Dalam jangka pendek sampai musim hujan berakhir, Rayon Wiyung DPUBMP menyiapkan empat pompa berukuran sedang. Pompa portabel itu diletakkan di lokasi yang tidak jauh dari area yang sempat tergenang tinggi pada Rabu lalu (24/2). ”Jaga-jaga kalau tiba-tiba hujan sangat deras seperti Rabu lalu,” imbuh dia.

Normalisasi juga dilakukan di Kalimas. Dua unit ekskavator beroperasi di anak Kalimas yang berada di Jalan Prof Dr Moestopo kemarin (28/2). Tepatnya saluran di sisi timur SMPN 29 Surabaya. Alat berat tersebut diturunkan DPUBMP Surabaya untuk membantu pengerukan sedimen saluran. Kegiatan bersih-bersih saluran di Kecamatan Gubeng tersebut dipimpin langsung oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

”Yang kami dapat tidak hanya sampah plastik. Kasur juga ikut dibuang ke saluran,” kata Risma. Dia menambahkan, munculnya genangan di sejumlah kawasan Surabaya disebabkan curah hujan yang tinggi. Selain itu, beberapa saluran di Surabaya sempit sehingga tidak mampu menampung debit air. Banjir juga disebabkan banyaknya sampah yang dibuang di saluran dan sungai.

Sedikitnya ada enam tim yang diturunkan DPUBMP untuk menormalkan saluran dan sungai. Selain di saluran Jalan Prof Dr Moestopo, papar Risma, kegiatan normalisasi dilakukan di Kali Balong, Kandangan, boezem di Kalidami, saluran Tembok, Tenggilis Mejoyo, serta sungai perbatasan Surabaya-Sidoarjo. (jun /bir/rst/c7/c11/end/fat/rie)

Untuk Anda
Terbaru