
TES PASAR: Petugas memeriksa mesin pengisi bahan bakar Pertalite di SPBU Rest Area Tol Purbaleunyi KM 123, Kamis (23/7) lalu.
darikita.com, JAKARTA – Pertamina mulai bernapas lega. Uji coba penjualan bahan bakar minyak (BBM) jenis baru pertalite disambut antusias oleh pasar.
Vice President Komunikasi PT Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan, penjualan BBM dengan research octan number (RON) 90 itu di berbagai wilayah melonjak drastis pada hari kedua (Sabtu, 25/7) ketimbang penjualan saat hari pertama diluncurkan. ”Antusiasme konsumen sangat tinggi,” ujarnya kemarin.
Untuk wilayah Jawa Timur, kata Wianda, penjualan pertalite di 33 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah Surabaya dan sekitarnya pada Sabtu lalu menembus angka 91,4 kiloliter. Artinya, naik 86,6 persen bila dibandingkan dengan realisasi penjualan Jumat yang sebesar 48,9 kiloliter. ”Respons pasar Jatim sangat bagus,” kata mantan presenter salah satu televisi swasta tersebut.
Bahkan, lanjut dia, penjualan pertalite di sebelas SPBU di Sidoarjo dan Mojokerto pada Sabtu lalu tercatat melonjak drastis hingga 26,5 kiloliter, naik 269 persen atau hampir tiga kali lipat jika dibandingkan dengan penjualan pada hari pertama sebanyak 9,8 kiloliter. Bahkan, di salah satu SPBU sempat mencatat penjualan hingga 4,7 kiloliter. ”Ini sangat luar biasa,” ucapnya.
Bagaimana dengan penjualan pertalite di Jawa bagian barat yang mencakup Jakarta dan sekitarnya serta Bandung? Wianda menyebutkan, kenaikan konsumsi pertalite pada hari kedua di wilayah ini mencapai 88,9 persen. ”Sedikit lebih tinggi daripada kenaikan di Jatim,” ujarnya.
Pertamina mencatat penjualan pertalite di 66 SPBU pada Sabtu lalu mencapai 186,6 kiloliter atau rata-rata 2,8 kiloliter tiap SPBU. Namun, di beberapa SPBU besar di Jakarta, penjualan pertalite sampai menembus 5 kiloliter per hari. ”Kami yakin konsumsi pertalite akan terus tumbuh,” katanya.
Pada tahap uji coba pasar itu, Pertamina mengumpulkan data penjualan harian pertalite dari SPBU pada keesokannya. Sebab, banyak SPBU yang masih buka hingga tengah malam. Selain itu, Pertamina turut mengumpulkan data penjualan BBM jenis premium maupun pertamax untuk memonitor adanya migrasi atau perpindahan konsumen premium dan pertamax ke pertalite.
Selama ini memang muncul kekhawatiran bahwa hadirnya pertalite dengan RON 90 justru akan memicu perpindahan konsumen pertamax yang memiliki RON 92. Padahal, yang diinginkan adalah berpindahnya konsumen premium dengan RON 88 ke pertalite.
Lantas, bagaimana hasil pantauannya? Menurut Wianda, Pertamina cukup lega karena penjualan pertamax di SPBU-SPBU yang menjual pertalite ternyata relatif stabil. Artinya, perpindahan terjadi dari konsumen yang biasanya membeli premium ke pertalite yang kualitasnya lebih bagus. ”Jadi, sesuai harapan kami,” ucapnya.
Ramah Pada Teknologi Blue Core
Sementara itu, teknologi blue core milik Yamaha dipastikan tidak bermasalah dengan pertalite. Malah, bbm dengan oktan 90 tersebut bisa membuat umur mesin lebih lama.
”Sebenarnya ketika ada teknologi injection pun, kompresi mesin di Yamaha umumnya memerlukan oktan di atas 88. Nah, dengan adanya pertalite, tentu akan semakin baik buat mesin. Apalagi dengan teknologi blue core,” kata coordinator after sales DDS II Yamaha Jawa Barat Emil Satriya kepada Bandung Ekspres kemarin.
Dia mengatakan, konsumsi premium sebenarnya tidak masuk dalam standar Euro 3. Standar Euro 3 tersebut, kata dia, jelas penggunaan. ”Sebab, akan menjadikan kendaraan hemat bahan bakar. Dan emisi gas buangnya pun jadi sedikit, sehingga lebih ramah lingkungan,” tandasnya. (owi/c10/sof/rie)













