banner

Seks Bebas Remaja yang Selalu Berujung Petaka

darikita 25 Januari 2016
PERGAULAN BEBAS: Faktor pendukung pelajar terjerumus seks bebas. Salah satunya terdorong teknologi internet
vertical banner

Pelajar SMP Coba Begituan, Akhirnya Kena IMS

darikita.com, Infeksi menular seksual (IMS) kini sudah merambah usia remaja. Penyebab utamanya tentu saja seks bebas. Mereka cenderung terlambat ditangani lantaran merasa malu.

SEBUT saja namanya Cinta. Usianya belum genap 18 tahun. Namun, dia sudah pernah ”menikmati” seks bebas cukup lama. Gara-gara itu pula, kini dia putus sekolah dan mengidap infeksi menular seksual (IMS).

Ketika ditemui di sebuah selter yayasan sosial pada Jumat (22/1) lalu, Cinta mengakui, memang ada masalah dengan organ kewanitaannya itu. Namun, dia menolak untuk menyebutkan jenis IMS yang dideritanya. ”Saya juga sering dicurhati teman soal penyakit kelamin,” ujarnya.

Bukan hanya teman perempuan, tidak sedikit yang suka curhat itu anak laki-laki. Ada yang usianya masih setara anak SMP. Bahkan, ada anak laki-laki yang bercerita kepada Cinta bahwa dirinya menderita kencing nanah. Anak itu mengaku terkena penyakit tersebut lantaran berhubungan intim saat pacarnya menstruasi. ”Mungkin karena terkena darah. Kan saat menstruasi itu, darahnya kotor,” ucap Cinta.

Saat ditanya jenis penyakit yang termasuk IMS, Cinta menyebutnya dengan fasih. ”Ada kondiloma, kencing nanah, herpes, keputihan yang tidak wajar, dan yang seperti itu lah. Pokoknya banyak,” tutur perempuan asli Surabaya itu.

Untuk saat ini, Cinta sudah menjalani pengobatan medis. Tapi, itu melalui proses yang tidak gampang. Saat pertama ke dokter, Cinta mengaku deg-degan bercampur malu. Cinta takut ditanya dari mana penyakit itu didapat dan takut diejek dokternya.

Untung, dokter yang menanganinya tidak seperti yang dia bayangkan. Dokter memang tetap menanyakan dari mana dia mendapatkan penyakit tersebut. Namun, cara bertanyanya tidak menyudutkan Cinta. ”Orang tua saya tidak tahu soal penyakit ini. Saya berobat dengan uang sendiri,” ungkapnya.

Bagi Cinta, seks bebas yang pernah ”dinikmatinya” merupakan masa lalu. Dia menyesal telah melakukan hal tersebut. Selain putus sekolah, mantan siswa SMK negeri di Surabaya itu harus berjuang melawan penyakit IMS. ”Sekarang saya tidak mau lagi berhubungan intim sama pacar,” tutur Cinta.

Ada lagi remaja di metropolis yang mau berbagi cerita tentang pengalaman seks bebas hingga dia terkena IMS. Sebut saja namanya Rosa. Dia mengenal hubungan seksual ketika masih berusia belasan tahun. Kini dia sudah menjadi mahasiswa semester awal sebuah perguruan tinggi negeri di Surabaya.

”Saya merasa gimana gitu kalau sama pelaut,” katanya. Sudah berulang-ulang dia berhubungan badan dengan orang yang berprofesi sebagai pelaut. Bahkan, pada mereka yang level kelasi.

Sekarang Rosa menderita kondiloma atau daging tumbuh. Karena sakitnya itu, dia sering merasa frustrasi. Rasa frustrasi tersebut muncul ketika dia ternyata tidak mendapatkan kepuasan seperti yang didambakan. Haus kasih sayang seorang ayah yang dia lampiaskan dengan tidur bersama laki-laki ternyata tidak membuatnya puas. Yang dia dapat justru IMS. Bahkan, beberapa kali Rosa mencoba untuk bunuh diri. Sekarang Rosa sedang menjalani pengobatan medis.

Satu lagi remaja yang mau bercerita kepada Jawa Pos (induk Bandung Ekspres). Sebut saja namanya Tesa. Sekarang usianya sudah 19 tahun. Dia mengaku pernah ada masalah pada organ kewanitaannya. ”Sering keputihan dan mambu,” katanya. Keluhan itulah yang acap kali membuatnya tidak nyaman. Ketika bertemu dengan teman-temannya, Tesa harus menjaga cara duduk agar tidak tercium. Selain itu, dia merasa sering gatal di bagian ”anunya”.

Tesa mengatakan, dirinya mengenal hubungan suami istri sejak SMP. Ketika itu, dia tinggal dengan kakek dan neneknya. Ibunya sudah meninggal, sedangkan ayahnya menikah lagi. ”Awalnya saya dipaksa pacar,” ujar Tesa.

Karena merasa sudah terjerumus, perilaku seks bebas Tesa semakin kebablasan. Dengan alasan mencari uang, dia mulai melayani pria hidung belang. Hal itu dilakukan Tesa karena tidak mau bergantung secara ekonomi pada budenya.

Tesa bukannya tak pernah berhenti menjual diri. Meski sering pindah kota, selalu saja ada lelaki yang mengajaknya. ”Saya selalu ingin melakukannya. Bahkan, saya pernah minta begitu dengan pacar baru saya,” ceritanya.

Untung, Tesa mengenal salah seorang aktivis sosial. Dia dibawa ke sebuah rumah penampungan. Di sana dia mulai mendapatkan kehangatan keluarga. Tesa pun terbuka soal permasalahan di organ intimnya. ”Sekarang saya sudah berobat. Mbak-mas di sini yang mendorong saya,” jelasnya.

Direktur Yayasan Embun Surabaya Joris Lato mengakui, saat ini banyak remaja, bahkan anak-anak, yang sudah pernah melakukan seks bebas. Beberapa di antaranya malah kecanduan dan akhirnya terjangkit IMS. ”Tapi, ada juga yang karena korban kejahatan seksual, akhirnya terkena IMS,” ujar pria yang kerap menjadi pendamping anak-anak dengan pergaulan bebas itu.

Dari beberapa anak yang pernah masuk Yayasan Embun, jenis IMS yang diderita macam-macam. Yang laki-laki sering terkena IMS pada bagian skrotumnya hingga menghitam. Yang perempuan terserang kencing nanah. ”IMS itu identik dengan penyakit memalukan,” jelasnya.

Karena tergolong memalukan, anak-anak itu tidak berani bercerita kepada orang terdekat, terutama orang tua. Kebanyakan remaja dengan IMS juga tumbuh di kalangan keluargabroken home. ”Misalnya, bapak dan ibunya sudah menikah dengan orang lain lagi. Jadi, anaknya dititipkan ke mbah yang membiarkan cucunya,” ujar Joris.

Menurut dia, remaja yang menderita IMS harus mendapat dukungan keluarga. Sebab,support tersebut membuat anak berobat dan bertobat. Jika tidak, anak-anak itu tetap menjalankan aktivitas seks yang bisa me­ngakibatkan mereka terjangkit penyakit lebih mematikan seperti HIV/AIDS.

”Yang paling penting, anak-anak itu jangan sampai putus sekolah. Kalau telanjur, didukung sekolah lagi sambil melatih keterampilan dan membimbing mereka,” ucapnya.

Ketua Hotline Pendidikan Surabaya Isa Ansori menambahkan, tahun lalu ada 385 kasus anak yang ditanganinya. Sebanyak 135 anak mengalami kekerasan seksual. Banyak juga yang menderita penyakit menular seksual. Akibatnya, ada yang terjun ke dunia prostitusi. ”Biasanya karena masalah kemiskinan. Mereka bisa mendapatkan uang dengan instan,” ujarnya.

Di antara ratusan anak yang mendapat pendampingan itu, hanya 30 persen yang berhasil kembali mengejar masa depan. Yakni, dengan menempuh pendidikan lagi setelah putus sekolah. ”Ada yang bisa berkuliah di Unair jalur prestasi,” ucapnya.

Isa menyebutkan, perlu dukungan banyak pihak untuk mengembalikan kepercayaan diri remaja penderita IMS. Mulai pendampingan lembaga sosial, pendekatan ke keluarga, hingga peran pemkot. Menurut dia, Surabaya sebenarnya sudah memiliki perda perlindungan anak. Tinggal penegakannya ”Supaya anak benar-benar terlindungi. Sampai sekarang masih banyak anak yang menjadi korban,” katanya. (nir/lyn/c7/fat/rie)

Untuk Anda
Terbaru