Dia menjelaskan, SMPN 3 yang berdiri sejak 2010 awalnya tidak memiliki lahan dan gedung sekolah. Bahkan, untuk kegiatan belajarnya pun harus numpang dan berpindah-pindah ke sekolah yang lain hingga 2014.
Akibat sekolah yang ditumpanginya sudah tidak mempu menampung siswa SMPN 3, maka atas desakan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bandung Barat untuk secepatnya mencari lahan sekolah. Walhasil, lahan bekas peternakan ayam miliknya dijadikan tempat belajar dengan menggunakan anggaran 2015.
”Akhirnya ide untuk merenovasi kandang ayam milik keluarga saya ini diajukan ke pemkab dan akhirnya sambil berjalan kami membangun tiga kelas,” ujarnya.
Saat ini, lanjut dia, dari luas lahan 3.426 meter persegi, baru tiga ruang kelas yang sedang dibangun dan masih kurang 13 ruang kelas untuk menampung 370 siswa yang ada saat ini. ”Aset pemkab baru tiga kelas yang dibangun, sisanya masih aset saya dan keluarga saya, karena baru tanahnya yang dibeli, tidak dengan gedung dan kandang ayamnya,” ujarnya.
Dia menyebutkan, tenaga guru berstatus PNS 12 orang dan guru berstatus honorer 23 orang, tenaga tata usaha honorer 4 orang, penjaga sekolah honorer 1 orang dan tata usaha berstatus PNS 1 orang. SMPN 3 juga sejak berdiri telah meluluskan 17 siswa di tahun pertama berdiri, tahun kedua 72 siswa dan kemarin yang ikut ujian nasional (unas) atau angkatan ke-3 ada sebanyak 113 siswa.
”Sekarang yang kami harapkan bagaimana agar fasilitas di sini dapat bantuan yang lebih layak. Bahkan, kami berharap para siswa bisa merasakan kenyamanan saat belajar,” pungkasnya. (drx/rie)













