Hendriyadi Bahtiar, Penggerak Sahabat Pulau dan Desa-preneur
Berfokus pada pendidikan anak-anak di kawasan terpencil, Sahabat Pulau yang digagas Hendriyadi Bahtiar kini menyebar di belasan provinsi. Dia sampai rela meninggalkan pekerjaannya yang mapan.
DIAN WAHYUDI, Jakarta
BADANNYA memang tengah transit di Singapura. Tapi, siang itu, di Bandara Changi yang nyaman dan canggih, pikiran Hendriyadi Bahtiar justru terbang ke kampung halaman dengan segala keterbatasannya nun di pesisir Sulawesi Selatan sana.
Singapura dan Bulukumba. Pertemuan dua dunia yang kontras itulah yang kemudian meletupkan ide untuk menginisiasi Gerakan Sahabat Pulau. ”Saya berpikir, kenapa tak menerapkan ilmu yang saya dan kawan-kawan baru peroleh di Kanada untuk kampung-kampung kami,” kata pemuda 26 tahun itu mengenang momen enam tahun silam tersebut.
Ketika itu Hendriyadi bersama 18 anak muda lainnya memang baru pulang dari Kanada untuk mengikuti Youth Exchange Program. Selama enam bulan di Negeri Mapel itu, dia dikenalkan dengan peran pemuda sebagai fasilitator dalam proyek pembangunan berbasis masyarakat.
Kebetulan, seperti Hendriyadi, hampir semua rekannya berasal dari kampung. ”Tidak semua anak-anak kampung seperti kita punya kesempatan belajar di luar negeri. Karena itu, kita perlu berbagi inspirasi,” imbuh Hendriyadi saat itu, mengulang ajakan kepada teman-temannya sesama peserta program.
Maka, dimulai dari Pulau Pahawang, Lampung, bergulirlah Gerakan Sahabat Pulau. Dengan menggandeng kalangan pemuda dan mahasiswa lokal, lulusan terbaik ketiga Jurusan Akuntansi Universitas Trisakti, Jakarta, pada 2011 itu berusaha menyebar virus kerelawanan.
Gerakan tersebut berfokus pada upaya memberikan pengajaran dan mengatasi kesulitan akses pendidikan buat anak-anak di daerah terpencil. Mereka punya link dengan korporat maupun berbagai NGO. Perpustakaan mini dan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan tinggi juga berusaha dihadirkan.
Kini, enam tahun berselang, Sahabat Pulau telah memiliki sekitar 265 volunter (relawan). Mereka tersebar di 28 titik di 12 provinsi. Di setiap provinsi juga telah berdiri rumah baca.
Sahabat Pulau juga melahirkan desa-preneur. ”Harapan saya, setidaknya di masing-masing provinsi yang telah ada Sahabat Pulau juga berdiri desa-preneur,” ungkpanya.
Atas semua kerja kerasnya itu, Hendriyadi pun diganjar penghargaan dari PGRI kerja bareng Telkom Indonesia. Penghargaan tersebut diserahkan di Jakarta pada Minggu lalu (13/12).
Jalan yang ditempuh Hendriyadi untuk bisa sampai di tempatnya sekarang sungguh tidak mudah. Lahir dari keluarga pas-pasan secara ekonomi, sejak SD, Hendriyadi kecil terbiasa mencari tambahan uang.
Mulai menjual kue dan jajanan di kampung maupun sekolahnya hingga menjadi pemecah batu pun pernah dijalaninya. Bahkan, saat SMA, seluruh biaya sekolah sudah harus dipikirkan dan ditanggung sendiri.
Kondisi tersebut bukan jadi alasan membuatnya lemah. Tapi, justru jadi pemicu agar bisa berprestasi. Keberhasilannya meraih juara umum di bidang akademis sekaligus siswa teladan saat SMA lebih didasari upaya untuk mendapat fasilitas bebas biaya SPP.
Begitu juga saat lulus SMA pada 2007. Tekad yang besar untuk meneruskan ke perguruan tinggi mendorongnya untuk mencoba berbagai pintu.
Karena tak kunjung mendapat program beasiswa, dia sempat berancang-ancang menunda kuliah untuk tahun berikutnya sambil bekerja. Surat lamaran sebagai penjaga rumah makan hingga cleaning service salah satu mal di Makassar telah pula dia kirim.
Namun, nasib telah ditentukan. Pemberitahuan bahwa dia terpilih sebagai recipient hibah beasiswa salah satu bank swasta akhirnya datang. Meski demikian, kerumitan muncul.
Hasil SPMB (seleksi penerimaan mahasiswa baru) yang telah lebih dahulu menetapkan Hendriyadi lolos di Jurusan Kimia Universitas Negeri Makassar (UNM) ternyata tidak masuk dalam program studi untuk di-cover. Bidang ilmu yang di-cover beasiswa tersebut hanya ekonomi, teknologi informasi, dan hukum.
Alternatifnya, dia kemudian harus masuk universitas swasta agar tetap bisa memanfaatkan beasiswa tersebut. ”Bingungnya minta ampun waktu itu. Sebab, di Makassar, saya tahunya hanya Unhas (Universitas Hasanuddin, Red) atau UNM. Kalau swasta berkualitas, saya belum banyak tahu,” kisahnya.
Tawaran untuk memilih kampus swasta di Jakarta akhirnya disampaikan pendonor. ”Nah, tambah bingung lagi. Tapi, akhirnya saya menyebut begitu saja nama kampus Trisakti. Hanya karena teringat peristiwa penembakan mahasiswa saat reformasi,” tuturnya, lantas tertawa.
Proses adaptasi menjadi tantangan berikutnya. Sebab, saat SMA, dia lebih mengakrabi pelajaran-pelajaran eksakta. ”Saya sampai sempat nangis ketika nilai ujian pertama saya hanya 40. Seumur-umur sekolah, itu yang pertama,” tuturnya, lalu kembali tertawa.
Namun, tantangan kembali berhasil dilewatinya. Bukan hanya cukup cemerlang di bidang akademis, dia aktif di sejumlah kegiatan. Dia menjadi anggota Asosiasi Mahasiswa Indonesia untuk Studi Internasional, ketua Forum Ekonomi Islam di Trisakti, dan ketua Ikatan Mahasiswa Sulawesi Selatan di Jakarta. Prestasi akademik yang diimbangi ragam aktivitas itulah yang akhirnya membuka pintu ke Kanada.
Sahabat Pulau yang diinisiasi pada 2009 terus dikembangkan ketika dia lulus kuliah dan mulai bekerja di bank pemberi beasiswa pada 2011. ”Saya biasa berangkat Jumat dan Minggu balik lagi (ke Jakarta, Red),” tutur Hendriyadi.
Aktivitas akhir pekan Hendriyadi itu dijalani hingga sekitar dua tahun. ”Saya akhirnya berhenti dari pekerjaan di bank dan fokus di sini (Gerakan Sahabat Pulau, Red). Tidak ada keraguan saat itu karena saya merasa memang born to be volunteer (terlahir untuk menjadi relawan),” tegasnya.
Hendriyadi yang kini lebih sering tinggal di Pulau Selayar, Sulawesi Selatan, itu kini bermimpi bisa lebih melebarkan gerakan ke Indonesia Timur. Misalnya, di kawasan Maluku dan Papua. ”Nah, siapa yang bisa? Idealnya, ya para sarjana dari berbagai bidang. Karena itu, jangan ragu dan jangan takut kembali dan membangun kampung halaman,” kata Hendriyadi. (*/c10/ttg/rie)













