banner

Tiga pilar penting pendidikan anak di Zaman Now

admin darikita 20 Maret 2018
vertical banner

darikita.com- PRESTASI seorang anak dalam pendidikan tentunya tak terlepas dari peran keluarga di rumah. Kondusifitas keluarga memiliki efek penting terhadap psikologis anak. Keluarga yang harmonis cenderung akan lebih banyak memberikan nilai positif bagi kehidupan seorang anak. Itu sudah menjadi pengetahuan umum, dan ini harus disadari oleh kalangan pendidik kita, terutama dalam menghadapi anak-anak yang cenderung bermasalah dalam pembelajaran di sekolahnya. Faktor keluarga mendapat posisi pertama dalam memberikan pengaruh terhadap sikap dan juga sifat seorang peserta didik di sekolah, yang selanjutnya adalah lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekolah itu sendiri.

Tak dapat dipungkiri bahwa keluarga merupakan sekolah pertama bagi setiap manusia. Sebelum seorang anak masuk ke dalam lingkungan sekolah, yang pertama akan dia kenal dan alami adalah bagaimana berada dalam lingkungan rumah dan keluarga. Pendidikan dalam keluarga akan sangat berpengaruh terhadap bagaimana seorang anak menerima pendidikan lainnya di luar dari pendidikan keluarga, sekolah adalah salah satunya. Banyak kebiasaan di dalam rumah yang terbawa ke sekolah baik itu yang baik ataupun yang buruk.

Sebelum memasuki usia wajib sekolah, masa-masa emas seorang anak akan ditempa dalam lingkungan keluarga. Jika pendidikan yang diterapkan dalam keluarga itu baik, maka kemungkinan besar pendidikan selanjutnya akan baik pula. Namun sebaliknya, jika pendidikan dalam keluarga itu kurang baik bahkan buruk, maka akan berpengaruh besar terhadap pendidikan peserta didik pada jenjang berikutnya.

Sebuah keluarga baru tentunya belum banyak memiliki pengalaman dan pengetahuan dalam mendidik anak. Maka dari itu, baiknya jika orang tua yang baru ini senantiasa mau untuk belajar bagaimana menyiapkan pendidikan anaknya yang baik sedini mungkin. Pengetahuan tentang pendidikan anak di masa-masa emas atau golden age mutlak diperlukan. Hal itu semata-mata demi menciptakan generasi cemerlang di masa yang akan datang. Kegagalan sebuah keluarga dalam menyiapkan anak cemerlang maka akan ber-efek terhadap masa depan si anak itu sendiri, yang pada akhirnya akan berakibat buruk bagi masa depan bangsa. Oleh karena itu, untuk menciptakan masyarakat yang baik itu dimulai dari menciptakan pendidikan keluarga yang baik. Tanpa itu, impian untuk menciptakan generasi unggul di masa yang akan datang tidak akan tercapai.

Untuk mencapai kemakmuran sebuah negara, maka yang pertama adalah memulai kemakmuran dalam keluarga. Pendidikan sebaik apapun, jika bibit-bibit yang dimasukan itu bermasalah dalam keluarga, maka ketercapaian kemakmuran hanya akan menjadi mimpi semata.

Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan dan berkedudukan sebagai seorang guru, penulis tentunya mempunyai pengalaman terkait dengan prestasi yang dicapai oleh seorang siswa karena faktor dalam keluarganya. Selain itu, tidak sedikit masalah yang timbul dari diri seorang peserta didik yang diakibatkan dari ketidakbaikan lingkungan dalam keluarga.

Kemudian, apabila seorang anak didik yang sudah terlanjur masuk dalam jenjang pendidikan sekolah dan dan ternyata mempunyai masalah dalam keluarganya, kiranya solusi apa yang tepat untuk dilakukan. Hal ini harus menjadi perhatian khusus baik dari pihak sekolah maupun orang tuanya. Diperlukan komunikasi dua arah yang baik antar pihak sekolah dengan keluarganya di rumah. Keluarga di sini tidak mutlak ayah atau ibu saja, tapi bisa juga anggota keluarga yang lain, dimana seorang anak itu tinggal sehari-hari. Komunikasi antar sekolah dengan wali murid terutama untuk para anak didik yang bermasalah itu sangat diperlukan. Diperlukan keterbukaan dan juga kerjasama antara orang tua dan juga pihak sekolah. Tidak sedikit orang tua yang masih tidak menerima jika anaknya ditegur ataupun diluruskan oleh pihak sekolah.

Kebanyakan pertemuan antara orang tua dan pihak sekolah itu terjadi hanya pada saat pertama memasukan anak ke sekolah, saat mengambil hasil ujian, dan juga pada saat serah terima kembali siswa kepada orang tuanya. Jika dihitung selama menempuh pendidikan di sekolah, orang tua siswa bertemu dengan pihak sekolah hanya terjadi 2 kali setahun atau 6 kali selama menempuh pendidikan selama tiga tahun di jenjang SMP. Pertemuan yang sangat-sangat kurang, akibatnya sering terjadi kesalahpahaman dalam pola mendidik siswa.

Untuk memperbaiki hal itu, maka pihak sekolah wajib merancang sebuah agenda kegiatan yang harus lebih melibatkan keluarga atau wali murid dalam pembelajaran. Tidak hanya setahun dua kali, orang tua siswa bisa hadir ke sekolah kapan saja, baik saat terjadi permasalahan ataupun tidak. Komunikasi yang terjalin ini diharapkan mampu meminimalisir permasalahan dari siswa. Banyak kenakalan yang ditimbulkan oleh peserta didik, hanya untuk menarik perhatian dari orang tua ataupun pihak sekolah.

Tak jarang banyak orang tua yang menyerahkan anaknya untuk di didik oleh guru-guru di sekolahnya begitu saja, tanpa memberikan perhatian khusus tentang bagaimana perkembangan pendidikannya, bagaimana sikapnya, bagaimana nilai-nilainya dan lain sebagainya. Bahkan, untuk berkomunikasi di rumah tentang pembelajaran di sekolahnya, apakah yang sudah didapatkan selama seharian, ataupun adakah pekerjaan rumah yang harus dikerjakan nyaris jarang bahkan tidak pernah ditanyakan. Mungkin saja ada sebagian sekolah yang sudah menerapkan buku penghubung antara orang tua dan sekolah, namun kebanyakan tidak efektif dilakukan, dan pada akhirnya komunikasi melalui buku tersebut tidak berjalan baik.

Masyarakat juga harus terlibat dalam mendidik para generasi muda, khususnya para siswa. Masyarakat harus mampu memberikan kontribusi dan juga perhatian kepada para peserta didik, diantaranya adalah menegur ataupun meluruskan hal-hal yang tidak wajar yang dilakukan oleh para peserta didik di lingkungan masyarakat. Masyarakat diharapkan tidak mengabaikan akan semua hal yang berkaitan dengan pendidikan generasi penerus bangsa. Tentunya tidak satupun dari anggota masyarakat yang mau generasi mudanya rusak. Untuk itu, diperlukan peranan masyarakat untuk mengawasinya, dan melaporkannya ke pihak sekolah ataupun keluarga bilamana diperlukan.

Salah satu peranan masyarakat adalah dengan berupaya memberikan lingkungan yang baik untuk para generasi penerus bangsa ini. Tidak membiarkan jika para siswa dengan menggunakan seragam kumpul-kumpul dan melaksanakan aktifitas yang kurang baik seperti merokok ataupun perkumpulan yang meresahkan masyarakat.

Sinergitas dan kebersamaan pandangan antara keluarga, sekolah dan masyarakat dalam pendidikan akan mampu melejitkan prestasi-prestasi dari para siswa. Sejalannya niat dari ketiga pilar ini sangat amat dibutuhkan untuk memperbaiki kondisi dan mengubah keadaan bangsa yang sudah telanjur rusak akibat modernitas tanpa batas.

Perlu kesadaran dari kita semua, bahwa kemajuan sebuah negeri itu tidak akan terlepas dari peranan ketiga pilar yang menjadi ujung tombak dalam pembentukan generasi hebat di masa yang akan datang. Sekolah, keluarga dan juga masyarakat sekitar.***

Untuk Anda
Terbaru