banner

Adu Cerdik Dua Pelatih Berisik di Final Liga Europa

darikita 18 Mei 2016
ISTIMEWA SALING SERANG: Pelatih Sevilla Unai Emery dan Manajer Liverpool Juergen Klopp bakal memerlihatkan kemampuan mereka dalam pertandingan final Liga Europa, Rabu (18/5)
vertical banner

darikita.com, Juergen Klopp dan Unai Emery tidak hanya beradu taktik ketika tim besutan masing-masing, yakni Liverpool dan Sevilla, bertarung di final Europa League Kamis dini hari (19/5). Mereka juga akan memertontonkan siapa pelatih yang lebih berisik di tepi lapangan St Jakob Park, Basel.

Ya, Klopp sudah terkenal sebagai pelatih yang tak pernah bisa duduk diam di bench pemain kala tim asuhannya bertanding. Dia berteriak, memotivasi, maupun berkonfrontasi dengan pelatih atau ofisial lawan. Selalu ada yang dia lakukan seperti seorang anak hiperaktif yang habis makan cokelat.

Bagaimana mungkin pemainnya tidak bermain dengan penuh semangat untuk mempraktikkan gegenpressing kalau melihat sang pelatih di sisi lapangan lebih heboh? Bahkan, saat berselebrasi gol, terkadang dia malah lebih heboh ketimbang fans garis keras.

Juga, dia bertemu dengan lawan yang sepadan. Bukan hanya soal adu taktik, tapi juga kadar berisik di tepi lapangan. Adalah hal biasa kalau pelatih memberikan motivasi di ruang ganti pada awal pertandingan atau jeda. Nah, Emery bakal melakukannya selama 90 menit atau lebih.

Saat kickoff dimulai, para pemain Sevilla berlarian di lapangan. Di tepi lapangan, Emery juga tak berhenti berjalan lalu-lalang. Tangannya tak pernah diam. Dia kerap berteriak seperti orang sinting yang kehabisan obat. Bahkan, ofisial Sevilla tidak kaget lagi kalau tiba-tiba bahunya jadi sasaran dorongan atau pukulan Emery.

Tentu akan sangat menarik melihat dua pelatih yang penuh semangat dan berisik itu berada di sisi yang bersebelahan. Apalagi dalam sebuah pertandingan dengan tensi serta tekanan yang setinggi final Europa League. Kalau mengingat kiprah dalam dua final sebelumnya, sepertinya Emery sudah fasih.

Secara usia, keduanya masih sama-sama muda. Emery berusia 44 tahun dan Klopp empat tahun lebih tua. Ada beberapa kesamaan taktik yang mereka terapkan. Mereka suka memakai pressing sebagai senjata utama, meski gaya pressing-nya tidak persis.

Dalam analisis Outside of the Boot, Emery punya formasi andalan 4-2-3-1. Namun, formasi itu punya fluiditas atau kelenturan bertransformasi menjadi 4-3-3 saat dibutuhkan. Juga, mantan pelatih Valencia tersebut sangat piawai dalam urusan merotasi pemain.

Emery menginstruksi anak asuhnya untuk melakukan tekanan sampai sepertiga wilayah lawan. Ketika kiper lawan menguasai bola, dua winger akan mendekatinya. Empat pemain Sevilla yang turut mengepung sepertiga wilayah lawan ikut menekan ke area itu. Lalu, akan terlihat huruf H dari garis imajiner yang dibentuk enam pemain Sevilla tersebut.

Sevilla juga membangun garis pertahanan tinggi ketika lawan akan menyerang. Empat bek akan berdiri sejajar di belakang. Lalu, tiga sampai empat pemain bakal mendekati pemain lawan yang memegang bola.

Serangan balik cepat juga menjadi konsep serangan Sevilla. Emery menyukai pemain-pemain dengan kecepatan lari yang yang luar biasa. Musim ini ada Yevhen Konoplyanka atau Ever Banega.

Kekhasan lain adalah winger atau wingback yang punya kemampuan penetrasi ke wilayah penalti. Saat era Emery di Valencia (2006-2012), pemain seperti David Silva atau Jordi Alba lahir dari tangan dinginnya.

Lalu, ketika Emery pindah ke Sevilla, nama-nama seperti Alberto Moreno dan Jesus Navas adalah sebagian bukti kesuksesannya. Bahkan, di final nanti, Emery menghadapi mantan anak asuhnya yang kini berkostum Liverpool, Moreno.

Untuk Anda
Terbaru