Dalam wawancara dengan UEFA kemarin, Emery menyebut berjumpa Liverpool di final sebagai satu tantangan besar. Melongok sejarah panjang Liverpool, Sevilla jelas lebih inferior ketimbang kolektor lima gelar Liga Champions tersebut.
’’Ketika melawan tim besar seperti Liverpool, motivasi bermain kami akan berlipat. Kemenangan akan membawa kami menuju pentas Eropa musim mendatang,” ucap pria yang memulai karir kepelatihan di usia 33 tahun itu.
Emery tak terlalu peduli jika disebut rakus gelar. Khususnya Europa League. Sudah dua musim beruntun Jose Antonio Reyes dkk dia antarkan untuk meraih trofi tersebut. ’’Saya selalu menikmati momen bermain di Europa League, meski tensi kejuaraan ini sangat tinggi. Suporter memberikan kami semangat berlipat daripada laga biasanya,’’ ucap pelatih yang mengawali karir di Lorca Deportiva tersebut.
Sementara itu, tactician Liverpool Juergen Klopp berhasil menyuntikkan motivasi luar biasa setiap kali Jordan Henderson dkk bermain. Menggantikan Brendan Rodgers pada 8 Oktober lalu, Klopp menyulap Liverpool sebagai tim baru. Bukan lagi tim flamboyan ala Rodgers. Melainkan tim pekerja keras ala Klopp.
Klopp punya formasi favorit 4-2-3-1, 4-4-2, atau 4-4-1-1. Di tangan Klopp, banyak hal yang berubah dari wajah Liverpool yang semula mudah menyerah ketika kehilangan bola.
Gelandang James Milner memiliki posisi penting dalam skema permainan Liverpool musim ini. Pemain 30 tahun itu ulet dalam bertahan, juga kreatif dalam menyerang.
Menurut analisis Outside of the Boot, Klopp juga selalu menekankan kepada anak asuhnya untuk langsung merebut bola dan menggiring lawan ke pinggir jika kehilangan bola. Dengan memepet lawan di pinggir lapangan, ruang gerak yang tercipta akan sempit.
Umpan pendek menjadi favorit Klopp. Di Liverpool musim ini, rata-rata umpan pendek mencapai 460 kali atau 84 persen dari keseluruhan umpan sepanjang laga. Sedangkan long ball per laga maksimal hanya 63 kali atau 12 persen.
Kepada situs UEFA kemarin, Klopp mengatakan bahwa skuadnya sangat menikmati perjalanan ke final. Kloppage time atau gol-gol yang datang pada menit-menit krusial di bawah Klopp sering terjadi. Lihat bagaimana Liverpool menjungkalkan Borussia Dortmund dalam second leg perempat final berkat kemenangan heroik 4-3 di Anfield lalu.












