”Pengguna tanah itu harus tahu luasnya berapa, berapa bidangnya, siapa pemilik lahannya. Supaya tepat dalam menetapkan uang ganti ruginya. Dua sisi mata uang itu harus ada, penguasaan fisik dan suratnya, jadi nanti bayar ganti ruginya itu gampang,” paparnya.
Sri menambahkan, banyak proyek infrastruktur mengabaikan persoalan ini membuat masalah ganti rugi lahan berlarut-larut. Sehingga, proses verifikasi surat-surat kepemilikan tanah butuh waktu. Sebab, negoisasi di lapangan juga bergantung pada kelengkapan administrasi.
“Ada delapan wilayah DKI dan Jabar yang terkena proyek ini, cepat dan lambatnya pembebasan lahan ini bergantung pada tim yang solid, KCIC, BPN daerah, provinsi dan kabupaten/kota,” ungkap Sri.
Sementara itu, pembiayaan pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung diprediksi naik. Hal ini terlihat dari nilai kontrak Enginering, Procurement, Construction (EPC) yang baru saja ditandatangani oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) bersama High Speed Rail Contractor Consorsium (HSRCC) baru-baru ini.
Nilai kontrak konstruksi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung tersebut mencapai USD 4,7 miliar. Jumlah ini meningkat dari perkiraan sebelumnya sebezar USD 4,3 miliar.
Direktur Utama PT KCIC Hanggoro Budi Wiryawan menuturkan, nilai tersebut sudah mengikuti perubahan design untuk proyek sepanjang 142,3 kilometer (km) tersebut. ”Ya, ini kan dari hasil penyusunan detail design yang lebih akurat. Sehingga kita ketemu dengan angka-angka yang tadi disebutkan,” ujarnya ditemui usai acara penandatanganan kontrak.
Dengan membengkaknya nilai kontrak ini, diperkirakan nilai total proyek kereta cepat Jakarta-bandung pun akan terkerek. Sebelumnya, proyek ini ditaksir akan menelan biaya hingga USD 5,1 miliar. Sayang, Hanggoro masih enggan menanggapi hal tersebut. ”Masih dibahas,” katanya.
Meski begitu, Hanggoro menyebut, penandatangan kontrak EPC ini akan jadi salah satu kunci untuk bisa segera mewujudkan kerja sama dengan China Development Bank (CDB). Pasalnya, kontrak tersebut merupakan salah satu syarat agar pendanaan segera cair. Seperti diketahui, pada proyek ini, 75 persen pendanaan akan didanai oleh CDB.













