banner

Kereta Cepat Masih Tersendat

darikita 7 April 2017
MANDEK: Presiden Joko Widodo saat melakukan tanda tangan sebagai bentuk simbolis dibukanya protyek kereta cepat Jakarta-Bandung, beberapa waktu lalu.
vertical banner

Karenanya, usai penandatanganan kontrak ini, KCIC akan terus melakukan komunikasi dengan CDB agar pinjaman bisa segera cair. Agenda CDB selama dua minggu di Jakarta akan dimanfaatkan sebaik-baiknya. ”Kita akan menyelesaikan pembahasan-pembahasan dengan CDB. Kita akan all out,” tuturnya.

Proses pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung sendiri sudah dimulai sepanjang 5 km di Walini, Bandung. Pengerjaannya dilakukan oleh PT Wika. Rencananya, dalam waktu dekat pembanguan dilanjutkan sepanjang 26 km. ”Tapi tidak nyambung,” ujarnya.

Dalam proses pengerjaannya, kata dia, akan menggunakan equity dari pemegang saham terlebih dahulu. Diakuinya, sudah ada  tahap/tarikan kedua pada pemegang saham setelah sebelumnya dilakukan urunan yang sama untuk pembelian lahan. Namun, dia menolak untuk menyebut besaran yang tersedia.

Selaian masalah dana, proses pembangunan juga masih terganjal pembebasan lahan. Ada beberapa pembelian lahan di Karawang yang belum menemui kata sepakat. Kendati begitu, Hanggoro optimis pengerjaan proyek kereta cepat pertama di Indonesia ini bisa sesuai terget pada 2019. “Kami meminta koantraktor untuk menyiapkan strategi rencana kerjanya. Ya all out lah. Kalau perlu tiga shift kerja dalam satu hari,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan dari HSRCC Xiao Songxin mengungkapkan, pihaknya berkomitmen untuk bisa bekerja sama dengan baik sehinga pengerjaan proyek berjalan sesuai rencana. Terlebih, proyek ini merupakan proyek bersejarah bagi kedua negara.

”Dengan kerjasama yang baik, kami yakin bisa sesuai target. Kami siap ikuti semua desain yang sudah dibuat dan standart terbaik untuk kereta cepat,” tuturnya.

HSRCC sendiri merupakan gabungan dari 7 konyraktor. Konsorsium kontraktor tersebut yakni China Railway International, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), China Rail Way Group Limited, Sinohydro Corporation Limited, CRCC Wingdao Sifang Co, Ltd, China Railway Signal & Communication Corporation dan The Third Railway Survey Design Institute Group Corporation. WIKA memegang porsi 30 persen dari nilai kontrak senilai USD 4,7 miliar tersebut. (yan/mia/rie)

Untuk Anda
Terbaru