Para petani di Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Minggu 27 November 2016 memanfaatkan intensitas curah hujan dengan mempercepat masa tanam. Mereka gerak cepat menanam bibit padi, setelah dua pekan menggarap lahan persawahannya.
“Kami harus cepat kembali menanam bibit padi dimusim penghujan ini. Karena bila terlambat tidak menutup kemungkinan dua hingga tiga bulan kedepan dikhawatirkan memasuki musim kemarau,” kata petani Wangunreha, Taryawan, Minggu 27 November 2016.
Taryawan mengakui tingginya curah hujan tidak hanya sangat membantu mempercepat masa tanam, tapi mempersingkat masa panen. Musim tanam kali ini, kata dia, di lahan pertanian di sejumlah penjuru desa sudah keempat kali dalam setahun terakhir ini. “Bahkan hasil panen lalu relatif cukup bagus dibandingkan awal tahun lalu. Sehingga peluang guyuran hujan dimanfaatkan petani secara maksimal,” katanya.
Berbeda dengan para petani di Kecamatan Nyalindung, justru petani di Waluran, Jampang Tengah, Cidolog, dan Sagaranten mengaku memasuki musim penghujan hasil jerih payahnya malah merugi. Guyuran curah hujan tidak hanya menyebabkan sebagian lahan pertaniannya malah terendam banjir. Tapi tanaman padi di sejumlah desa di Kecamatan Cidolog malah habis bersih disapu banjir bandang.
“Kalaupun masih tersisa sebagian besar tanaman padi malah membusuk karena terendam banjir bandang. Akibatnya, petani merugi hingga mencapai juta rupiah,” kata salah seorang petani Waluran, Sahiri.
Sahiri mengatakan hasil panen yang diperoleh hanya kisaran kurang dari 25-30 persen. Sebelumnya, hasil panan bisa mencapai 20 kuintal, kini hanya didapat kurang dari 8 kuintal setiap hektarnya. “Sebagian besar tanaman memamasuki musim panen malah terendam sehingga membusuk,” katanya.
Selain terendam banjir bandang, kata Sahiri, para petani mengalami kesulitan untuk menjemur. Kondisi ini sangat berdapak kualitas hasil pertanian menjadi merosot. “Padi yang diperoleh banyak mengandung air, karena sulit dijemur. Bahkan beberapa orang petani mengeluhkan karena terlambat menjemur kini butiran berubah menjadi kehitam-hitaman,” katanya.
Sekretaris Dinas Pertanian Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi, Ate Rahmat, mengatakan tingkat pertumbuhan tanaman padi di Kota Sukabumi relatif bagus jika dibandingkan daerah lain. Produksinya bisa mencapai 6,5 ton hingga 6,7 ton/hektare. “Musim tanam kali ini sedang bagus,”katanya.
Ate Rahmat mengatakan tingkat produksi perhektare dikali tingkat pertumbuhan dikali luas lahan sawah, tingkat produktivitas di Kota Sukabumi sekitar 24 ribu ton gabah kering panen. Perhitungan dari luasan lahan sawah di Kota Sukabumi yang kini hanya tersisa sekitar 1.480 hektare. “Tingkat pertumbuhannya sebanyak 2,4 masa tanam,” katanya.
Di Kota Sukabumi, kata Ate Rahmat, tidak mengenal istilah panen raya seiring serentaknya musim tanam dan musim panen. “Musim tanam, Kota Sukabumi lebuh dulu dibandingkan di daerah lain. Sehingga kegiatan musim tanam dan panen itu tidak serentak dilakukan para petani. Sehingga, di Kota Sukabumi itu tidak ada istilah panen raya padi. Musim tanam dan musim panenmalah silih bergantian,” katanya.***













