banner

Jangan Pernah Ragukan Rasa Nasionalisme Etnis Tionghoa

darikita 22 Februari 2016
Riyan Gustiyan/Bandung Ekspres KOMPAK: Perhimpunan Indonesia Tinghoa berfoto bersama usai acara diskusi di sebuah café di Bandung, Minggu (22/2).
vertical banner

darikita.com, Bangsa Indonesia yang masyarakatnya terdiri dari berbagai suku dan keragaman ras, sampai saat ini dinilai masih kurang mengedepankan hak-hak dalam berdemokrasi.

Penasehat Perhimpunan Indonesia Tinghoa Dr. Petrina Faustine, MM, Msc mengakui, diskriminasi dan marjinalisasi di Indonesia sebetulnya masih saja terjadi, khususnya ketika kaum minoritas bangsa ini sedang melaksanakan pesta demokrasi. ’’Saya masih melihat itu, walau sekarang sudah ada kemajuan pasca berakhirnya rezim Orde Baru,” jelas Petrina, kemarin.

Dia menilai, masyarakat Indonesia yang mengaku lebih nasionalis dan agamis selalu mendiskreditkan kaum minoritas seperti etnis Tionghoa untuk tampil dalam dunia politik. Padahal masyarakat sudah sama-sama tahu kinerja yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dalam memimpin.

Apa yang telah diberikan kepada Indonesia oleh etnis Tionghoa sudah tidak terhitung lagi, bahkan jangan pernah meragukan rasa nasionalisme etnis Tionghoa pada bangsa ini.

Dirinya mencontohkan kiprah masyarakat Tionghoa untuk rakyat Indonesia sebetulnya sangat banyak. Walaupun sampai saat ini justru sangat minim bentuk penghargaan dari pemerintah Indonesia.

Petrina mencontohkan, apa yang telah dilakukan oleh etnis tiohoa seperti yang dilakukan Prof. DR. Demim Shen sebetulnya luput dari perhatian. Padahal apa yang telah dilakukan beliau sudah mengharumkan nama bangsa ini di dunia kedokteran Internasional.

’’Banyak penelitian di bidang kedokteran yang telah beliau lakukan setelah dirinya mengenyam pendidikan kedokteran di luar negeri, bahkan di Indonesia, beliau mendirikan berbagai rumah sakit untuk masyarakat Indonesia,” terang dia.

Dia berpandangan, sekarang masih ada saja masyarakat tertentu yang masih menganggap etnis tersebut eksklusif, padahal tetap jadi bagian dari masyarakat Indonesia seperti suku Sunda, Jawa, Batak, dan lainnya.

’’Jadi tolong jangan marjinalisasi kami, seharusnya masyarakat yang sering melakukan itu mengerti dan mengetahui, apa yang telah diberikan oleh bangsa ini, bukan malah menyebar isu yang sensitif,” ujar dia.

Perempuan yang pernah menjadi pembantu rektor ITB ini menuturkan, melihat kenyataan ini, masyarakat Tionghoa di Indonesia dan Jawa Barat agar mau berbaur dengan masyarakat suku lainnya jangan tunjukan eksklusivitas, lakukukan kegiatan dan aksi sosial untuk membantu masyarakat yang dalam keadaan kesulitan dengan demikian isu negatif yang sering dihembuskan pihak-pihak tertentu dapat mencair dengan sendirinya.

’’Mari kita sama-sama membangun negeri ini agar sejahtera tanpa melihat suku ras dan golongan akan tetapi lihatlah kami sebagai bangsa Indonesia,” ucap Petrina

Di tempat sama, Wakil Ketua Pinti Jabar Tju Tju Wijaya berpendapat, berbagai kemajuan dalam menerimaan budaya Tionghoa telah mendapatkan tempat tersendiri oleh masyarakat Indonesia.

Dia mengakui, jika budaya Tionghoa sudah jadi bagian dari khasanah budaya Indonesia. Sebab dari berbagai pertunjukan barongsai banyak masyarakat etnis lain menyukainya, bahkan tidak sedikit yang terlibat.

’’Kita bisa melihat setiap perayaan tahun baru Tiongkok di berbagai pelosok banyak dari masyarakat etnis lain ikut serta,” pungkas sosok yang juga seorang seniman ini. (yan/vil)

Untuk Anda
Terbaru